Di kantin luna & jennie melihat tiga serangkai sedang tertawa bersama seorang cewek
"siapa tuh anak, berani beraninya dia godain doi gue" jennie mulai melangkahkan kakinya tetapi terhenti karena luna menahan tangannya.
"eits, lo gak boleh gitu dong, biarin kek dia sama siapa aja kan dia juga gak ada hubungan sama.. " luna menghentikan pembicaraannya, ia merasa tidak enak jika mengatakannya, ia takut jika nanti sahabatnya itu sedih.
"iya deh, lo ada benernya juga" jennie pasrah
"gue tau siapa cewek itu"
"siapa? "
"dinda, dia dulu se-gugus sama gue" jawab luna.
Dinda melihat sosok luna, ia pun segera menghampiri luna
"lun, kelas apa lo sekarang"
"X b, kalo lo? "
"deket dong, gue X c"
"lo sekelas sama tiga serangkai? " jennie berusaha tetap tenang, ia menyela pembicaraan diantara luna dan dinda
"hah? Tiga serangkai?" dinda mencerna kata kata jennie
"eh, maksut gue ryo"
Akhirnya dinda mengerti apa yang dimaksud jennie
"oh ryo, iya gue sekelas. Lo suka sama dia?"
"kagum sih" jawab jennie malu
"gue samperin nanti ke ryo"
"jangann nan..." jennie menggantungkan kalimatnya. Dinda tidak pernah berbohong, dia langsung mengadukannya kepada ryo.
"mampus deh gue"
"udah lo tenang aja" jawab luna dengan entengnya.
Dinda berjalan menuju ke arah ryo dan teman temannya
"yo, ada yang suka sama lo tuh"
"hah? Siapa? Lo mah ada ada aja"
"gak tau gue namanya, gue aja belum kenalan"
"lo gimana sih" ryo tertawa melihat ekspresi dinda yang nampak kebingungan
"pokoknya dia biasanya sama luna anak X b, lo tau kan?"
Ryo mengingat kejadian sewaktu dia diajak berkenalan dengan cewek namanya jennie kemarin, sebenarnya dari awal ryo tidak begitu suka dengan jennie.
"ooh, gue tebak nih ya, namanya jennie kan"
"iya kalau gak salah. kok lo bisa tau sih, udah kayak roy khisoyi aja"
"roy kiyoshi kali" ucap putra membenarkan
"ternyata ada juga ya yang mau sama ryo" celetuk bagas ngasal
"gue kan ganteng, gak kayak lo pada yang jarang mandi"
"enak aja lo, sehari gue mandi sekali" jawab bagas
"wah pantesan nih dari tadi gue kok kayak bau tai kambing ya" cerca putra.
"udah, lo pada ya. Mending ikut gue deh"
"dih males ngikutin lo, mending gue makan bakso nya mbak susi" jawab bagas
dalam persahabatan tiga serangkai, memang Bagas adalah yang paling suka bercanda, omangannya aja suka ngasal, walaupun terkadang garing, tetapi setidaknya bagas sudah menghibur orang lain. Begitupun Putra, otaknya agak mesum, tetapi sopan dan gak pernah nyakitin sesorang. Sedangkan ryo, orangnya paling kece diantara ketiganya, lebih mengutamakan soal penampilan dan paling anti sama yang namanya cewek yang agresif, prinsipnya adalah ~lebih baik dia yang ngejar, bukan dikejar~
Luna & Jennie berjalan ke arah tiga serangkai, jennie ingin membenarkan perkataan dinda
"ryo"
"apa" balas ryo singkat, pandangannya mengarah pada sosok jennie yang sedang memanggilnya
"maaf, yang dibilang dinda tadi salah"
"kok sal.. " suara dinda melemah dan akhirnya terhenti, kakinya diinjak oleh luna. Kini dinda mengerti apa maksut luna.
"oh itu. Lo suka sama gue? "
"jujur, lebih tepatnya gue kagum sama lo, itu aja. Boleh kan?" jennie agak gemetar mengatakannya.
"boleh aja sih, tapi.."
"tapi? Kenapa? "
"lo harus siap patah hati, karena gue udah suka sama seseorang"
'degg' nafas jennie tercekat begitu mendengar reaksi dari ryo.
"ryo mau nikah sama mbak susi soalnya" celetuk bagas, ia berusaha mengendalikan ketegangan diantara jennie dan ryo.
"sst diem lo kambing, mending lo ikut gue ke kamar mandi. Gue udah gak tahan" ujar putra
"ngapain lo"
Putra mulai membisikkan sesuatu ke bagas "anu gue berdiri nih"
"anjir lo, ya udah ayo"
Putra dan bagas segera pergi ke kamar mandi
Sementara itu jennie rasanya sudah tidak kuasa, air matanya mulai berkaca kaca. Ia berusaha tidak menangis saat berada didepan ryo.
"gue ke kelas duluan ya, bye" pamitnya, kemudian lari begitu saja.
"gue juga ya" luna mulai melangkahkan kakinya
"tunggu" cegah ryo
"ada apa? "
"gue mau bicara sama lo"
Dinda yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka kini ia mulai beranjak pergi
"yo, gue laper nih, gue ke kantin duluan ya"
"yoi.. " jawab ryo, kemudian dinda pergi, kini hanya ada ryo dan luna.
"lo mau ngomong apa? "
"gak enak disini, ikut gue ke taman belakang"
"tapi ini kan belum bel pulang"
"tenang aja, kalo sama gue gak bakalan dihukum kok" cerca ryo
Luna dan ryo duduk di taman belakang. Disana suasananya lumayan ramai, jadi luna tidak khawatir.
"gini, sebenarnya gue gak begitu care sama temen lo itu"
"jennie?"
"iya" ryo mengangguk angguk
"kenapa?"
"kelihatannya dia cewek yang agresif, gue dari dulu gak suka dikejar kejar"
"jennie gak gitu kok"
"ya jelas lo sahabatnya, pasti lo belain dia. Nih ya, kemarin dia nge dm gue di ig" ryo mulai mengambil ponselnya dari saku dan kemudian menunjukkan isi dm nya dengan jennie
jenniee.s
Ryo
Gue yang tadi
Boleh minta follback ga?
Oh, boleh
Lagi apa?
Kok ga bales
Sibuk ya
Ya udah maaf gue ganggu
baru selesai belajar
Oo, gitu
Belajar apa emang?
Mat
Ryo.. Lo nge follow luna ya?
Y
Kok satu huruf doang sih
Ya udah, night ryo..
Setelah itu tak ada balasan lagi dari ryo. Luna yang membaca pesan tersebut langsung geleng geleng sendiri, tak percaya jika jennie menganggap cintanya berlebihan seperti itu. Di sisi lain, ia juga kasihan. Karena jika luna saat ini berada di posisi jennie pasti juga menyakitkan, baru suka aja udah di tolak mentah mentah. Tetapi apa yang dilakukan ryo untuk menjauh dari jennie juga benar, dari awal ryo tidak suka, kalau cinta dipaksa pasti tidak akan berjalan dengan baik, luna mengerti itu. Entahlah ia sangat bingung kali ini.
"udah selesai baca nya?"
"udah" luna menyodorkan handphone ke ryo
"lo tau sendiri kan?"
"ya"
"bantuin gue.. " minta ryo
"dalam hal? "
"lo mau ga jadi pacar gue, sementara"
"kok gue sih"
'males amat' gerutu luna dalam hati, ia takut jika nanti persahabatannya dengan jennie buyar begitu saja hanya karena satu cowok.
"ya udah kalo lo gak mau, gue bakal bujuk dinda"
"okay" luna pergi menuju kelas meninggalkan ryo yang masih terdiam disana.
'dasar cuek, cewek mana yang gak mau gue ajak pacaran. Cuma lo doang lun' ucap ryo dalam hati
Jennie menelusupkan wajahnya kebawah, kedua tangannya ia taruh
di meja
"jen.. Udah, lo yang sabar ya"
"menurut lo gue ini gimana sih, jelek atau perilaku gue yang salah"
"bukan masalah cantik atau jeleknya lo, baik atau buruknya sikap lo, tapi hati lo yang terlalu berlebihan"
"hati? "
"iya hati, seharusnya lo gak boleh memaksain lo buat jadi pacarnya ryo, lo terlalu cinta sebegitunya sama ryo dan lo ngerelain apa aja yang penting bisa buat ryo bahagia, termasuk harga diri lo"
"kok lo tiba tiba bijak gini sih"
Entah setan apa yang masuk kedalam diri luna hingga ia berbicara sepanjang dan sebijak itu.
"gak tau" luna menggelengkan kepalanya sambil menggeruk kepalanya yang tidak gatal
"jadi gue harus ngehindar dari ryo?"
"ya gak gitu juga, lo tetep boleh kagum kok" luna berhenti sebentar kemudian melanjutkan kata katanya "tapi jadi pengagum rahasia"
"oke, mulai besuk gue bakal biasa aja kalo didepan ryo" gumam jennie menyetujui
"kok mulai besuk? Mulai sekarang dong"
"nah iya maksut gue itu"
"katanya nanti sore lo ada seleksi osis?"
"iya, nanti lo ikut sama gue ya, gue jemput nanti"
"gue kan gak ikutan seleksi osis" gumam luna
"yah gpp, siapa tau nanti lo tiba tiba pengen ikutan"
"ya deh, asal lo bahagia"
"unch, jadi cinta"
"gue tabok pakek sepatu lo"
"ampun neng"
'haahahaha' mereka berdua tertawa sampai sampai perut luna kesakitan.
Makasih buat yang udah baca, vote ya buat next part💕
Follow my ig @ajeng.kf
KAMU SEDANG MEMBACA
Laluna
Teen FictionPanggil saja Luna. Gadis berparas cantik namun cukup terlihat cuek dimata cowok
