Chapter 3

150 1 0
                                    

Note:

yang di Multimedia anggep aja Kris

Boy POV

Enggak sengaja aku denger omongan dia ditelfon. Aku hanya tersenyum kecil. Sasya masuk kedalam kamarku yang pintunya sengaja aku buka karna panas. Sasya masuk kedalam kamarku dan memberiku Sapu Tangan yang aku pinjamkan padanya

“Makasih udah pinjemin ke aku” Dia tersenyum. Dia mengambil Sapu Tangan milikku dan membalas senyumnya. Sasya berjongkok didepanku. Valentine keluar dari Toilet

“Kamu kangen sama aku ya, sayang?” Ledek Valentine kepada Sasya

Valentine kembali duduk dikursi belajarnya. Aku memulai pembicaraan dengan Sasya

“Gimana tanaman yang aku kasih ke kamu? Apa Susah ngerawatnya?”

“Agak susah, tapi aku bisa ngatasinnya”

“Kasih tau aku kalau kamu ada masalah sama tanamannya. Aku akan kasih tau kamu kalau tanamannya siap dikasih pupuk. Mau main Game sama aku?”

“Hmmm” Sasya mengangguk kecil

Aku memasangkan Headset ke kupinya Sasya

“Maaf ya. Kalau aku gak sopan” Sasya hanya tersenyum padaku. Aku mulai memainkan Game nya

“Musiknya sangat bagus”

“Haha.. Ini Game kesukaanku kalau aku lagi bosen. Alunan musik Classic nya buat hati aku sangat nyaman”

“Iya” Sasya tersenyum padaku

Aku dan Sasya mulai bercanda bersama

Girl POV

 Besoknya aku jalan-jalan bareng Kris. Ada seorang 2 laki-laki yang bertanya pada kami

“Pemisi..”

Aku dan Kris melihat 2 laki-laki itu. 1 Laki-laki memakai topi dan satu laki-laki memakai kacamata. Laki-laki yang memakai topi bertanya pada kami

“Apa ini gedung Asrama Putri ‘A’?”

“Iya benar. Apa ini mobilmu?” Tanya Kris

“Iya” Jawab laki-laki yang memakai topi

“Maaf tapi, kalian gak boleh parkir mobil disini. Seharunya kamu parkir disebelah sana. Biar aku mengantar kalian”

“Enggak, gak perlu. Aku bisa sendiri. Makasih”

“Paman Od”

Rafael menghampiri 2 laki-laki itu

“Hallo, Tuan Rafael”

“Aku cuman butuh sedikit dari barang-barang itu”

“Dimana kami harus menaruhnya?”

“Kalian gak boleh masuk ke Asrama. Taruh aja disini”

Paman Od hanya mengangguk dan memberiku selembar kertas yang berisi alamat Cafe Bibi In

“Paman mau pergi ke tempat lain lagi?”

“Ya. Aku harus mengantarkan barang lagi. Ada lagi yang kamu butuhkan?”

“Enggak, biar aku aja yang nganterin barang ini ke Cafe Bibi In”

Laki-laki yang memakai kacamata itu menaruh 1 box besar dan 1 box kecil

“Selamat tinggal” Kata laki-laki berkacamata itu

“Bye” Jawab kami bertiga

“Kalian tau tempat ini?” Tanya Rafael

YES OR NO?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang