Part 3

204 11 1
                                    

Raina menyeruput es teh manis miliknya sambil bermain games di benda berwarna rose gold tersebut. Dan di hadapannya seorang lelaki yang sedari tadi menyantap nasi goreng kesukaannya, tak melepaskan pandangannya dari Raina.

"Ra lo selalu ada kan buat gue?", pertanyaan lelaki itu lantas membuat Raina mengalihkan fokusnya dari dunia games.

Raina terdiam lalu sedetik kemudian dirinya mengangguk.

Sang lelaki tersenyum, seakan puas akan jawaban Raina. Dan memang jawaban itulah yang ia inginkan, bahwa "Raina akan selalu ada untuk dirinya".

"Lo kenapa sih tiba-tiba nanya kak gitu?", tanya Raina lalu kembali mengatur fokusnya terhadap games di ponselnya.

"Ya gue takut aja lo bakalan pergi dan meninggalkan gue sendirian. Cukup ayah aja Ra yang ninggalin gue sendiri, dan gue nggak mau kehilangan orang kedua yang gue sayang", jawab sang lelaki mantap sambil menatap Raina penuh sendu.

Raina terdiam lalu menatap orang yang di hadapannya ini sambil tersenyum, "Gas gue nggak bakalan ninggalin lo. Lo kan sahabat gue yang paliiing nyebelin tapi gue sayang. Dan temen-temen yang lain kayak Pino, Sasa,Kepin juga nggak bakalan ninggalin lo", ucap Raina memberikan semangat untuk sahabat satu ekstrakulikulernya itu.

'Gue nggak peduli kalo gue ditinggalin sama mereka. Tapi kalo gue kehilangan lo gue pastiin itu nggak akan terjadi', Bagas membatin.

"Oh ya, kita jadikan pergi ke makam almarhum ayah lo", tanya Raina mencairkan suasana.

Bagas mengangguk lalu mengajak Raina pergi dari area kantin.

🍂🍂🍂

Arga berjalan santai sambil bersenandung, melewati koridor gedung utara untuk menjemput sang pujaan hati. Raina, satu nama yang kini terukir jelas dan indah di hati Arga. Gadis penyuka warna biru itu kini telah membuat hati seorang Arga meleleh dengan sikap jutek binti ngangenin itu. Setidaknya itu menurut kamus hati Arga.

Arga menghentikan langkahnya sesaat melihat Tia yang notabenya sahabat dari Raina keluar dari kelas.

"Tia!", panggil Arga sambil melambaikan tangan ala penari latar.

Tia yang merasa dirinya di panggil menoleh ke arah sumber suara, dan kini ia melihat manusia dengan baju acak-acakan tengah menatapnya.

"Gue?", tanya Tia memastikan.

Karena di kelas sebelas IPA 2 ada dua anak bernama Tia.
Tiara Aurellia dan Tiasalsabila.

Arga mengangguk, " Iya lo Tiara Aurellia", jawab Arga sambil menyebut nama lengkap Tia.

Kemudian Tia berjalan menuju Arga yang tak jauh dari pintu kelasnya.

"Pacar mana?", tanya Arga tanpa assalamualaikum.

Tia terdiam lalu sedetik kemudian ia membuka suaranya, "Udah pulang tadi bareng Bagas".

"Bagas?"

"iya temen satu eks-"

"Nggak perlu jelasin, gue pergi dulu", jelas Arga kemudian berlalu pergi.

🍂🍂🍂

Arga memarkirkan motor ninja kesayangannya di perkarangan rumah Raina sambil membawa kantong kresek di tangannya.

"Assalamualaikum", ucap Arga menunggu pintu jati dihadapannya terbuka.

Ceklek.

"Waalaikumsalam, mau cari siapa ya dek?", ucap seorang wanita paruh baya dengan serbet di bahu kirinya.

"Raina ada?"

"Oh non Raina belum pulang dari tadi, mungkin sebentar lagi. Ehm, adek siapanya non Raina ya?"

"Oh saya Arga, pacar Raina otw calon suami ", jawab Arga lalu tersenyum.

sang wanita paruh baya kemudian menyuruh Arga untuk duduk di bangku depan rumah Raina yang memang dikhusukan untuk tamu menunggu.

"Adek mau dibuatin minum apa?".

"Nggak usah repot - repot, tapi kalo ada sih es teh aja", jawab Arga malu-malu kucing.

Tak berapa lama suara klakson mobil membuat Arga menoleh. Raina yang di temani seorang lelaki tampak turun dari mobil berwarna putih tersebut.

"Loh kok lo di sini?", pertanyaan dari Raina membuat Arga tersenyum lalu bangkit dari duduknya.

"Tungguin kamu"

"Aku cuma mau kasih ini doang", sambung Arga sambil memberikan kantong kresek yang berisikan puding coklat makanan favorit Raina.

Raina diam, tak mengambil kantong kresek yang di pegang Arga.

Bagas yang geram melihat lelaki asing yang sok kenal dengan Raina langsung menebas kantong kresek tersebut. Puding coklat yang bertabur keju langsung berhamburan menyentuh ubin putih rumah Raina.

Raina yang kaget sontak menutup mulutnya tak percaya.

"Gas", ucap Raina menoleh ke arah Bagas yang tersenyum bahagia.

Arga masih diam di tempatnya, rahangnya mengeras. Ingin sekali dirinya memberikan bogem mentah di kedua pipi lelaki yang telah menginjak harga dirinya.

Tapi Arga tak mau melakukan itu semua,ia tak mau mencari keributan di rumah orang. Terlebih lagi ini rumah Raina, kekasihnya.

"Aku balik dulu Na, jangan lupa makan ntar  sakit. Kalo ada pr di kerjain biar besok nggak dihukum", ucap Arga berusaha tenang lalu meninggalkan perkarangan rumah Raina dengan perasaan penuh amarah.

R A I N A Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang