1 . K - Emily

9.5K 691 31
                                        

Aku tertawa kencang melihat Jason yang berlari menyusul sebelum akhirnya berhenti. Aku menginjak pedal gas semakin dalam dan melesat ke jalan keluar bandara. Bayang Jason makin mengecil dan menghilang setelah aku melewati tikungan.

Apakah aku jahat?

Yang benar saja. Aku merasa puas setelah ia membanggakan egonya dan juga kejantanannya. Tidak akan kubiarkan dia meremehkanku lagi.

"Terima itu, keparat!" Aku berteriak dan tertawa makin kencang. Aku mengebut untuk merayakan kebebasanku karena akhirnya aku terbebas dari ayahku selama lebih dari dua hari. Aku telah menantikan hari ini, hari di mana ayahku pergi ke luar kota untuk waktu yang lama dan berhenti mengatur hidupku. Aku memang menghargainya sebagai ayahku, yang protektif, gila aturan, dan menyayangiku; tapi terkadang, aku butuh rehat dari semua kegilaan itu.

Dan yang paling penting adalah karena aku punya satu skor untukku, jadi kita bisa menyebut posisiku dan Jason seri setelah ia menolak keperawananku Jum'at lalu.

Brengsek, aku masih ingat Jason yang membanggakan diri, betapa dia bisa melakukan sesuatu dan mengatakan itu seperti sebuah janji. Tapi bukan itu yang ia janjikan pada perawan. Sepertiku.

Ponselku berbunyi kencang tanda sebuah panggilan masuk. Aku menyeringai dan menduga bahwa itu adalah Jason. Dia pasti gusar setengah mati karena aku meninggalkannya sendirian di bandara. Bukan tanpa alasan aku benar-benar menunggu mobil Paman Mike dan Ryan melaju lebih dulu. Jadi bisa dipastikan, Jason mau tidak mau menggunakan taksi. Kita bisa berharap ia membawa dompetnya.

Aku mengangkat panggilan itu dan tertawa. "Ada apa, anak manja?"

"Apa?" kata orang di seberang sana. "Aku belum sempat mendapatkan tempat dudukku di pesawat dan kau sudah menyebut ayahmu anak manja?"

Aku mengernyit dan menjauhkan ponsel dari telinga. Oh, brengsek, itu ayahku. Astaga, kenapa ayahku menelepon?! Kami baru saja berpisah kurang dari setengah jam yang lalu! "Oh, hai, Ayah. Kupikir itu... Hilda."

"Apakah aku perlu merasa khawatir sekarang? Aku tidak benar-benar bisa meninggalkanmu selama itu."

"Ayah!" gerutuku. "Kita baru berpisah dua puluh menit yang lalu. Aku baru saja keluar dari bandara! Nikmati bulan madumu, oke?"

"Kau yakin kau baik-baik saja? Aku takut kau meledakkan rumah."

"Yah, itu bagus, bukan? Kita bisa beli rumah baru."

"Emmy!" bentak ayahku.

Aku mendengus. "Tidak, Ayah. Sumpah, aku akan baik-baik saja."

"Kalau―"

"Tidak," potongku. "Aku tidak akan kesepian." Aku cukup tahu apa yang ada di otak ayahku setelah lebih dari dua puluh tahun menjadi putrinya. "Aku bisa menginap di rumah Hilda, jika kesepian. Dia mungkin akan menemaniku di rumah, dia akan menginap. Aku punya Diana yang selalu ada di kota. Ya, kan? Aku bisa ke sana. Ada Paman Mike dan Mira. Sumpah, semuanya akan baik-baik saja selama kau bersama Callie di Bali. Jangan khawatirkan aku."

"Mana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu!" gerutu ayahku.

Aku menghela napas. Pembicaraan ini tak akan pernah berakhir. Jika sebelum lepas landas ayahku melakukan ini, aku bisa menduga apa yang terjadi selama dua minggu ke depan. Dia pasti meneleponku setiap jam―seperti yang ia lakukan saat pertama kali ia melepasku ke asrama. Untungnya, aku punya alasan akademis yang membuatku mengabaikan teleponnya. Kuharap Callie punya pengalihan perhatian yang cukup bagus untuk ayahku.

Itu sebabnya aku ikut serta memilih bikini untuknya.

"Aku dua puluh tahun, Ayah," tegurku.

"Aku tahu."

FIGHT FORCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang