Kejadian diRumah

47 6 3
                                    

"Soal perjodohan kemarin gimana, Ra?" Tanya Edelwis, Arra kaget seketika mendengar pertanyaan Edelwis,

"Apa peduli lo?"jawab Arra ketus, Edelwis hanya mengelus dada "kalau bokap lo nyakitin Lo lagi bilang sama gue"ucap Edelwis dengan nada khawatir,

"Lo kenapa jadi banyak ngomong?" Edelwis tersenyum "emang ga boleh"tanya Edelwis, Arra menggaruk lehernya kaku "yah, aneh aja setahu gue, Lo jarang ngomong gitu" tanya Arra kikuk Edelwis hanya diam saja tidak menyahut.

Arra teringat bahwa hari ini ada pertemuan dengan perjodohan gila itu "buruan nyetirnya, gue ada urusan dirumah"ucap Arra Edelwis ingin bertanya tapi ia mengurungkan niatnya, sesudah sampai dirumah Arra melihat ada 2 mobil dihalaman rumahnya 'mampus gue' batin Arra "ehmm Del, Lo balik sana ntar kalau papa gue lihat berabe"ucap Arra lagi sambil menggerakkan tangannya mengusir Edelwis, Edelwis hanya tersenyum dan pergi tak lupa ia mengacak lembut poni wanita yg mengisi hatinya itu, Arra hanya tersenyum kaku dan bertindak biasa saja padahal sedari tadi jantungnya selalu berdetak kencang entah mengapa, namu ia tampak tak perduli.

Arra memasuki rumahnya baru saja melewati ruang tamu dia sudah mendengar suara gelak tawa, ia berpikir 'kayanya yang mau dijodohin sama gua udah Dateng deh, ya Tuhan bantuin Arra dong'batin Arra

jantungnya yang sejak tadi tidak sehat dan tangannya yang sudah dingin Sedari tadi, ia berulang kali menghela nafas tetapi ia tetap saja menunduk,
"Sayang, sini duduk gausah ganti baju, Tante Dita dan Om Roy udah nunggu lama tuh"Ucap Novi menuntun Arra untuk duduk, Arra hanya menyengir tidak jelas

"Eh Lo yang tadi nabrak gue kan?"ucap cowok itu, mungkin ini cowok yang ingin dijodohkan dengannya, Arra mengangguk polos

"Hallo Arra kamu sangat cantik ternyata sama seperti Mama mu"Ucap Tante Dita, Novi tersedak setelah mendengarnya, Arra tersenyum "Mama yang mana Tante "ucapnya sambil menyorongkan kepala menatap Tante dita, Nando papa nya sudah gugup ia berdehem lalu berkata"Iya benar dia sangat mirip dengannya"sambil tertawa.

Arra merasa jengkel "dengannya? Astaga"Arra bangkit dari tempat duduknya "Bahkan dia tidak pernah mengandungku, Apakah ada kemiripan?"Ucap Arra, Nando bangkit "walaupun dia tidak mengandungmu, melahirkanmu, dia tetap Mamamu, dia istri Papa" Arra menatap papanya "Dia memang istri Papa, tapi dia tidak akan pernah jadi Mama ku, bahkan aku tidak mengikuti acara pernikahan kalian" ucap Arra sedikit berteriak, Novi menghampiri Nando untuk menenangkannya "Mas kita punya tamu"Novi berbisik

Arra berdiri sambil memegang tangannya gugup "Om Roy, Tante Dita dan kamu, Arra minta maaf karena Arra engga akan pernah setuju atas perencanaan perjodohan ini"
Semua orang dimeja makan terdiam atas penuturan Arra, Nando menggeram melihat kelakuan anaknya, ia sudah tidak tahan menahan amarah, sedangkan Rian menghampiri Arra "Lo engga boleh gitu, itu Mama Lo juga"Arra tertawa kecil "kenapa sih kalimat itu selalu dikatakan dengan orang yang baru gua kenal, dari Edelwis dan sekarang Lo, mungkin Om sama Tante juga bakalan berkata seperti itu, oh apa bahkan orang yang nanti akan dijodohkan denganku selanjutnya? seperti itu pa?"

Nando sudah tidak tahan ia menampar Arra dengan emosi yang meluap, pipi putih Arra merah bahkan seketika keluar air mata,semua orang yang berada dimeja makan terkejut, lalu ia berlari keatas kamar. Ia menyusun baju-bajunya bahkan buku sekolahnya.

'Halo, Del Lo bisa jemput gua lagi dirumah' ucap Arra sesegukan

'gausah banyak tanya, buruan"ucapnya lagi sambil berteriak, Edelwis langsung memutuskan panggilan.

EDRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang