[SORRY] - Planning

516 91 22
                                    

Author POV.

"Hyomin ah aku harus mengembalikan semua uang ini kemana?" Ucap jiyeon pada hyomin.

Ingat kejadian kemarin? Saat myungsoo melempar uang ke wajah namja jangkung itu. Semua uang jadi berserakan di jalanan dan namja itu pergi begitu saja bukan!

"Kau benar-benar tak mengenal namja itu? Mungkinkah ia salah satu dari pelanggan kita?" Tanya hyomin.

"Aniya, aku baru melihatnya"

"Apa ada sesuatu yang mencolok dari namja itu? Name tag misalnya"

"Namja itu memakai pakaian santai dan aku melihatnya mengendarai mobil sport"

"Bagaimana dengan plat nomor mobilnya? Kau mengingatnya?"

"Eumm aku melihatnya dari kejauhan" Ucap jiyeon sambil terkekeh pelan.

"Namja itu pasti orang kaya jadi simpan saja uangnya"

"Ini terlalu banyak lagi pula ini bukan milikku"

Jiyeon sungguh kebingungan sekarang, bagaimana ia bisa bertemu lagi dengan namja penolongnya itu. Jiyeon ingin sekali membalas kebaikan namja itu.

"Apa namja itu tampan?" Tanya hyomin tiba-tiba. Jiyeon mengangguk membuat hyomin tersenyum senang.

"Akhirnya park jiyeon tertarik dengan seorang namja" Ucap hyomin.

"Apa maksudmu? Selama ini aku normal" Kesal jiyeon.

"Normal apanya, kau ini menolak berkencan! Kau menolak beberapa namja yang menyukaimu bahkan kau menolak ajakan kencan dari seorang pengusaha kaya raya"

"Aku tidak suka komitmen"

"Jauhkan semua pikiran jelekmu tentang namja-namja di luar sana. Tak semuanya sama dengan apa yang kau pikirkan. Kalau terus seperti ini, kau akan jadi perawan tua" Ledek hyomin. Jiyeon nampak berpikir.

Ia memang menolak untuk berkencan. Di umurnya yang cukup matang ini jiyeon tidak pernah memiliki satupun namjachingu atau seorang teman namja yang dekat dengannya.

Kehidupannya begitu datar, tak ada rasa bahagia saat seseorang yang ia cintai balik mencintainya ataupun rasa sakit saat harus berpisah dengan kekasihnya. Bagi hyomin jiyeon terlalu terpaku pada sikap buruk seorang namja yang menurutnya tak semua namja bersikap seperti itu.

Mungkin karena trauma masa kecil dan keluarga yang berantakan membuat jiyeon besar dengan keyakinan seperti itu.

"Sudah saatnya membuka hati" Ucap hyomin dengan senyuman yang begitu tulus.

.

"Jadi apa rencanamu hari ini?" Tanya sehun pada myungsoo. Mereka tengah berada di sebuah bar di gangnam.

"Menemui  jiyeon di caffe tempatnya bekerja" Ucap myungsoo sambil menenggak wine.

"Biar ku tebak! Kau akan berakting seolah-olah kau tak sengaja bertemu dengannya, begitu?"

"Benar"

"Ah .. "

"Yak kim myungsoo apa kau sudah menemui appamu?" Tanya sehun. Myungsoo hanya menggeleng.

"Kembalilah ke rumah dan bicaralah dengannya. Kau tau, kau punya perusahaan yang harus tetap berjalan" Ucap sehun.

"Aku tak sudi bertemu dengannya" Myungsoo menenggak lagi wine di tangannya.

"Lupakan dulu masalahmu dan uruslah perusahaan itu, apa kau mau jatuh miskin! Appamu itu sudah tua"

"Ya, tua dan tak tau diri"

SORRY [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang