Chapter 3

16 4 4
                                    

Sungguh, hari ini adalah hari termalas untuk Destiny. Dia disuruh Laura untuk membawakan kue untuk Aden. Iya! Aden si cowok beruang kutub! Si cowok jangkung yang nyebelin tingkat dewa.

Destiny tidak tau hal apa lagi yang akan terjadi dengan dirinya saat berhadapan dengan cowok itu lagi.

"Destiinn!!!"

Destiny tak kunjung menoleh saat seseorang memanggilnya. Bagaimana dia mau menoleh saat orang yang memanggil namanya saja salah? Dia sangat tahu jika orang itu adalah Laura. Sahabatnya itu suka sekali memanggilnya dengan sebutan itu. Membuatnya terdengar seperti seorang laki-laki.

"Oy! Destiny! Malah diem aja dipanggil." Laura menepuk bahu Destiny dari belakang. "Udah bawa kuenya belum?" tanya Laura seraya menaik turunkan alisnya.

"Udah," ucap Destiny kesal. "Astaga, Laura... lo mau bikin gue mati muda ya ngedeketin cowok itu?"

"Ya udah sih kalau gak mau soalnya gue udah punya daftar apa yang mau gue beli dalam seminggu nanti." Laura menampilkan senyum miringnya membuat Destiny mendengus kesal.

"Gak mau main TOD lagi deh gue. Mampus mulu gue sama lo," ujar Destiny lalu duduk di bangkunya begitu sampai di kelas.

"Sabar ya." Laura menepuk bahu Destiny prihatin.

“Sabar apaan. Kalau sesuatu terjadi sama gue karena cowok itu awas lo!” ancam Destiny dengan mata melotot menatap Laura. Sedangkan yang di tatap dengan santainya mengambil buku pelajaran dari tas dan menatanya di meja. Seolah-olah ancaman Destiny tidak ada pengaruh apapun terhadapnya.

“Gak akan ada yang terjadi sama lo kalau lo gak make hati saat ngedeketin dia.” Laura menepuk bahu Destiny sekali. “Lo tau kan maksud gue?”

“Apaan?” tanya Destiny antara malas dan bingung.

“Lo sama dia—” Laura menggerakkan tangan kirinya lalu tangan kanannya. Destiny masih menatap bingung saat tiba-tiba kedua tangan Laura bersatu tepat di depan wajahnya. “—saling suka.”

Destiny mengerjapkan kedua matanya sebelum akhirnya menjawab ucapan sahabatnya itu keki. “Gue gak pernah mimpi suka sama dia. Ogah banget pacaran sama cowok muka triplek kayak gitu. Big no!!”

“Oke, kita lihat nanti,” ucap Laura dengan senyum anehnya. Destiny mendengus lalu mengambil buku pelajarannya karena seorang guru sudah masuk ke kelasnya. "Jangan sampai ngejilat omongan lo sendiri."

"Bodo amat!"

♥️♥️♥️

Saat ini adalah waktu yang sangat tidak ditunggu Destiny. Waktu istirahat. Dimana Destiny harus menjalankan “perintah” Laura untuk memberikan kue kepada Aden.

Kenapa rasanya waktu berjalan dengan cepat saat Destiny tidak menantikan suatu waktu. Sedangkan saat dia benar-benar tidak menginginkan waktu, jarum jam di kelasnya seolah berputar secepat kilatan cahaya.

Ouh, oke. Cuma hari ini aja Des.

Saat keluar kelas, Destiny sudah bisa melihat laki-laki itu dari kejauhan sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya. Mungkin kelas Aden sedang jam pelajaran olahraga.

Destiny sempat bingung kenapa sahabatnya itu tahu jika hari ini ada jam pelajaran olahraga di kelas laki-laki itu. Atau hanya kebetulan?

Destiny menghirup napasnya dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan.”Oke, Destiny. Santai aja. Anggap aja nanti dia lagi senyum lebar dan sikapnya ramah banget sama lo,” ucap Destiny menyemangati dirinya sendiri. Lalu dengan langkah pasti Destiny melangkah menuju lapangan dengan kotak makanan berisi kue.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 23, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MELTINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang