"Jadi fangirl adalah cara tercepat untuk move on!"
Itu tanggapan Hera ketika teman sekelasnya curhat kepadanya karena patah hati. Gadis dengan kepribadian 4D yang aneh itu berhasil menarik perhatian Alden, salah seorang anggota klub basket. Namun He...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Hera tau betul pasti keesokan hari ketika Hera datang ia pasti akan dapat tatapan sinis dari banyak orang. Termasuk dari anak kelasnya. Sekarang saja, Hera sudah dapat banyak pertanyaan lewat chat dari teman yang hanya sekedar ingin tau.
Hera melempar bantal miliknya ke arah bawah ranjang, "Giliran gua ada masalah aja pada heboh nanya-nanya. Cih." decak Hera kesal.
Hera beranjak dan menuruni tangga, dari tadi ia belum makan dan ini sudah pukul tujuh malam. Sebetulnya ia masih kenyang karena Alden mentraktirnya tadi, tapi Hera masih ingin makan camilan malam-malam begini.
"Dih, lo lagi yang muncul. Emang rumah lo roboh apa begimana sih? Ngungsi ke rumah gue mulu." cecar Hera begitu ia melihat Kino, tetangga sekaligus merangkap menjadi sahabat dekat Hera.
Kino mengambil gorengan dihadapannya, "Rumah gue kosong. Males, enak disini banyak makanan. Makasih ya tante gorengannya!"
"Iya Kino! Makan aja jangan malu-malu gitu." sahut ibu Hera dari dalam dapur. Hera duduk disamping Kino, menatap temannya itu dengan tatapan beringas.
Kino yang menyadari tatapan beringas dari Hera pun segera memberikan tatapan bodoh miliknya yang disertai dengan cengiran bodoh. Temannya benar-benar mengerikan kalau sudah marah, sudah dipastikan kalau pulang nanti Kino bisa mendapatkan kepalanya yang botak tengah karena jambakan Hera.
"Kenapa sih, Her?" tanya Kino berusaha mengalihkan amarah temannya itu.
Hera mengambil tempat duduk dihadapan Kino, menatap Kino dengan tatapan yang menurut Kinoㅡtatapan orang gila. "Lo kenal Alden?" tanya Hera.
Kino menggeleng tak pasti, "Kayaknya pernah denger namanya… tapi dimana ya?" katanya sambil berusaha mengingat siapa itu Alden.
"Aduhh anggota basket!" seru Hera memberikan petunjuk.
Kino menjentikkan jarinya, membuka mulutnya lebar dan berseru, "Iya! Gue tau tuh! Kenapa?"
"Dia… gimana sih orangnya?" cicit Hera pelan.
Kino tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan Hera. Tidak mungkin ia mengenal Alden sedekat itu, tapi Hera berpikir setidaknya Kino tau sedikit mengenai Alden. Pasalnya ia juga anggota basket di sekolahnya.
"Gak tau tuh? Gue gak kenal siapa." sahut Kino acuh tak acuh lalu mengambil gorengan lainnya.
Hera mendesah pasrah, ia tidak bisa terus terang pada Kino. Kalau ia terus terang, maka Kino juga akan terang-terangan mengejek gadis itu. Menjadikan Alden sebagai senjata agar Hera mau menuruti perkataannya.
Cih, Hera bahkan sudah hapal perilaku Kino.
Hera berjalan ke kamarnya yang ada di lantai dua, sedikit menghentakkan kakinya menandakan ia sedang marah dengan sahabatnya itu. Kino mengangkat bahunya tak peduli, kenapa Hera bahkan marah padanya?