Minggu, satu - satunya hariku dalam sepekan yang bersih dari berbagai macam list aktivitas sekolah dan juga les tambahan. Jadi, hari ini aku bebas melakukan hal - hal yang aku suka. Biasanya aku bisa tidur seharian, bersepeda mengelilingi komplek perumahan, menuangkan imajinasiku dalam buku karanganku, Hunting novel baru di Toko buku, atau hanya sekedar bermalas - malasan di rumah sambil menunggu abang mie ayam lewat dari depan rumah. Memang tak ada yang cukup menarik dari semuahal yang kulakukan, namun entah mengapa aku sangat menikmatinya, menikmatinya sendirian.
Dari banyaknya list ritual minggu yang telah aku rencanakan, hari ini aku memutuskan untuk hunting novel baru, karena hari ini bertepatan novel yang aku tunggu - tunggu lagi ready on stock dan kabarnya penulisnya hadir juga di sana untuk ngasih tanda tangan plus foto dengan penulis. Aku tak ingin menyia - nyiakan kesempatan ini, kapan lagi kan, dapat tanda tangan plus foto, apalagi dengan penulis favoritnya. Sungguh kesempatan yang harus dia manfaatkan sebaik mungkin.
Aku rela bangun pagi - pagi di minggu yang penuh dengan rasa katuk ini. Aku mencoba membelalakkan mataku untuk mengusir katuk yang berusaha membuat kedua mataku tertutup. Aku segera mandi untuk membersihkan tubuhku dan bersiap - siap untuk pergi ke Toko buku
Toko buku yang menjadi tujuanku terletak cukup jauh dari rumah, jadi butuh angkutan umum untuk membawaku untuk sampai di sana. Aku segera berlari keluar dari komplek perumahan untuk menunggu angkutan umum, karena mustahil ada angkutan yang akan lewat bila aku hanya menunggu di depan rumah saja.
Setelah yang ditunggu tiba, angkutan itupun membawaku hingga tiba di Toko buku.
Aku berlari kecil ke arah Toko buku, dan benar saja penulis favoritku ada di sana, ternyata juga telah banyak orang yang datang lebih dulu dariku.
Syukur saja tempat ini menerapkan budaya antre, kalau tidak, bisa dipastikan Toko buku ini bisa berubah jadi Toko baju bekas uang urakan dan sesak.
Aku segera mencari buku yang ingin aku beli, terlihat novel - novel baru berjejer di rak buku dengan manisnya. Mataku berbinar - binar ingin segera membawa pulang semua serial buku yang ada dihadapanku sekarang. Namun kenyataan tentang isi kantungku yang kritis membuatku mengurungkan niat yang begitu menggiurkan itu. Akhirnya aku hanya memilih satu buku yang harganya dapat dijangkau oleh isi kantungku. Sama seperti pembeli lainnya, aku meminta tanda tangan penulis novel itu dan meminta untuk berfoto bersama. Setelahnya, aku memuruskan untuk pulang. Aku menunggu angkutan umum yang akan membawaku pulang ke rumah.
Sudah setengah jam menunggu, namun nihil.
"Sepertinya weekend membuat supir angkutan juga ikut - ikutan liburan," pikirku dalam hati.
Suara gemuruh terdengar sesekali, aku melihat ke arah langit dan saat ini langit telah ditutupi awan - awan gelap, pertanda sebentar lagi langit akan meluapkan rintikan - rintikan yang dia tahan di sela - sela awan gelap itu.
Aku memperhatikan sekitar untuk mencari tempat yang cocok untuk dijadikan tempat berteduh, dan pandanganku tertuju pada Kafetarian yang letaknya sekitar 20 langkah dari tempatku berdiri saat ini.
Aku memasuki kafe itu. Terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang masing- masing duduk berpasangan. Meja di dekat jendela kaca, yang letaknya di sudut ruangan menjadi pilihanku. Aku memesan secangkir cappuccino dan sepotong roti bakar.
Aku mengedarkan pandangan ke luar. Langit semakin gelap saja dan hujan tak hanya berupa rintik - rintik kecil lagi, tapi telah berubah jadi hujan yang sangat deras.
Angin juga tampak mengencang, terlihat ranting - ranting pepohonan bergerak seakan ingin diterbangkan.
Sepertinya akan jadi hujan yang panjang.
Dari seberang jalan, terlihat seorang pria sedang berlari, dia tampak mempercepat larinya agar tidak terlalu basah diguyur oleh air hujan yang pasti sangat dingin.
Dia semakin mendekat dan arah langkahnya menuju tempatku saat ini dan benar saja dia memasuki Kafe untuk menepi dari hujan yang pasti akan dengan gencarnya membasahi seluruh tubuhnya jika dia tetap berdiam diri di luar.
Aku masih tetap mengikuti irama gerakannya, dia memilih meja yang hanya berselang dua meja dariku dengan posisi menghadap ke arahku.
Wajahnya terlihat familiar, jadi aku terus memandanginya yang saat ini sedang membaca buku daftar menu.
Tiba - tiba pria berkacamata itu menatap balik ke arahku. Mataku membelalak karena ketahuan sedang memperhatikannya sejak tadi. Dan benar saja, aku memang pernah melihatnya sebelumnya, Pria saxophone penghuni ruang musik.
Dan sekali lagi, aku terlihat memalukan di hadapannya.
Please vote and give your comment about this one guys :):)
KAMU SEDANG MEMBACA
Nada
Ficção AdolescenteHighest rank in Sendu tagged #2 (06/06/2018) Cerita bukan hanya tentang akhir yang bahagia atau akhir yang menyedihkan, tapi tentang bagaimana alur yang akan membawa sang tokoh utama melangkah untuk mencapai endingnya. Cerita ini tentang suatu perja...
