Hi, everyone!
Anne balik lagi! Yuk dilanjut chapter ke 2nya! Udah pada nungguin nggak sih?? Hehehe..
Langsung aja, ya! Happy reading!
==============================
Hermione memeluk tubuh Rose sebagaimana ia menunjukkan rasa kekhawatirannya pada keadaan putrinya itu. Rose sadar setelah hampir setengah jam ia pingsan. Ekspresinya datar-datar saja sambil melihat ke arah sang adik, Hugo, dari atas ranjang rawatnya. Sebuah pandangan tak percaya."Si pemalas dan tukang makan itu ternyata kuat juga," batin Rose.
"Bagaimana kejadian yang sebenarnya, Rosie? Apa benar Hugo melakukannya sendiri?"
Lily memilih duduk di sisi Ginny sambil melihat Rose tajam. Tidak hanya dirinya, ibunya bahkan bibinya ikut melakukan yang sama. Berharap jika Rose mau menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada mereka semua.
"Rosie—" panggil Hermione lantas mengangguk.
"Aku dan Hugo ada di ruang tamu. Aku sedang membaca buku saat Hugo bermain dengan bola basket yang dibelikan Uncle Percy. Yang aku ingat, aku mendengar Hugo memanggilku beberapa menit sebelum rumah kita meledak." Cerita Rose masih memeluk tubuh Hermione erat.
Rambut Rose kotor karena serpihan tembok, kaca dan debu-debu sisa ledakan. "Tapi kau tak apa-apa, Rosie? Ada yang sakit?" tanya Ginny.
Rose menggeleng, ia menunjukkan lengan kanannya saja yang terbalut perban. "Aku sempat keluar sebelum Hugo berteriak—"
"Berteriak?"
Ron bersama seorang healer masuk untuk kembali memeriksa Hugo. Ia mempersilakan healer wanita itu melihat keadaan Hugo. Sementara ia ikut bergabung bersama Hermione, Ginny, serta Rose dan Lily.
"Hugo berteriak karena bolanya pecah, Dad. Aku tak tahu kenapa. Aku marah karena dia hanya bisa kesal dan menyalahkan aku yang tidak mau membantunya. Aku bisa apa dengan bola yang sudah hancur? Itu salahnya sendiri karena bermain bola di dalam rumah." Rose kesal mengingat Hugo selalu emosi setiap keinginannya tak mau dituruti.
"Karena kesal, aku berniat untuk keluar rumah mencari Mummy yang sedang ke rumah Mrs. Gual. Waktu aku raih gagang pintu, Hugo berteriak memanggilku dan.. meledak."
"BOOM?" Lily mendelik tak percaya.
"BOOM!" pekik Rose.
Beberapa orang yang berada di ruangan menoleh serempak pada seseorang yang datang dari arah pintu. Harry masuk terlebih dahulu kemudian diikuti oleh dua putranya. James dan Al langsung berhambur ke sisi Hugo. Sembari melihat Healer yang memeriksanya beraksi mengayun-ayunkan tongkat ke seluruh badan Hugo yang terbaring tak sadarkan diri.
"Ron—" panggil Harry.
Ron menyalami tangan Harry sebelum mereka kembali duduk. Harry melihat ke arah Hugo dengan pandangan kasihan. "Aku sudah mengurus untuk rumah kalian. Beberapa penyihir dan pihak Kementerian sudah mengetahuinya. Dan.. pihak Kementerian akan ikut memberi keluarga kalian tunjangan keselamatan pegawai, atas nama kau dan Hermione. Menurut mereka kurang lebih satu minggu lagi bisa kalian terima." Kata Harry.
"Ow, thanks, Harry. Lalu di sana sekarang bagaimana?" tanya Hermione.
"Sudah ada tim yang mengatur batas aman di rumah kalian. Mereka bilang tidak bisa melakukan pembersihan dulu sebelum kau atau pun Ron sebagai pemilik rumah memberikan ijin. Karena masih ada barang-barang kalian juga, kan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Home? (Romione - HP Fanfic)
FanfictionHugo melakukan sesuatu diluar dugaan. Rumah keluarganya hancur hingga tak dapat ditempati lagi. Alhasil, Ron dan Hermione harus rela mengatur segalanya demi mendapatkan rumah baru. Namun, sebelum kembali memiliki rumah baru, Harry dan Ginny siap mem...