Hari-hari perlahan berubah, menuju Oktober dimana daun-daun berganti warna dengan perlahan dan tidak pernah mudah untuk disadari sampai akhirnya kau bertanya-tanya bahwa oh, sejak kapan daun itu menjadi jingga?
Untuk Baekhyun, setiap hari yang ia lewati sepertinya semakin memburuk dan memburuk, dengan tugasnya, teman-temannya, dan Chanyeol.
'Baekgyu?
Baekgyu.
Baekgyu!'
Hanya itu hal yang Baekhyun dengar sepanjang hari, dan ia tidak tahu seberapa besar ia bisa membenci sebuah nama hingga ia diberi nama Baekgyu.
Itu semua terasa seperti sudah 10 tahun sejak terakhir kali ia dipanggil Baekhyun, padahal kenyataannya, ini baru berjalan sekitar 1 bulan dan beberapa hari. Dan juga, ia mendapati Baekgyu memanggilnya Baekhyun beberapa kali (tapi mendengar kembarannya memanggil namanya sebenarnya tidak memuaskan sama sekali).
Ia sedang duduk di kursi belajarnya yang belum lama ini ia pindahkan ke sisi ruangan lainnya —karena Chanyeol terus mengganggunya ketika ia belajar. Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, ia merasa kesal karena ia harus belajar, kemudian ia ingat bahwa semua orang tidak suka belajar karena itu sangat membosankan.
Baekhyun menoleh ke arah jendela dan menghela nafas ketika ia melihat bahwa di luar sana hujan.
Ia tidak pernah menyukai hujan karena itu terasa dingin, itu membuat langit terlihat gelap, dan membuat pejalan kaki basah kuyup karena mereka tidak mengira bahwa akan hujan.
Salah satu alasan terbesarnya membenci hujan adalah karena saat kencan pertamanya turun hujan, dan saat itu ia memakai pakaian yang lumayan rapi. Ia —tentunya— membawa payung bersamanya, tapi saat berjalan di trotoar, beberapa mobil bodoh malah melewati genangan air dan membuat Baekhyun basah kuyup dari kepala hingga ke ujung kaki karena air berlumpur itu.
Kencannya di batalkan, dan setelahnya ia tidak pernah diajak kencan lagi, jadi Baekhyun percaya bahwa hujan adalah kesialannya.
Di hari yang sedang turun hujan seperti ini, ia lebih suka berada di dalam ruangan daripada di luar ruangan, tapi ini terlalu sunyi—selain suara hujan itu dan itu membuatnya gila. Ia ingin menyalakan musik, tapi ia tidak bisa belajar atau mengerjakan tigad dengan musik yang menyala. Biasanya, ia merasa nyaman ketika ia mendengar seseorang berbicara—terkadang tidak padanya, tapi hanya... bicara.
Pintu kamar mereka terbuka hingga berderit kecil, dan Baekhyun sebenarnya merasa kegembiraan tumbuh di dalam dirinya ketika ia mendapati bahwa Chanyeol sudah pulang.
Ia berjalan menuju Chanyeol dan menepuk pundaknya, membuat Chanyeol terlonjak karena kaget.
Baekhyun menertawakannya lalu Chanyeol membalikkan badannya dengan bibir cemberutnya. "Aku tidak tahu bahwa kau sudah di asrama," ucap Chanyeol dan Baekhyun melihat dua gelas kertas di tangan Chanyeol.
"Coklat panas?" Tanya Baekhyun dan Chanyeol mengangguk. Baekhyun tersenyum senang dan mengambil satu gelas yang Chanyeol tawarkan padanya. "Tunggu, jika kau tidak tahu bahwa aku di asrama kenapa membeli dua?"
"Aku tadinya akan menjemputmu setelah mengambil payung," Chanyeol tersenyum sambil memperlihatkan penampilannya yang hampir basah kuyup.
"Oh... Kau tidak perlu melakukannya..." Baekhyun berucap, pikirannya berusaha untuk memberi tahunya bahwa Chanyeol itu baik dan manis, tapi hatinya menolak untuk setuju. "Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan denganmu? Mandilah! Kau bisa terkena demam nanti," Baekhyun menunjuknya dan Chanyeol tertawa, lalu membuka jaketnya dan melemparnya ke sofa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry, Wrong Person | Chanbaek (Indonesian)
FanfictionTidak banyak yang tahu, tapi Byun Baekhyun memiliki saudara kembar yang lebih tua 4 menit darinya; namanya Byun Baekgyu. Jadi pada suatu hari, ketika seseorang mendatangi Baekhyun dan menyatakan cinta (yang tak kunjung hilang) padanya, Baekhyun sege...