"Sayang, ayo turun cepetan sarapan."
Suara seorang wanita yang lembut terdengar. Mika segera mengambil tas-nya kemudian keluar dari kamar "Iya Bun."
Seperti biasa, Mika tidak pernah menghias rambutnya. Hanya ia sisir dan ia biarkan terurai.
"Yaayy nasi goreng." Seru Mika ketika sudah sampai di meja makan.
Mika bersyukur bahwa orang tuanya tidak seperti orang kantoran yang sibuknya setengah mati. Mereka berangkat sangat pagi hanya sesekali setiap ada meeting penting. Selain itu, ia dan orang tuanya masih bisa sarapan bersama di pagi hari, kemudian mereka mengantarkan Mika ke sekolah bersama.
"Yaudah ayo makan trus berangkat sekolah." Ujar Haris, Ayah Mika.
Mika dengan senang hati menikmati nasi goreng yang menurutnya adalah ter-enak sedunia buatan bundanya itu. Kalau makan nasi goreng buatan sang bunda, pasti Mika selalu bersemangat untuk menjalani hari.
"Assalamu'alaikum."
Sarah, Bunda Mika mengalihkan pandangan ke arah pintu utama dimana terdengar sebuah ketukan dari sana.
"Siapa itu? Tumben pagi-pagi ada yang bertamu." Alis Sarah bertautan.
"Nggak tau Bun. Biar Mika yang buka pintunya." Mika langsung bangkit dari duduknya, kemudian bergegas menuju ke pintu utama.
"Pagi." Sapa seseorang yang tadi di balik pintu dengan senyuman super manis.
"Levi?!"
Mata Mika melotot melihat makhluk di depannya yang entah mucul dari mana.
"Hai-hai." Sapa Levi dengan heboh.
"Ngapain lo ke rumah gue?" Tanya Mika jutek.
"Mau jemput lo lah."
"Emangnya lo ojek online, pake jemput-jemput segala. Sori, gue nggak order lo." Ujar Mika dengan ketus.
"Gue kan pacar lo, jadi mulai sekarang kita berangkat plus pulang sekolah bareng! Wajib!" Paksa Levi.
"Nggak mau. Itu mah bukan wajib. Tapi haram hukumnya kalo dilakuin!"
"Gue maksa, mau apa lu."
"Kemarin nggak ada peraturan ini ya bambang." Seperti biasa, Mika melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lo kan udah jadi pacar gue, jadi gue bertanggung jawab atas lo." Levi ikut-ikutan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tanggung jawab apaan? Emang lo nge-hamilin gue? Udah sana-sana pergi."
Levi memicingkan matanya kemudiam menarik tangan Mika secara mendadak membuat cewek itu tertarik maju dan wajahnya membentur dada bidang Levi.
"Woi apaan sih." Protes Mika setelah ia memundurkan tubuhnya.
"Dasar pendek. Udah gede tapi pendek, tetep aja kayak anak kecil. Tinggi lu cuma se-dada gue." Cibir Levi blak-blakan.
Mika memasang wajah merah bersiap untuk meledakkan amarahnya. Hari yang indah dikarenakan makan nasi goreng ter-enak buatan bundanya mungkin akan segera berakhir. Karena cowok nyebelin itu.
"Wajah lo merah, lo demam?" dengan pede nya Levi menempelkan telapak tangannya di kening Mika dengan sedikit dorongan, sehingga cewek itu mundur sedikit ke belakang.
"Apaan sih pegang-pegang!" Mika segera menepis tangan Levi yang telah menodai jidatnya.
"Ya lu apaan sih, kenapa kok pendek. Jadi gemes gue."
"Lo mau tangan kanan apa kiri nih?" Mika memamerkan tangannya yang mengepal, bersiap untuk memukul makhluk di hadapannya itu.
"Mika, ada siap--" Sarah menghentikan ucapannya ketika melihat seorang cowok berwajah terlalu tampan yang berdiri di ambang pintu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mantan Pacar
Teen FictionIni bercerita tentang Levi Prananta yang berniat memacari semua cewek yang ada di bumi untuk mencari cinta sejati. Namun pengecualian untuk Mika Sabrina, makhluk galak yang di beri julukan Cewek Gorila sekaligus ketua ekstrakurikuler taekwondo di se...