sepanjang jalan yang sunyi

19 2 0
                                    

Sementara di pos ke 2.

Pos ke dua ini dijaga ole defi dan fitra. Mereka hanya ditemani satu senter dan makanan ringan serta minum seadanya. Tempat pos ke 2 ini sekitar 1 meter an dari pos pemberangkatan. Pos ini berada di pertigaan. Kalau lurus ke araah tempat JJM kalau belok itu isinya villa-villa kosong. Jadi kenapa mereka berdua ditempatkan disini, karena tahun lalu (pas aku jadi peserta) pernah ada kejadian peserta hilang pas diklat. Hilang selama 2 jam dan alhamdulillah ketemu.

Devi dan fitra bertugas mengingatkan jalan yang benar kepada peserta dan juga menghitung setiap peserta. Di pos 2 peserta gak disuru berhenti, mereka cuma dikasi tau "lurus aja dek".

Suasana disini tenang dengan angin yg lumayan dingin. Cukup membuat mengigil serta bulu kudu merinding.

Satu persatu peserta lewat. Sampai di peserta terakhir tidak ada yg aneh sampai mereka berdua menyadari catatan masing2. "berap jumlah total aslinya ?" tanya defi kepada fitra. "18" jawabnya.
"Lha kok catatanku 19, kamu ?" tanya defi keheranan.
"lah sama aku juga 19. Itu tadi siapa yg terakhir, pakai baju merah juga lewat sini"
"iya aku juga lihat. Halah mungkin itu anak2 muda yg lagi mabok didaerah sini, ini kan tempat sepi" dengan nada sok berani, defi berusaha membuat suasana agar tidak lebih horror. Tapi sepertinya fitra masih berpikir, peserta terakhir ini bukan manusia. 
"eh serius dep, kalau mabuk juga kenapa dia ga sempoyongan. Jalan aja gitu kayak orang normal. Kamu tau gak sih tadi ?" 
"hiii wes to fit, malah diperjelaaasss"
"yang tenang"
"kamu yg bikin ga tenang geblek"
"yowis ayo jalan.  lanjut ae".
Akhirnya mereka pun jalan menembus hawa dingin yg menyeramkan di pacet.
.
.
Pos Pemberangkatan

Aku berada Di pos pemberangkatan ke 2 bersama senior2 tua yang uda lulus beberapa tahun yang lalu.  Angin disini kerasa banget dinginnya. Aku sampai mengoleskan minyak kayu putih beberapa kali ke tangan dan leherku.
"lha kita jalannya kapan mbak?" tanyaku kepada mbak anis.
"sek tunggu bentar dulu"
"eh dulu katanya ada yg kesurupan ya waktu di bawah?" tanya mas hamdan kepasaku.
"pas kapan ? Tahun ku ?"
"iya"
"oalah, itu aku mas"
"lha nanti kamu mau ikut ke bawah ? Yakin?"
"iya, gapapa mas. Seng penting jalannya ga sendirian"
"yowis yakin lo yoo"
"berangkat sekarang aja kalo gitu"
"ayo ayo" lalu kami semua pun berangkat bersama-sama.

Di pertengahan jalan, aku bertemu dengan maman, defi dan fitra Alhamdulillah aku ada teman ngobrol. Masalahnya aku kalo smaa senior2ini, ya bener aku g sendirian tp aku rasanya sendiri tjoy, soalnya ga diajak ngobrol. Takutnya nanti aku malah menggok2 sendiri ke jalan lain dan mereka ga tau.

"lhoo drrrtek" kata maman.
"hoy, akhirnya ketemu kalian disini". Tanpa berkata apa-apa aku ikut maman, defi dan fitra. Sepertinya para senior juga paham, jadi kayaknya aku ga perlu izin buat gabung sama mereka.
"esti mana sama panji?"
"dibawah"

"eh drrr" panggil maman.
"apa ?"
"enggak. Eh jangan sendirian lo. Jagain adekmu fit" temen2 ku emang sering sebut aku adeknya fitra, karena kita smaa2 pakai kacamata dan satu jurusan. Kan ga jelas banget
"emang sebenernya aku ga bole sendirian, padahal sudah bertaun2 sendiri dan kuat" 
"halaah taii" kata fitra menarik krudung bagian depanku. Sementara defi cuma tertawa.
"eh sialan"
"ga berhenti dulu ta ini ?" kata defi.
"iya yuk"

Kita harus bergenti dulu ni disini. Karena di sana ada pos. Dan beberapa peserta diklat di interview.

