Gemercik cairan soju yang menumbuk permukaan gelas menjadi latar belakang suasana malam itu. Seonkyu menegak habis alkoholnya, mengosongkan gelasnya dalam sekejap. Rasa pahit seketika menggerogoti tenggorokannya, membuatnya menyipit, menelan ludah getir.
Sejurus ia mengangkat pandangannya. Mengamati beberapa pengunjung lain yang sibuk berbincang, tertawa dengan kolega masing-masing.
Sudut bibirnya sontak terangkat.
Seonkyu terkikih masam.
Lihatlah, orang-orang terlihat begitu bahagia. Sementara dirinya justru terlihat buruk. Menggantungkan diri pada alkohol, menggunakannya sebagai pelarian.
Sangat menyedihkan.
Tapi, pada dasarnya ia memang hanya pecundang, untuk apa merasa sedih. Ia bahkan tak dibutuhkan lagi di kantornya. Seperti tak ada yang membutuhkannya di dunia ini. Pemuda itu kembali terkikih masam.
Jemarinya terangkat, mendekatkan mulut gelas pada bibirnya. "Ah!" Lagi, ia menegak habis alkoholnya. Tanpa menunggu lama, pemuda itu bergegas menuang botol soju keempatnya, mengisi gelas kosongnya.
Sejenak, benaknya kembali mengulang kejadian yang membuat harinya berubah buruk. Ia hanya tengah membuat segelas kopi hangat untuk persiapan lemburnya, ketika sebuah berita di televisi menyita perhatiannya.
"Aku tak percaya sajangnim akan bertindak sekonyol ini. Hanya karena anaknya yang tak tau diri itu?" Seorang wanita berambut panjang berkomentar sinis. Namanya Seo Jisoo. Ekspresi di wajahnya kental menunjukkan kekesalan.
"Dia bisa menyuap hakim dengan uang sebanyak itu, tapi tak sanggup membayar uang pesangon karyawan pabrik? Jelas saja orang-orang akan mengkritiknya. Aku tak dapat membayangkan bagaimana perasaan para karyawan pabrik itu sekarang." Perempuan lain dengan ID Park Myungeun tergantung di lehernya ikut berkomentar.
Sekilas ekor mata Myungeun melirik wajah datar Seonkyu, sebelum hembusan napas meluncur dari bibir merahnya. "Seonkyu-ya, kau juga merasa ini kelewatan, bukan?" Ia melanjutkan, tersusul anggukan canggung Seonkyu.
"Apa ia tak sadar jika sikapnya ini bisa membuat perusahaan kita bangkrut? Kalau sudah bangkrut, dia sendiri kan yang akan rugi? Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Sikapnya hanya membuat citra perusahaan kita makin buruk." Jisoo kembali bersuara. Tangannya, yang menggenggam erat setumpuk kertas, dengan kasar membuka penutup mesin fotokopi di dekat pantry dapur.
"Kudengar, investor dari China juga telah membatalkan rencana kontrak. Sepertinya semua sudah berakhir. Jisoo-ya, kita harus siap-siap melamar di tempat lain." Seorang pemuda bernama Choi Sungyoon ikut angkat bicara. Ia menyeruput cangkir kopinya sejenak, sebelum melanjutkan. "Perusahaan ini sudah terlalu bobrok untuk dipertahankan."
"Seonkyu-ya, kurasa kau juga harus mempertimbangkan ini." Pemuda berambut cepak itu kini menghadap Seonkyu. "Kau baru setahun di sini. Tapi kau sudah melihat cukup banyak kejanggalan di perusahaan ini, kan?" Tangan Sungyoon terangkat sejurus, menepuk pundak Seonkyu, sebelum ia lantas melangkah pergi.
Seonkyu hanya mematung. Telingannya masih sibuk mendengarkan.
"Jisoo-ya, kapan kau akan mengundurkan diri?" Pertanyaan itu sempat tercuat, sebelum seorang wanita bersanggul tiba-tiba datang dengan wajah congkak dan seringai di bibirnya.
"Jisoo-ya, kau tak perlu resign. Toh perusahaan sudah berencana memecatmu."
"Mwo?" Jisoo memekik kaget. Manik matanya menatap tak santai. "Apa yang kau bicarakan, Sujeong-ah?"
"Aku melihatnya di meja Bujangnim tadi. Daftar karyawan yang akan diberhentikan akhir bulan ini. Aku bahkan sempat memotret listnya diam-diam. Besok pasti list itu akan langsung di release. Lihatlah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Family
FanfictionFamily!AU of Myungjong [M] Mature Content Ahead *** Tahun 20xx ketika Kim Myungsoo dan Lee Sungjong resmi menikah. Mereka mengadopsi dua orang anak, Kim Soojung dan Kim Seojun. ***
