Bagian 5

797 78 14
                                        


“Benar Yang Mulia, jadi apakah hamba harus membunuh dirimu dulu atau panglima kesayanganmu?”
.
.

.

.

“Palinglima Thabit bagaimana kabarmu?’ sebuah senyuman sinis terukir di bibir Ayse. perempuan itu menatap Thabit beserta Zaina dengan tatapan meremehkan, tangan Ayse kemudian menarik pedang dari balik jubah hitamnya kemudian dengan cepat mengarahkannya pada Thabit yang masih diam kaku di tempat beserta Zaina yang terlihat mengkerut dibelakangnya.

“Apa anda sedang mengandung Yang Mulia?”  tanya Ayse yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Thabit melirik Zaina yang kini lebih merapatkan dirinya pada punggung tegapnya, tatapan Thabit kemudian beralih kembali pada Ayse yang kini telah kembali menatapnya. “Apa maumu Ayse?”
Ayse terbahak ditempatnya, “Tentu saja kehancuran kalian” ucapnya dingin.

Thabit menyipitkan matanya melihat gerakan tangan Ayse yang kini mencengkram pedangnya lebih erat, “kau bisa membawaku pergi, dan tinggalkan Ratuku” balas Thabit dingin.

Ayse berdecak ditempatnya “Panglima Thabit, aku tak selemah dan selugu seperti dulu. Kau pikir aku bodoh dengan meninggalkan mangsa berharga dan lebih memilih memungut mangsa hina sepertimu” kekeh Ayse di sela ucapannya.
Thabit kembali menyipitkan matanya melihat beberapa orang yang berada di belakang Ayse, “Para Doria eh?” kata Thabit sambil meremehkan.

Beberapa orang yang dibelakang Ayse tampak hendak melangkah maju menyerang Thabit yang kini sudah siap dengan pedangnya. “Aku tak menyangka kau lebih memilih bersekutu dengan para bangsa rendahan seperti Dorian” lanjut Thabit kembali sambil bersiap mengarahkan pedangnya pada Ayse.

Ayse tersentak tiba-tiba ketika serangan dari pedang Thabit menyakiti lengannya, dirinya menggeram marah dan membalas serangan Thabit dengan mengarahkan pedangnya pada leher Thabit, serangan Ayse meleset dan hanya mengenai jubah Thabit yang kini tampak robek.

“Bukan begitu caranya menyerang Ayse, kau sangat jelas seorang amatir” ucap Thabit yang kini tersenyum sinis.

Saat Ayse hendak kembali mengarahkan pedang pada Thabit sebuah suara menghentikannya, “Berhenti Ayse, Altan di sini bersama ratusan pasukannya” ucap sebuah suara perempuan yang Thabit tau suara itu tak asing di dengarnya.
Kemudian Ayse dan beberapa orangnya secepat kilat berlari menghilang.

..................

Selama beberapa detik dirinya – Thabit tercenung ditempatnya, suara perempuan itu sungguh tak asing ditelinganya, suara tegas sekaligus lembut itu hanya satu yang ia tahu dan itu milik dia si masa lalunya.

“Thabit” guncangan di lengannya segera menarik Thabit dari lamunannya, ia mengerjap sesaat kemudian segera membungkuk hormat “Maafkan hamba Yang Mulia, hamba melamun dan tak fokus” ucapnya pelan.

Tak berapa lama Altan muncul bersama beberapa Imortals dibelakannya.
Altan menatap Thabit tajam dengan rahang yang mulai mengetat marah, “Aku tak tahu kau seceroboh ini Thab, kau bahkan tak tahu dalam pasukannmu terdapat pengkhianat!” maki Altan keras.
Thabit hanya menunduk kaku di depan Altan yang kini mulai bergerak menghampirinya.

PLAKK.... Satu tamparan Altan berikan pada Thabit yang kini masih berdiri kaku, “sebenarnya ada apa denganmu Thab? Kau tak fokus akhir-akhir ini.” Ucap Altan sambil mengusap wajahnya kasar “Dengar, aku tak ingin kejadian ini kembali terulang. Kau dan aku kembali ke Istana Zaina akan diantar oleh para Imortlas dan utusan dari Iran akan kemari sebentar lagi, lagipula Iran sudah tak jauh dari sini. Kau harus kembali melatih para pasukanmu” lanjut Altan yang hendak berbalik pergi.

The General's [SLOW UPDATE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang