Chapter 10

1.1K 90 8
                                    

Hi, everyone!

Ini dia chapter terakhirnya.. Dari komentar yang pernah masuk soal extra part, aku sepakat buat siapin 1 extra partnya sebentar lagi. Jadi, tunggu saja, ya! Segera.

Baca ini dulu, yes!

Setelah Hugo sembuh, sekarang ada lagi yang baru. Siapa? ^_^

Happy reading!

-----------------------------------------------------------------

"Yups," Lucy menjentikkan jarinya, "setahuku Lily belum pernah dinetralkan sementara kekuatan sihirnya. Yang aku tahu dari Al, Lily belum begitu menunjukkan kekuatan sihirnya itu. Hanya sihir-sihir kecil. Ya, mungkin bisalah membantumu melakukan 'sesuatu' untuk rumahmu ini," ujarnya pada Rose menjelaskan saran menunjuk Lily sebagai pengeksekusi rencana gila mereka. Lucy mengangguk pada ibunya siap pulang, "daripada kau diusir, Rosie," tukasnya sebelum melambaikan tangan berpamitan.

"Semua kembali padamu, Rosie. Aku hanya mendoakan semoga keberuntungan berpihak padamu. Bye, aku harus pulang. Vic sudah berteriak-teriak, bye!"

Dominique pun akhirnya ikut pergi. Suara-suara mereka membicara tentang judul-judul drama baru masih terdengar sebelum digantikan suara letupan perapian. Tinggallah keluarga George dan Harry di sana. Para anak masih sibuk bermain. Namun, suara Ginny memanggil anak-anaknya membuat pertanda rumah sebentar lagi akan semakin sepi. Harry dan Ginny siap mengajak anak-anaknya pulang.

"Hugo, aku pulang dulu, ya! Besok kita lanjut lagi, aku akan minta Mummy untuk main ke sini lagi," kata Lily. Rose mendengarnya seksama.

"Iya, Lils. Besok jangan lupa, ya, ajarkan aku gerakan memukulnya. Seperti game tadi."

Rose melihat Lily. Badan Lily kecil. Rasanya tidak mungkin jika Lily bisa meledakkan rumahnya seperti Hugo waktu itu. Ia sendiri melihat jika Lily hanya jago berkelahi. Kekuatan sihirnya tak pernah muncul sebesar kekuatan adiknya. "Mungkin Lucy dan Domie benar, aku bisa meminta Lily melakukan sesuatu agar kami tak diusir dari rumah ini," batin Rose.

***

Mungkin karena nama juga adalah doa, Lily memiliki sebagian kebiasaan dari pemilik nama tengahnya di dalam dirinya. Luna, dari seorang bernama sama, sahabat baik dari kedua orang tuanya, yang memang terkenal memiliki kebiasaan yang aneh-aneh. Salah satunya adalah tidur berjalan. Kali ini Lily seperti itu.

Sebenarnya, beberapa jam yang lalu, tepat di tengah malam, pesta kejutan untuk kakaknya, James, yang berulang tahun ke sebelas membuatnya susah tidur. Ayah, ibu, dan kakak keduanya rela tidak tidur untuk menggerebek kamar James tepat pukul dua belas malam. Alhasil, Lily ikut-ikut saja. Tidak lama-lama, hanya sampai pukul satu kurang sepuluh menit, Harry meminta anak-anaknya untuk kembali tidur karena ke esokan paginya mereka harus kembali ke sekolah.

Kepala Lily penuh dengan bayang-bayang rasa iri pada kakaknya. Kenapa? Tahun ini James berangkat ke Hogwarts. Sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh Lily. Tapi rasanya, Lily harus cukup bersabar, waktunya masih lama.

"Beberapa hari sebelum kau berangkat saja kita beli perlengkapan Hogwartsmu, Jamie," kata Harry ketika membaca surat Hogwarts yang diterima oleh James malam ini.

Betapa bahagianya James mendengar sang ayah siap untuk membelikan semua perlengkapan sekolahnya beberapa bulan lagi. "Bisakah aku meminta tongkatku lebih dulu, Dad?" rayu James.

"Tidak, aku takut kau menggunakannya aneh-aneh sebelum kau menguasai sihir betul-betul. Kita beli paling cepat satu bulan sebelum kau berangkat." Jawab Harry memberikan opsi paling tepat.

Home? (Romione - HP Fanfic)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang