Happy reading 😊
Kejadian tadi siang membuat Arra semakin tertekan,ia tetap menangis dan mengurung diri dikamar, sampai ia lupa bahwa matahari sudah mulai terbenam menunjukkan malam,ia sangat bersyukur jika saja ibu tirinya Nova tidak mencegah Nando pasti ia akan semakin membuat Arra tersakiti,tetapi hal itu membuat Arra semakin benci kepada Nova ,karena dengan hal yang ia lihat tadi ia menyimpulkan bahwa Nova seperti rem bagi Nando papanya
Suara ketukan pintu terdengar lagi, dan lagi-lagi ia menghiraukan, ia benci dengan hal tadi , ia tau pasti sarah sedih melihat dirinya seperti ini merenung, kelaparan, dan larut dalam kesedihan seorang diri.
"Sayang,ayo turun kita makan, kamu belum makan kan sejak siang"ucap Nova ibu tiri Arra
Tidak ada jawaban dari Arra, ia mengaku bahwa ibu tirinya ini sangat baik tapi ia mengecap Nova sebagai wanita pelacur yang mendekati pria yang sudah ber-istri, kebaikannya sudah tertutup dengan kelakuan buruknya itu.
Akhirnya ia menyerah, suara ketukan pintu itu sangat mengganggu telinga, ia pun membuka pintu dengan wajah yang sendu juga marah
"Gue engga laper"ketus Arra
"Tapp----"brakkk sebelum Nova menyelesaikan kalimatnya Arra langsung menutup pintu dengan kuat
"Sayang,kamu engga apa-apa kan"ucap Nando dengan nada khawatir ,Nova hanya menggeleng
"Kamu tidak perlu repot-repot buat ajakin anak manja seperti dia, kalau tidak mau membukakan pintu langsung pergi saja ,kamu terlalu baik buat dia, tapi kebaikan kamu selalu di injek sama dia, tiap hari ngelunjak terus, melawan, menangis saja kerjaannya, dia pikir dia terlalu penting buat kita, mamanya sudah tiada dan karena perilakunya seperti ini aku jadi ingin menyingkirkan diriny---"ucapan Nando terpotong karena Nova yang sudah membekap bibirnya dan membawanya kekamar.
Arra diam seribu bahasa mendengar pengakuan papanya ia sangat sedih dan sebagian dirinya terasa hancur mendengar hal itu, ia semakin membenci Nando, rasanya ia ingin pergi dari rumah ini, ia tahu sekarang bahwa Nando sudah tidak menganggap nya sebagai anaknya, malah Nando ingin menyingkirkan nya dari dunia ini, orang tua semacam apa ysng menginginkan anaknya tiada, dan yang paling parah ia sendiri yang ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri.
"Pa, kamu jangan bilang begitu, dia anak kamu, aku kecewa liat kamu mas"Ucap Nova sambil berlari keluar dari kamar Arra, disusul dengan Nando
'Kenapa jadi dia yang marah, freak bitch' batin Arra
🐾🐾
Nova berdiri didepan jendela kamarnya dan Nando, rasanya ia juga sangat sedih sepeninggal kata-kata Nando kepada anak tirinya itu, ia juga merasakan apa yang dirasakan Arra, ia sangat kaget mendengar hal yang dilontarkan suaminya itu.rasanya ia sangat kecewa dengan apa yang ia katakan pada suaminya, bahwa jangan pernah main tangan dengan anak, tetapi suaminya selalu melanggar peringatan itu.
"Sayang, maafin aku yah, aku tidak sengaja mengatakan hal itu kepada Rara, rasanya ia sangat menyebalkan, karena tidak mau turun untuk makan malam"ucap Nando sambil membelai pipi Nova istrinya dan menghapus air mata yang membasahi pipi Nova
"Kamu keterlaluan, aku sudah bilang kan jangan pernah main tangan sama anak kita, tetapi kamu selalu main tangan sama dia, kamu tidak tahu apa kalau kamu ngelakuin itu ke Rara dia pasti berpikir bahwa aku yang nyuruh kamu buat ngelakuin itu sama dia, kamu makin memperkeruh keadaan, dengan kecuekan yang kamu lakukan tiap harinya terhadap dia, membuat dia semakin benci sama aku, perilaku kamu yang buat dia benci sama aku bukan
Sama kamu"tutur Nova sambil memukul dada Nando ia sangat benci jika ia selalu terlihat buruk di mata anak tirinya, Arra tidak tahu betapa sayangnya Nova kepada dirinya, Arra selalu buta akibat kebenciannya kepada Nova."Maafin aku, aku terlalu benci sama dia, dia selalu melihat kamu dengan tatapan tidak suka, dan jijik, aku merasakan sakit kalau kamu diliatin begitu, kamu ngerti kan maksud aku"ucap Nando lembut sambil membelai pipi istrinya untuk menghapus air mata yang selalu jatuh itu.
"Dia tidak pernah melihat kamu, dia selalu menyimpulkan bahwa kita adalah penyebab kematian Sarah"lirih Nando lagi
"Memang kita penyebabnya kan, kalau aja kamu tidak menyuruh dia datang ke acara makan malam itu pasti dia masih berdiri disini bersama kamu, dan Arra tidak akan bersedih seperti ini, sudah 10 tahun mas, dan Arra tidak pernah membuka hatinya buat aku, jadi kamu jangan pernah mukul dia lagi, kamu tahu kan kekerasan terhadap anak itu ada hukumnya"jelas Nova membuat Nando skakmat diam seribu bahasa
"Aku benci sama dia, itu tidak akan pernah berubah, dia itu anak yang tidak tahu diuntung, aku ingin sekali menyebutnya anak sampah!! "
"Kamu tau kamu nganggep Arra anak sampah karena Arra benci sama aku dan engga pernah nganggep aku sebagai ibunya, jadi aku ini apa mas, aku udah ambil suami orang dan ayahnya, aku ini wanita jahat mas, hamil diluar nikah padahal aku tahu kalau kamu itu udah berkeluarga, aku jalang mas, wanita murahan, aku malu liat diriku sedir--"Nando meletakan telunjuknya tepat dibibir Nova mencegah Nova untuk melanjutkan perkataannya, ia tahu perbuatannya selama ini memang sangat kurang ajar, tapi ia terlanjur jatuh hati kepada Nova, Nova mampu menghilangkan keluarganya dipikiran Nando.
<>
Angin malam menemani Arra ,sejuknya angin menyelimuti tubuhnya, air matanya masih mengalir deras, sangat sedih dengan perkataan yang ia sebut 'papa', rasanya ia menyesal karena menyebut laki-laki itu papa, padahal lelaki itu tidak menganggap kehadirannya setelah bersama wanita baru itu, perasaan kecewa menyelimuti dirinya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya, ia menelan ludah ketakutan,lehernya berputar 180° menoleh kebelakang. Lega baginya.
"Kakak, kenapa malam-malam disini? "Tanya lelaki yang beranjak remaja itu
"Bukan urusan kamu!"jawab Arra dengan mata tajam
"Dulu kata papa kakak itu baik ramah,perhatian, tapi kenapa galak sih"
"Suka-suka aku lah"
Farka adik tirinya itu semakin mendekatkan badan kearah Arra
"Kak, main yuk"ajak Farka, Arra hanya diam, melanjutkan lamunannya."kak, Farka boleh tanya"sambil memegang tangan Arra. Arra yang melihat itu langsung melepas tangannya"Enggak"ketus Arra, lalu beranjak pergi dari teras rumahnya, lalu dicekal oleh Farka yang sudah memperlihatkan wajah sedihnya itu, walaupun kelakuan ibunya selalu membuat Arra sakit hati tetapi tetap saja Arra tidak bisa menyalahkan seorang anak kecil yang tidak tahu kesalahannya, ia memang bersifat cuek kepada Farka, tapi ia selalu memerhatikan farka dari kejauhan, terkadang bila anak itu menangis karena tidak diberi uang saku lebih Arra selalu memberikannya dengan satu syarat jangan beritahu papa dan mama.
"Kakak mau tidur, farka enggak ngantuk"sambil membelai pipi adiknya itu
"Farka ngantuk banget kak, tapi farka ada tugas, dari tadi farka udah ngerjai tapi salah mulu, makanya Farka ajak kak Rara buat main "jelas Farka, dia memang kelas 1SMP tapi jika bersama keluarga ia ingin selalu dimanja, hal itu juga membuat kesan iri didalam diri Arra.
"Kerjain tugas aja,jangan cepat mengeluh kerja keras pasti dapat jawabannya dari pada main tapi tugasnya belum selesai, terus ngantuk mau dihukum besok sama gurunya? "
"Tapi aku tidak mengerti kak, kak Rara ajarin aku yah, kakak kan pinter "ajak Farka, Rara hanya mengangguk sambil tersenyum.
Setelah mengajari Farka, ia melihat farka yang sudah tertidur lelap,Arra mengendong Farka dan meletakan farka diranjang tidur anak laki-laki itu, lalu menyelimutinya, dan mencium kening adiknya itu.
Nova yang melihat kejadian awal farka dan Arra berbincang, tersenyum senang walaupun Putrinya itu tidak menyanyangi dirinya, menyanyangi putranya saja sudah lebih dari cukup.
Judulnya hancur ke Arra tapi malah edelweis yang murung haha 😍
Selamat sore salam author cantik.

KAMU SEDANG MEMBACA
EDRA
Teen FictionArra sosok perempuan dengan sifat yang berubah-ubah, dan selalu terkena dengan kekerasan Papanya, Edelwis laki-laki yang mengeluarkan dia dari keterpurukan kekerasan yang Papanya perbuat. *follow sebelum membaca,selalu budayakan vote and,comen gaess*