Aku selalu ingat pada malam yang kau ceritakan padaku
Saat gelap menyelinap di ruas rasa yang beradu
Kau menemukan diriku tak lagi menyapamu
Saat itu, tak mengapa kau membenciku
Sajak-sajak berdalih rindu kusematkan untuk memuja diri
Bukan rangkaian kasih menggiring untuk kembali
Hanya saja aku lelah bermain tanpa arti
Jadi, tak mengapa kau membenci.
Barangkali senja di sore itu tahu
Bila dedaunan ada saatnya terhempas tanpa mau
Sesekali ingin tetap tinggal pada rumah yang dituju
Tapi ia tetap jatuh.
Kau tahu tiba masa pertemuan itu berakhir
Sajak yang kutulis itu yang terakhir
Dan namamu tak terdengar lagi olehku
Tak mengapa kau membenci hadirku.
Makassar, 19 Agustus 2017
