Reconciliation? #2

140 18 12
                                        

Sepasang kaki jenjang itu melangkah terburu-buru, menelusuri koridor rumah sakit. Manik matanya terus mengedar pandang, mencari kamar pasien tempat ayah suaminya dirawat.

Moonsoo memberitahukannya tadi, tentang ayahnya yang terpeleset di kamar mandi. Ia sempat tak sadarkan diri saat di bawa ke rumah sakit. Karena itu, Sungjong buru-buru memesan taksi dan pergi menjenguk ayah mertuanya.

Tubuh rampingya kini menegak di depan pintu. Jemarinya meremas tangkai parsel buah yang dijinjingnya. Perasaannya gugup, bercampur rasa takut. Ia menghela napas panjang, sebelum tangannya menggeser bilik pembatas itu.

"Oh, hyung!" Wajahnya sedikit kaget, mendapati Seonkyu yang spontan beranjak dari sofa kecil di dalam ruangan. Tangan lelaki itu refleks terjulur, menerima parsel yang disodorkan padanya.

Seonkyu tak sendirian di sana. Ada juga seorang perawat wanita yang tengah sibuk mengontrol kondisi ayah mertuanya.

Pria itu terbaring lemas di atas ranjang. Kepalanya terbalut perban. "Sungjong-ah." Ia menyapanya. Wajahnya pucat, namun senyumannya begitu hangat.

Sungjong membungkukkan badan, bibirnya mengulas senyum. "Abeoji, lama tak bertemu." Dalam hati ia bersyukur, kondisi ayah mertuanya tak seburuk yang ia kira. Dengan sedikit ragu-ragu, kakinya bergerak mendekat. "Abeoji, apa sudah lebih baik?"

Pria itu menggumam. Kepalanya mengangguk samar. "Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil di kepala, tak masalah untukku." Ujarnya congkak.

Perawat wanita di sampingnya sontak terkikih samar. "Tapi kau sempat pingsan karena melihat darahmu sendiri." Wanita itu mencebik halus, sambil menurunkan papan check-up di tangannya.

Wajah ayah mertuanya berubah masam. "Itu kan karena aku kaget." Ia membela diri. "Tapi aku tetap tak akan lama disini, kan?" Ia terdengar sedikit angkuh.

"Asal kau istirahat cukup, makan dan minum obat teratur, serta tak melakukan terlalu banyak gerakan untuk beberapa hari ke depan. Masih perlu waktu untuk memulihkan cedera di tulang ekormu juga."

"Bebrapa hari?" Ayah mertuanya merespons malas, disambut anggukan kepala si perawat wanita. Ada semburat kecewa di wajahnya.

Pria itu tak ingin berlama-lama di rumah sakit. Jika diizinkan, ia bahkan ingin langsung pulang malam ini juga. Bau obat, makanan yang hambar, dan kondisi yang terus dikontrol seperti ini membuatnya jengah.

"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan, tuan?" Perawat itu kembali bertanya, sebelum tiba-tiba perhatiannya teralih.

"Sedang apa kau di situ?" Ada suara lain yang tiba-tiba memecah suasana. Suara ibu suaminya. Wanita itu telah berdiri di depan pintu. Tak lama, Moonsoo menyusul di belakangnya, dengan Seojun dan Soojung di sampingnya.

"Untuk apa kau ke sini?" Ibu mertuanya bertanya ketus. Raut wajahnya kesal. Sorot matanya menatap tak bersahabat ke arah Sungjong.

"Eomma!"

"Yeobo!"

Pekikan Moonsoo dan tuan Kim meluncur bersamaan, menentang sikap kasar wanita itu.

"Aku tak pernah memintamu datang ke sini. Kenapa kau masih berani menampakkan wajahmu di depan mataku, huh?" Wanita itu tetap tak perduli. Dengan tatapan sengitnya, ia terus mengumbar caci.

Suasana berubah tegang. Seonkyu mulai terlihat tak nyaman, begitu pula dengan perawat wanita yang tak paham apa-apa. Mereka memilih menghindar, dalam diam melangkah keluar.

Genggaman tangan pada kedua tangannya mengerat, membuat Moonsoo tersadar akan kehadiran Soojung dan Seojun. Ia lantas membalikkan badan, mengajak mereka ikut meninggalkan ruangan. Pemuda itu tak akan tega membiarkan mereka menyaksikan hal yang tak seharusnya mereka saksikan.

Family Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang