"Eomma?"
Suara nyaring Seojun tiba-tiba mengudara.
"Eomma! Eomma!"
Sepintas mata sipitnya menangkap bayangan seseorang berambut pirang, diantara puluhan manusia yang sibuk berlalu lalang.
Kedua kaki kecilnya lantas berlari, berniat mendekati sosok itu.
"Eomm...."
Langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya terbelalak, bibirnya mengerucut. "Ani."
Raut bahagianya berganti kecewa. Ia melangkah lemas, berbalik menghampiri ayahnya.
"Appa...bukan eomma." Kepalanya menggeleng lucu.
"Sebentar lagi, sayang." Myungsoo hanya tersenyum sembari mendekat, menghampiri puteranya.
Bocah kecil itu terlihat sangat sedih.
Padahal mereka baru menunggu tak lebih dari sepuluh menit, tapi ia sudah benar-benar tak sabaran. Lelaki kecilnya itu terlalu bersemangat menanti kedatangan eommanya.
Mungkin Seojun sudah sangat merindukannya.
Sama, ia juga.
Sangat rindu pada Sungjongnya.
"Seojun-ah!"
Si pemilik nama itu langsung mengangkat kepalanya cepat. Telinganya baru saja menangkap suara yang sangat ia nantikan. Buru-buru ia memutar badan kecilnya. Senyuman lebar sontak merekah sempurna di bibirnya.
Eomma kesayangannya sudah berdiri tak jauh darinya, dengan koper besar di sampingnya. Jemari lentik itu melepas kacamata hitam yang dikenakannya, sebelum tangannya bergerak, melambai penuh semangat ke arahnya. "Annyeong!"
"Eomma!" Seojun kembali berlari, tak sabar menghampiri sang eomma.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi, namun suara cempreng dari bibirnya justru berubah menjadi rintihan. Tubuh kecilnya jatuh tengkurap, tersandung kakinya sendiri.
Tak ayal Sungjong terkesiap. Ia bergegas menghampiri Seojun, buru-buru memastikan keadaan puteranya. "Kau tak apa, sayang?"
Seojun mengangkat kepalanya. Pipi gembulnya terlihat memerah sementara senyuman berusaha merekah di wajahnya. "Gwaenchana, eomma." Dengan cepat ia bangkit dari posisinya, lantas mengusap-usap telapak tangannya yang mungkin terasa kotor.
Sungjong mengangkat tubuh mungil itu. Biasanya Seojun akan menangis pada hal-hal kecil yang mengganggunya, namun sekarang, ia berusaha kuat untuk tak meneteskan airmatanya.
Meski Sungjong tetap saja khawatir padanya. "Mana yang sakit?" Ia mencoba menelisik.
Seojun menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ada." Ucapnya polos. "Aku tidak menangis, eomma!" Lelaki kecil itu berusaha menyelesaikan kalimatnya, meski terbata.
"Syukurlah." Sungjong tersenyum, lengan kurusnya bergerak, merekatkan dekapannya. Ia masih tersenyum saat Seojun tiba-tiba mendaratkan ciuman polos di bibirnya. "Eomma...bogoshippo!"
"Kau tak apa-apa, sayang?"
Perhatian mereka teralih, ketika Myungsoo akhirnya datang. Kedua tangannya cepat terangkat, menangkup pipi gembul Seojun. Tubuhnya sedikit membungkuk, berusaha menyamakan tingginya dengan posisi Seojun.
"Mian, appa sedang mengangkat telepon, tadi." Lanjutnya, sembari mengusap permukaan kulit lembut itu, membuat si pemilik merengut tak suka.
"Appa...berhenti." Lelaki kecil itu berusaha melepaskan wajahnya dari tangan ayahnya. Tangan kecilnya bahkan mulai beraksi, sekuat tenaga mencoba memindahkan sepasang telapak tangan besar itu.
Myungsoo tak mengindahkan, ia justru semakin menguyel-uyel pipi gembul itu. "Appaaaa!!"
"Ya!" Sebuah pukulan kecil tiba-tiba mendarat di pundaknya.
Myungsoo lantas merintih, mata elangnya menatap bingung ke arah Sungjong.
"Hukuman karena kau mengganggu Seojunku." Lelaki cantik itu mendengus kesal. "Dan karena kau sibuk dengan ponselmu tadi." Ia menambahkan.
"Ah itu...maaf sayang, tadi dari Go Ara noona." Myungsoo buru-buru menjelaskan. "Dia bilang ada rapat mendadak nanti. Seorang investor datang, dan jadwalnya padat minggu ini lalu..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Family
FanficFamily!AU of Myungjong [M] Mature Content Ahead *** Tahun 20xx ketika Kim Myungsoo dan Lee Sungjong resmi menikah. Mereka mengadopsi dua orang anak, Kim Soojung dan Kim Seojun. ***
