"Baru hari ini aku merasakan hari Senin yang begitu bahagia"- Arga
Hari ini hari Senin. Siapa yang tidak mengenal hari yang penuh dengan sumpah serapah dari orang - orang yang pasrah akan hidup. Kebisingan suara kendaraan menjadi pemandangan paling indah sepanjang hari Senin ini.
Entahlah, mengapa banyak sekali orang yang tidak senang dengan hari Senin. Padahal hari senin tidak mempunyai salah. Miris .
Triiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggggggg!!!!!
Jam weker yang dengan indah terletak di nakas seorang gadis nampaknya telah memulai tugasnya untuk membangunkan sang majikan.
Bukk!!
Satu bantal dengan sarung bergambar burung hantu terlempar indah mengenai jam weker yang berakhir jatuh dari nakas.Sungguh naas.
"Aduh gabisa apa biarin gue tidur dengan nyenyak semenit aja!", kesal seorang gadis dengan rambut layaknya anak singa.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya dengan serbet di bahu kirinya.
"Non sudah bangun? Kalo gitu siap-siap ya soalnya bibi udah buatin omlet sama susu coklatnya", ucap wanita itu dengan sopan.
Sang gadis hanya menoleh, lalu berjalan mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam dapur rekamannya. ( read : kamar mandi)
Sedangkan sang bibi langsung menutup pintu kamar lagi.30 menit, hingga sang gadis tadi sekarang duduk sambil memakan sarapan paginya. Sendiri tak ada yang menemani.
"Ayah mana bi?", tanya sang gadis setelah sekian lama terdiam sambil memakan omletnya.
"Udah pergi non dari tadi subuh, katanya ada rapat", jawab sang bibi sekenanya.
"Yaudah bi Raina pergi dulu. Assalmualaikum".
"Iya non ati- ati".
Ya. Namanya Raina, gadis manis dengan rambut panjang yang menyukai warna biru. Dan satu lagi dia JOMBLO.
***
Raina turun dari abang gojek tamvan dan langsung memberikan selembar uang dua puluh ribu."Jangan bosen - bosen order gojek abang ya neng. Abang selalu siap buat nganter eneng, yaudah abang jalan ya neng. Selamat belajar", ucap abang gojek tamvan dengan pede nya sebelum pergi melaju.
Raina menggeleng, "Sengklek emang".
Raina kemudian menyebrangi jalan untuk sampai di sekolahnya. Terlihat gerbang telah tertutup rapat dan ada guru dengan rotan ditangannya di balik gerbang sana. Tampaknya sedang menunggu murid - murid macam Raina untuk dihukum.
"Mampus gue!", ucap Raina lalu berjalan pelan menuju pohon besar di dekat sekolah. Bersembunyi di sana sampai bapak tua pemegang rotan itu hilang dari pandangannya. Ia berpikir ini akan berlangsung sebentar saja.
20 menit berakhir sudah, tapi sang guru masih setia berdiri di belakang gerbang sana.
"Wah bakalan susah nih", ucap Raina sambil terus bergantian menatap jam tangan dan sang guru.
"Woi!!", teriak seseorang sambil menepuk pundak Raina.
Seketika Raina menoleh dan mendapati seorang remaja dengan baju tak karuan , tali sepatu tak diikat, dan rambut yang acak-acakaan. Sungguh sangat mendeskripsikan anak yang kurang asupan kata motivasi.
"Lo gila!?", kesal Raina tak habis pikir dengan kelakuan lelaki di sampingnya.
"Gimana kalo sampe gue latah dan akhirnya ketauan sama pak Tejo?", ucapan Raina dengan tatapan tajam.