"gimana?" aku lalu menoleh ke arah suara.
"hii mas novel, kaget aku. Eh mas tadi ada peserta diklat sakit, tak taru di kamar bawah. Tak ajak kesini gamau. Aku ga yakin dia sakit beneran. Kayaknya dia ga kuat nahan ngantuk"
"iya taa?"
"cobak pean ajak sini mas. Kali aja mau kalo di jemput cowok"

Tadi, sebelum jalan ada peserta yang sakit. Aku si mikirnya dia sakit jadi2an. Maksutku sakit dibuat2 gitu. Tak ajak kesini ga mau. Eh taunya pas di jemput sama mas novel dan defi dia mau ikut. Kan anjir banget ya. Aku uda alus2 tu ngajaknya, cuman firasat aja kalo dia emang ga beneran sakit.

Setelah dirasa uda pada interview di pos, kita lanjut jalan. Aku pegang jaket yang dipakek fitra terus. Karena kaki ku ini suka jalan ga kearahnyaa. Nah abis itu kita berhenti lagi. Tempatnya disini bener2 gelap. Ga ada lampu. Untungnya ini bukan musim hujan jadi ga becek jalannya.

Kita berhenti di kayak perkebunan gitu. Kurang jelas kebunnya apa. Ga terlalu besar dan masih banyak pohon2 besarnya juga. Mataku uda mulai jelalatan gak enak ni dan secara otomatis aku noleh ke arah kanan ku (sorry ya aku ga tau arah timur barat dkk haha). Sebenernya aku gamau noleh tp aduh susah dijelasin. Untuk memastikan ada hantu atau enggak disitu aku menoleh ke arah kiri, tidak ada rasa aneh dan biasa aja. Aku menoleh ke kanan lagi dan dia mulai menunjukkan wujud aslinya. Masih sama hitam. Aku lihatnya dia kayak ada topinya gitu dan besar. Kayaknya si cowok. Mata batinku mulai bekerja, aku tatap dia terus. Aku masih santai karena aku fikir dia cuman mau menunjukkan diri aja. Kan kami nda ganggu, dan disini gaada yang teriak2. Kita semua diam menyusuri jalan.

wujudnya begini.

 jadi yang aku kira topi itu ternyata kepalanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

jadi yang aku kira topi itu ternyata kepalanya. Itu yang dilihat Maman. (sumber gambar dari weebtoon kayaknya ini)

Sepertinya maman uda kerasa ni aku mulai lihat apa-apa. Dia memutar kepalaku ke arah lurus, tapi aku tidak sadar kembali menatap hantu disana lagi. Sampai 2 kali, maman memanggil namaku sambil memutar kepalaku. Aku lalu kaget dan sadar. Alhamdulillah aku masih diberi sadar. Sepanjang perjalanan ini aku harus lawan, aku gaboleh hilang kesadaran.
"fit kamu duluan sama atika aja. Aku tak disini jaga. Jangan dibiarin jalan sendirian lo. Pegangan jaket e fitra drrr"
"kenapa ?" tanyaku.
"uda sanao, jangan disini ga aman".
"oooh" aku gamau bahas ada apa disini. Karena nantinya mereka akan merasa terpanggil karena dibicarakan. Aku nurut aja apa kata maman dan jalan lagi meninggalkan tempat ini. Sementara defi masi belum kelihatan batang hidungnya sama mas novel yang dari tadi jemput peserta sakit.

"fit dingin ini"
"ya sama"
"tukeran jaket aja lo, jaketku kurang tebel"
"gamau gamau, aku yo kedinginan"
"haduh fitt"
"pakek sarung ae ini"
"oo kampret"

Dan inilah fitra, pria ter gabisa sosweet sama perempuan. Eh gatau lagi kalo sama pacarnya ya wkwk. Tapi emang temen2ku ini kayak ga anggap aku cewek.

Di pertengahan jalan, aku melewati titihan yang bawahnya kayak sungai kecil gitu. Disini aku bertemu esti dan panji.
"jaketnya maman ta ini es ?" tanyaku.
"iya, tadi aku kedinginan eh diberi ini. Padahal ini dingin tp maman keringetan, sosweet kan maman" aku lalu menoleh ke arah fitra. "apa ? Aku ya dingin" aku pun tertawa. Gregetan banget.

Sepanjang perjalanan ini aku sebenernya kebelt pipis, tapi mau balik ke villa kayaknya uda terlalu jauh dan pasti capek 2kali lipat, jadi mending aku tahan. Semoga aja dia ilang2 sendiri.

Ia Dekat tp DimanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang