Winter Session

455 28 2
                                        

Dylan menggendong tas punggungnya. Ia juga membawa sedikit oleh - oleh untuk ayahnya dan orang - orang terdekatnya di dalam tas kertas di tangan kanannya. Pemuda yang baru saja pulang dari negeri sakura ini berjalan kaki menuju rumahnya. Tumpukan salju putih menutupi jalan, hal inilah yang menyebabkan sedikitnya taksi yang beroperasi pada hari itu. Salju ini pula yang mengharuskan Dylan memperhatikan langkahnya agar ia tidak tergelincir.

Sudah hampir 5 tahun Dylan meninggalkan negeri kelahirannya untuk menimpa ilmu di negeri seberang. Ia belum pernah pulang sama sekali sejak keberangkatannya saat itu. Kegiatan kuliahya menyibukkan dirinya sampai - sampai tidak ada waktu yang cukup baginya untuk pulang. Mesipun demikian, ia masih serig berhubungan dengan ayahnya melalu media sosial. Beruntung Dylan hidup di zaman dimana teknologi sudah maju. Kalau tidak, mungkin dia akan mudah terkena homesick disana.

Dylan melirik isi tas kertas yang dibawanya. Membayangkan wajah orang - orang terdekatnya tersenyum saat menerima buah tangan yang dibawanya. Ia juga mengingat - ingat apa saja yang kan diberikannya.


'Sekotak manisan untuk ayah dan Dokter Char, Gundam untuk Kory, action Figure untuk Ryan dan Nathan, Robot untuk Timmy, dan sebuah tas untuk Dolly.' Gumam Dylan dalam hati.


Dylan berhenti sebentar.


'Dolly ya? Bagaimana kabarnya? aku sudah tidak pernah menemuinya 5 tahun ini. terlebih dia tidak pernah menghubungiku.'  Dylan melamun saat memikirkannya.


Rambu merah mudanya, pita kuningnya, suara lembutnya. Dylan rindu sosok tersebut.


"Hey! Kembalikan! Itu mainanku!" Seru seorang anak kecil bertopi kuning.


Seruan tersebut membyarkan lamunan Dylan. Dylan menoleh ke suber suara. Terlihat dua orang anak berada tidak jauh darinya.


"Pinjam sebentar! Pelit amat sih! Ini kan baru keluar di toko mainan. Aku ingin melihatnya." Balas satu anak lainya yang bertubuh lebih tinggi dan mengenakan jaket berwarna hitam.

"Kembalikan! Kau baru saja merusak mainanku kemarin!" Si topi kuning berusaha merebut kembali mainannya.


Bocah berjaket hitam itu bersaha mengayun - ayunkan tangan kanannya yang mengenggam robot mainan tersebut agar tidak terambil oleh Topi Kuning. Dengan melihat perbadingan tnggi keduanya, tentu saja si topi kuning kalah dibandingkan dengan jaket hitam. Tetapi si topi kuning tetapigih berusaha merebut mainannya kembali. Entah karena apa, tangan kanan si jaket hitam terasa licin, membuat robot mainan tersebut terlempar ke sisi lain karena ia mengayunkannya terlalu kuat. Robot itu menhatam kerasnya aspal jala dan membuatnya terpecah menjadi beberapa bagian.

Melihat hal itu, si topi kuning menangis sambil memungut potongan - potongan robotnya. Sementara si jaket hitam kabur dan merasa tidak bersalah setelah merusak mainan si topi kuning. Dylan merasa kasihan, dan sedikit tertarik dengan mainan robot milik topi kuning. Ia mendekati bocah tesebut.


"Boleh aku melihat mainanmu sebentar?" Dylan bertanya dengan halus.


Topi kuning ini memberikan robot dan potongannya pada Dylan. Dylan mengajak si topi kuning menepi agar tidak menganggu orang yang lewat. Keduanya duduk di salah satu bangku di pinggir jalan. Dylan meletakkan tas kertasnya. Ia melihat dan berusaha menganalisis apa yang rusak dengan robot tersebut. Dengan cekatan, Dylan mengutak - atik robot tersebut. Dalam waktu yang singkat, robot mainan tersebut kembali terihat seperti baru. Tidak ada goresan yang menandakan jika robot ini pernah rusak. Tidak ada tanda - tada pecahan jika robot ini pernah menjadi beberapa bagian.


"Nih, jaga baik - baik ya?" Dylan mengembalikan robot tersebut kepada pemiliknya.


Si topi kuning tersenyum lebar. Ia menerima mainan tersebut degan wajah berseri - seri. Senyuman mengembang di wajahnya. Bocah bertopi kuning tu mengucapkan terima kasih sebelum pergi meninggalkan Dylan. Si Topi Kuning melambaikan tangannya pada Dylan dan beranjak pulang.


'Aku juga harus segera pulang.' batinnya.


Cekrek!


Dylan mendengar suara kamera yang baru saja menangkap sebuah gambar. Pemuda ini segera mengalihkan pandangannya menuju sumber suara.


"Ditemukan seorang pria di pinggir jalanbaru saja pulang dari negeri sakura tengah asyik mengutak atik robot mainan seorang anak kecil."


Suaranya terdengar familiar di telinga Dylan. Ia menangkap sosok orang yang memfotonya tadi.


"Bakal jadi top headline untuk Limo ini." Imbuhnya dengan senyuman manis darinya.


Rambut merah muda. Pita kuning yang disematkan di rambutnya. Suaranya yang lembut, juga gaya rambutnya yang diikat dengagaya ponytail. Dylan merasa terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan kekasihnya lagi setelah 5 tahun menghilang tanpa ada kabar.

Dolly menarik ikat rambutnya sehingga membuat rambutnya terurai. Memperlihatkan rambutnya pada Dylan yan sudah memanjang hingga selutut. Tepat pada saat itu pula angin lembut mengusap rambut merah muda Dolly yang panjang itu. Tangan kiri Dolly menyisipkan rambutnya kebelakang telinga, sementara tangan kannanya tetap memegang kamera yang dibawanya.

Dyan segera memeluk Dolly. Melepaskan rasa rindunya setelah 5 tahun tidak bertemu. Bahkan ia sempat menitikkan air matanya. Dolly membalas pelukannya. Ia juga merasa sangat bahagia dengan kepulangan Dylan. Perasaan yang mengekang keduanya selama ini terasa begitu lepas. Enggan rasanya melepaskan peukan tersebut.


"Jangan menangis, aku selalu menunggumu disini." Mengusap air mata Dylan yang membasahi pipi Dylan.

"Kemana saja kau tidak bisa kuubungi selama ini? Menyebalkan sekali." Dylan mengeluh dalam tagis harunya.


Keduanya melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Salju turun kemudian.


"Hacih!" Dylan bersin dengan suara cukup keras.

"Ayo pulang, sebelum kau terkena flu."Dolly membantu membawakan tas kertas yang tadinya dibawa Dylan.


Keduanya berjalan beriringan menuju rumah Dylan. Tempat hangat dimana Limo sedang menunggu Dylan.


"Apa kau sudah memberitahu Limo tentan keplangamu?" Dolly bertanya ditengah perjalanan. 

"Belum, aku masih merahasiakannya. Aku hanay memberitahumu, Ryan, Kory, dan Nahan." Dylan menjawabnya dengan nada riang. Membayangkan bagaimana wajah ayahnya saat ia terkejut melihat dirinya pulang.


Dolly tertawa kecil mendengarnya.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" Dylan tampak kebingungan.

"Tidak, bukan apa - apa." Dolly menjawab dengan polos.


'Kau lihat saja nanti' Dolly bergumam dalam hatinya.


*To Be Continue*

Sugar Cherry BlossomWhere stories live. Discover now