Salah satu doa yang selalu kupanjatkan kepada Tuhan adalah bisa melihatmu tersenyum. Walaupun senyum yang engkau berikan bukan untukku, itu tak masalah. Sebab aku mencintaimu.
Aku tidak melarangmu menjauhi semua orang kecuali aku. Aku hanya ingin engkau bahagia dengan orang orang yang engkau sayangi.
*~*
Bel sekolah berdering kencang. Aku menyeret Lisa yang sedari tadi asyik mengobrol dengan Irine. Lisa dan Irine adalah sahabat baikku. Kita pernah satu kelas bahkan satu kelompok dulu di kelas 7C. Namun, saat kelas 8 Irine terpisah dengan aku dan Lisa. Irine mendapat kelas 8B sedangkan aku dan Lisa di kelas 8A.
Namun bagi kita itu tidak masalah. Sebab kelas kita masih bersebelahan, jadi kita masih sering bertemu satu sama lain.
"Apaan sih Ren, Irine sama aku kan lagi ngobrolin oppa oppa korea nih. Lagian Bu Epi juga belum masuk kok."
"Tapi kan Sa, nanti kalo kita telat masuk, kita bisa kena hukum sama Bu Epi. Kamu mau? Engga kan?"
"Iya iya miss bawel."
"Kita lanjut nanti lagi ya Rin. Byee.."
"Oke bye juga Lisa.. Rena.."
Jam pertama adalah matematika. Pelajaran yang sangat menyebalkan bagiku. Semua murid di kelas terlihat lesu kecuali si Matematikawan yaitu Satria. Dia terlihat sangat antusias dari tadi. Dia adalah murid yang sangat pandai. Soal matematika yang paling rumit pun bisa dia selesaikan kurang dari 5 menit.
Hoahm... aku menguap untuk kesekian kalinya. Tiba tiba Lisa yang duduk disebelahku menyenggol tubuhku. Aku kaget. Saat aku hampir menjitak kepala Lisa, aku melihat kak Reza sedang berjalan menuju kelasku. Aku refleks merapikan rambut cokelatku yang dari tadi tidak beraturan.
Kak Reza membawa kotak infaq berisi uang receh. Oh ya, aku lupa hari ini hari jumat. Dan seperti biasa di sekolahku ada infaq keliling yang nantinya uang tersebut digunakan untuk keperluan masjid dan lain lain.
Kak Reza Pradana adalah ketua osis di sekolahku. Dia sangat bertanggung jawab dengan jabatannya itu.
Mataku tidak berkedip melihat kak Reza didepan kelas. Suara tegasnya membuatku diam tak berdaya. Lantas ia berjalan ke bangku murid murid untuk memintai infaq seikhlasnya.
Ketika ia sampai di mejaku....
"Kak Reza......."
"Hmm.. iya ada apa?"
Aku baru sadar. Ternyata dari tadi aku sedang melamunkan kak Reza. Ya ampuun kenapa aku selalu bertingkah bodoh saat didekat kak Reza..
"Eh eh gapapa kak, ini aku cuma mau ngasih infaq."
"Oh makasih ya."
"I..i..iya"
Akhirnya bel istirahat berbunyi.
"Eh Ren, ke kantin yuk."
"Males ah. Aku mau tidur aja."
"Dasar kebo! Ayolah aku lapar nih. Aku traktir bakso Mak Min deh."
"Lisaaa, aku ngga laper. Plis ya, aku pengen tidur banget. Mending kamu samperin si Irine sana. Dia pasti mau."
"Au ah zebell!"
Istirahat pertama aku habiskan dengan tidur. Haha, aku memang suka tidur. Kupikir tidur lalu memimpikan kak Reza adalah kenikmatan yang hakiki.
Namun baru sekejap aku tidur, tiba tiba....
Semua bergoyang, lampu diatas jatuh seketika. Kursi kursi bergerak kencang menimbulkan bunyi kekacauan. Kelasku seakan mau roboh. Tembok tembok bergetar hebat. Bingkai bingkai foto pahlawan jatuh pecah berhamburan.
Ada apa ini? Aku bingung sambil menahan takut. Lantas aku segera lari tergopoh-gopoh meninggalkan kelas sambil sesekali menghindar dari benda benda yang jatuh dari atas.
"Gempa... gempa..."
"Lari semua... lariii..."
Atap bangunan mulai roboh. Dan sebuah benda menimpa kakiku. Aku terjatuh dan tidak berdaya. Aku menangis katakutan sambil berteriak meminta tolong. Kelas dalam keadaan kosong, dan diluar sana anak anak pasti sedang berlari menyelamatkan diri. Tidak ada yang mendengarku. Aku takut. Aku menahan sakit. Aku pikir inilah akhir kehidupanku.
*~*
Bagaimana menurut kalian Part 1 ini? Masih berantakan ya?
Jangan lupa vote & comment ya❤
HAPPY READING😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Resah
Roman pour AdolescentsAku hanya mencintaimu. Entah ini sebuah kutukan atau apa, namun aku pikir aku hanya bisa mencintai satu orang di dunia ini yaitu kamu. Dan disaat engkau pergi meninggalkan luka yang teramat mendalam, pergi untuk selama lamanya, aku pikir inilah akh...
