BAGIAN 4

44 14 5
                                        

Aku pergi meninggalkan kak Reza sebelum sempat menjelaskan kejadian yang terjadi. Kak Reza sempat mengejarku namun aku keburu menaiki angkot yang kebetulan lewat didepanku.

"Maaf, aku hanya tidak mau memperlihatkan kesedihan ini kepadamu." Gumamku dalam hati.

Setelah 10 menit angkot menerobos jalanan kota yang hampir petang, akhirnya aku sampai didepan gang rumahku.

Dengan mata sembab dan pikiran kacau, aku mengetuk pelan pintu rumah dan mengucapkan salam lirih. Mama segera menyambutku dan bertanya tentang kondisiku.

"Rena kamu kenapa? Kamu abis nangis?" Tanya mama khawatir.

"Maaf ma, Rena ngga sempet beliin mama nasi padang." Aku menjawab hal yang tidak ditanyakan oleh mama.

"Oh yaudah gapapa. Kamu mandi dulu gih sana."

"Iya ma. Rena masuk dulu."

Aku segera menaiki tangga menuju kamarku diatas. Setelah mandi dan sholat aku menyempatkan diri untuk turun menemui mama. Kulihat mama sedang sibuk dengan penggorengannya didapur.

"Eh Ren." Sapa mama seraya asyik memainkan spatula ditangannya.

"Ada yang bisa Rena bantu ma?" Aku menawarkan bantuan kepada Mama.

"Tolong ambilkan cabe merah dikulkas ya." Pinta mama.

Sebenarnya mama adalah orang yang super duper sibuk. Selain menjadi guru di salah satu SMA dikotaku, mama juga memiliki toko kue yang cukup besar. Namun malam ini mama menyempatkan untuk membuat makan malam, dan ini semua adalah kesalahanku karena tadi tidak sempat membeli makanan.

Makan malam berjalan sangat hangat. Mama sesekali mengajakku mengobrol tentang aktivitasnya seharian.

"Ma, besok kan weekend, mama sibuk ngga?"

"Hmm besok mama harus ke toko kue sayang. Mungkin mama disana seharian. Mama kan juga perlu memantau perkembangan toko kue itu Ren."

"Oh yaudah ma."

"Kamu mau ikut ngga?"

"Nggausah ma. Rena dirumah aja."

Sebenarnya aku hendak mengajak mama berkunjung ke makam papa. Namun aku mengurungkan niatku. Aku tidak mau mengganggu kesibukan mama.

"Mungkin besok aku bisa kesana sendiri." Pikirku dalam hati.

"Ngomong ngomong kenapa tadi kamu nangis pulang sekolah?" Tanya mama baik-baik.

"Gapapa ma. Rena cuma kangen sama papa."

"Mama juga rindu sama papa Ren."

Pukul 21.00 aku merebahkan tubuhku diranjang. Suasana hatiku membaik setelah berbincang-bincang hangat dengan mama. Aku kembali memikirkan satu hal. Kak Reza.

"Ternyata kak Reza adalah anak itu? Dan kak Reza selama ini mengenalku? Astaga. Mengapa aku baru tau sekarang?"

Malam ini aku banyak memikirkan tentang kak Reza. Aku senang ternyata kak Reza mengenalku. Kini peluangku untuk dekat dengan kak Reza semakin besar.

Pagi harinya setelah mama pergi dari rumah, aku bersiap-siap untuk pergi ke makam papa. Ketika aku sedang menunggu angkot didepan gang, seorang pria yang mengendarai motor berhenti dan menghampiriku. Motor itu terlihat familiar dimataku. Yap betul, pria itu adalah kak Reza. Mendadak jantungku berdetak sangat kencang.

"Ren kamu mau kemana?" Tanya kak reza sembari melepas helmnya.

"Loh kakak sendiri mau kemana?" Aku malah balik bertanya.

"Sebenarnya aku mau kerumahmu."

"Loh kakak tau rumahku?"

"Udahlah kita ceritain nanti. Btw kamu mau kemana?"

"Aku mau ke makam papa kak."

Kulihat dengan jelas raut wajah kak Reza yang terlihat kebingungan. Mungkin kak Reza tidak tahu kalo papa sudah meninggal.

"Oh yaudah aku anter ya."

"Eh nggausah repot-repot kak." Aku berkata bohong. Sebenarnya aku sangat ingin diantar oleh kak Reza.

"Gapapa ayo naik."

Kak Reza memberikan sebuah helm berwarna merah.

Kami pun menuju ke pemakaman. Aku bersimpuh seraya berdoa disamping makam papa. Kak Reza yang daritadi prihatin pun ikut menaburkan beberapa genggam bunga bungaan yang aku bawa dari rumah tadi.

Setelah itu kami menuju ke taman dekat pemakaman. Kami duduk disalah satu bangku berwarna putih.

"Maaf kak kemaren aku ninggalin kakak begitu saja." Ucapku dengan menundukkan kepala yang berarti menyesal.

"Gapapa Ren. Btw kenapa kemaren kamu nangis?"

"Aku ngga sanggup mengingat kejadian malam festival lampion itu kak."

Aku menjelaskan semua kejadian itu kepada kak Reza. Kak Reza mendengarkanku dengan tatapan tidak percaya.

"Maaf Ren, aku ngga tau. Maaf aku sudah membuka ingatanmu kembali. Aku benar benar menyesal."

"Nggapapa kak. Btw darimana kakak tau namaku? Dan bagaimana kakak masih ingat aku?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

"Jelas lah. Aku selalu mengingatmu Ren. Aku masih hafal betul wajah cantikmu saat ini maupun 4 tahun yang lalu. Dan saat aku tau bahwa kita satu sekolah, aku langsung mencari tau namamu. Hmm.. Gabby Renata. Nama yang indah."

Aku tersipu malu mendengar penjelasan kak Reza. Aku tidak menyangka bahwa kita bisa sedekat ini. Aku bahkan tidak menyangka jika selama ini kak Reza mengenalku.

"Sebenarnya aku sudah mengenalmu dari dulu Ren. Aku terkadang malu jika mau memanggilmu."

Pernyataan kak Reza barusan membuat jantungku seakan mau copot. Aku gugup dan salah tingkah.

"Oh ya, aku tau rumahmu karena sebenarnya aku ngikutin kamu kemaren. Aku khawatir melihatmu menangis tanpa sebab. Jadi aku putuskan untuk mengikutimu. Dan rencananya hari ini aku mau kerumahmu untuk minta penjelasan darimu."

Ya Allah kenapa jantungku tak berdetak normal. Aku menarik nafas dalam dalam.

Aku benar benar tidak tau bahwa hari ini akan menjadi hari yang spesial bagiku. Hari ini adalah hari yang menjadi awal pertemuan kita.

****

TBC

Terimakasih yang mau baca part ini ya. Jangan lupa vote dan comment juga. Saranghae♥

ResahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang