Maaf untuk keterlambatanku, dan terima kasih buat yang selalu support aku.
"Loh Edel kamu kok bisa sama cucu saya?" Tanya Ranti kepada Edelwis sembari membawa barang-barang Arra.
Arra menatap kearah Edelwis yang ingin membuka mulut "Oma Jadi Edel nih temen satu sekolah Rara" Edelwis menatap Arra jengkel ia tahu kenapa Arra yang menjawab pertanyaan itu, pasti gadis ini takut bahwa Edelwis mengatakan bahwa ia pergi dari rumah dengan inisiatif sendiri, dan Edelwis hanya bisa tersenyum.
Mereka sudah duduk diruang tamu, dan juga lelaki tua yang sudah duduk bersama mereka siapa lagi kalau bukan kakek Arra, Arra sudah menggaruk jarinya, ia benar-benar takut jika Kakeknya tidak mengijinkannya dan bertanya kepada Papanya secara langsung.
"Kamu kenapa kesini, Ra?" Opa Arra yang bernama Rama itu mulai berbicara, Arra mendongak cepat "Jadi Rara ga boleh tinggal sama Oma sama Opa nih?"
"Papamu sudah tahu?" Arra hanya mengangguk
"Gimana kabar papamu dan mamamu, juga cucu Opa yang laki-laki itu?" Arra ingin menangis, Arra sedih kakeknya bertanya soal Farka tidak dengan dirinyaArra tersenyum "Mereka baik dan itu bukan Mama Arra itu menantu Opa"
Arra menggenggam tangannya kuat, ia tahu setelah papanya, Opanya memang seperti papa nya juga, ia berpikir hanya Omanya yang berada di pihak nya, Edelwis hanya melihat adegan yang dihadapannya ini, ia berpikir bahwa gadis yang dia sukai ini sangat pemberani, dan ia suka itu."Opa, Oma saya boleh nggak bawa Arra sebentar ngajak jalan-jalan keliling komplek dia kan baru disini" usul Edelwis, ia sangat peka terhadap apa yang terjadi pada Arra,
Opa Rama melirik kearah Edelwis "Kamu anaknya Pak Diran kan?" Tanya Rama
Edelwis mengangguk pelan
"Bolehkan saya bawa Arra untuk jalan-jalan sebentar?"
Opa Rama hanya diam saja,kemudian Oma Ranti sudah menyenggol tangan Kakek
"Rama, sudahlah beri saja mereka ijin hanya sebentar saja, mereka pasti tidak akan pulang malam banget kok, yakan nak Edel?"Edelwis hanya mengaggukan kepalanya, dan Opa Rama juga mengikuti gerakan kepala Edelwis memberi ijin
Edelwis tersenyum ia melihat Arra yang masih menundukkan kepalanya, gadis itu masih saja menangis membuat Edelwis tidak tahan ingin menghapus air matanya saja.
Edelwis sudah berdiri dan menghampiri Arra. Arra mendongakkan kepalanya bingung dan menaikan sebelah alisnya, Edelwis tidak menjawab ia langsung menggenggam tangan gadis ini, Arra hanya bisa mengikutinya dan memberi salam kepada Papi dan Oma nya.
Arra melepas genggaman Edelwis "Apaansih Lo" Edelwis dia menatap Arra "lo itu udah dibantuin juga"
Arra menaikan alisnya lagi "Lo ngebantuin hal apa?"Edelwis tidak menjawab, ia malah menuntun Arra masuk kedalam mobil, lalu menutup pintunya
"Kita mau kemana?" Arra melirik Edelwis, Edelwis tersenyum dan mengacak rambut gadis itu."Karna ini udah agak malam, mau ke pasar malam dekat sini ga?"Tanya Edelwis, Arra mendongak dengan wajah yang sudah memerah, lalu berdehem menetralkan kecanggungan "terserah" ucapnya sedikit cuek, Edelwis membalas dengan tersenyum manis.
Setibanya di pasar malam Arra sangat terlihat gembira terlihat dari senyum dibibirnya yang manis itu "Mau main apa dulu?" Arra melihat kearah Edelwis "kita ngemil dulu aja gimana, biar semangat mainnya ntar"Edelwis tertawa,
"Dasar tukang makan" ucap Edelwis sambil mencubit pipi Arra, Arra hanya tersenyum jahil.
Menuju tenpat makanan, Arra tiba-tiba menghentikan langkahnya dan hanya memandang lurus kedepan, Edelwis pun menatap kearah yang sama, terlihat seorang laki-laki yang berrubuh tinggi dan tampan menatap ke arah mereka dan melambaikan tangganya, seperti mengucapkan hai
"Hi Arra, udah lama aku ga jumpa sama kamu, kamu tambah cantik dan tinggi sekarang" Ucap cowok itu, Arra hanya diam menatap Dito alias mantan pacarnya yang dulu tidak direstui oleh Papanya
Dito tersenyum
"Sekarang kamu udah dibolehin pacaran yah?""Dia bukan pacar Arra" Jawab Arra, Dito tertawa dan mengusap kepala Arra dengan lembut, hal yang paling sering Dia lakukan ketika bersama Arra
"Kamu masih sama kaya dulu, jalan-jalan yuk, tapi jangan aja om ini"
Edelwis merasa panas di keadaan seperti ini
"Lo ini siapa sih, udah Ra kita pulang aja" Edelwis menggenggam tangan Arra, Arra hanya diam dan mengikuti langkah Edelwis.Mereka menghentikan langkahnya diparkiran, dan Edelwis pun tak henti menggenggam tangan Arra sambil mengatakan
"Itu siapa sih? Aneh banget"
Arra menatap Edelwis
"Mantan, gila sih dia ganteng banget sekarang, jadi pengen bali--""Woi, mau ngomong apa tadi, trus tadi apa ngomong pake nada manja sama dia, dih dasar belum move on"
Arra melepas genggaman Edelwis dan menaruh tangannya disaku celana nya
"Kenapa jadi lu yang sewot, kalau belum move on emangnya kenapa?, Lu suka ya sama gue?" Jahil Arra
"Iya, gua itu cemburu, lo ngerti ga ?" Jawab Edelwis dengan lantang, Arra menatap Edelwis dengan diam, dan tertawa terpaksa
"Helooo, gombalan lo itu udah ga jaman banget, ngakak sumpah dah"
"Gue serius, emang lo gamau pacaran sama gue?"
Arra terdiam dan kaget mendengar ucapan Edelwis, Edelwis tersenyum manis pada Arra
"Sekarang Rara pacarnya Edelwis, dan Edelwis pacarnya Rara"
Arra menjewer telinga Edelwis
"Gila lo yah, gue aja belum jawab, malah bilang Kalimat alay begitu lagi"Edelwis meletakan telapak tangannya di pipi Arra dan berkata "Tapi gue gabutuh jawaban lo Ra, dan kita pacaran sekarang"
Arra melepaskan tangan Edelwis
"Gue anggap itu perkataan engga waras"Edelwis tertawa "iya, love you too"
"Edelwis pacar Arra alay yah"
Edelwis berlompat kesenangan,
Mereka tertawa bersama dalam keseruan malam.Hi guys
Welcome to my imagination.
Maap baru update yahh
Jangan lupa vote and coment yahhFollow ig mimin
@permatamega08

KAMU SEDANG MEMBACA
EDRA
Teen FictionArra sosok perempuan dengan sifat yang berubah-ubah, dan selalu terkena dengan kekerasan Papanya, Edelwis laki-laki yang mengeluarkan dia dari keterpurukan kekerasan yang Papanya perbuat. *follow sebelum membaca,selalu budayakan vote and,comen gaess*