04✔️

249 32 3
                                        

"Ehh nggak.. gue cuma mau ngobrol aja sebentar dengan lo," jawab kak Mark masih sambil tersenyum. Emang sih ya, orang satu ini senyum terus.

"Ngobrolin apa kak?"

"Ya terserah lo. Apa pun yang buat lo nyaman. I don't wanna cross the line," katanya. Aneh ya, dia yang ngajak ngobrol tapi kok gue yang harus nyari topik.

"Gimana ya kak? Gue sih.. lagi sibuk aja nih. Mungkin agak stress," jawab gue dengan jujur.

"Jangan stress dong. Gak sehat."

"Haha, tapi gimana ya. Kalo emang stress, gue bisa apa?"

"Relax. Jalan-jalan sama temen-temen lo. Don't be scared. Ceritain masalah lo ke mereka. And if they don't listen, I'll be here for you," jawabnya. Woi ini ada apa woi. Kenapa kak Mark tiba-tiba gini sama gue?

"Thanks kak. Sekarang gue ngerti kenapa banyak cewek suka sama kakak," kata gue dengan santai, untuk mengabaikan pikiran gue tadi.

"Haha it's not a big deal. And plus, dari pada semua cewek yang suka sama gue, mendingan gue setia nunggu lo," kata kak Mark sambil tersenyum dan pergi ninggalin gue.

Apa kak Mark lebih baik dari Daehwi?

I really don't know.

-

Hari ini Pak Minho, guru bahasa Indo kami masuk ke kelas kami dan bikinin kami kelompok untuk materi proposal.

Dan yeah. Tebak.

Benar.

Lee Jaea, Park Jiran. Lee Daehwi.... Jeon Somi.

JEON SOMI. Dia lagi, dia lagi.

Kenapa gue sekelompok dengan dua manusia ini lagi? Gak bosen apa ngeletakin gue dengan mereka.

"Tugas ini harus dikumpulkan pada tanggal 21 Agustus," kata Pak Minho lagi.

Great. Beautiful. Amazing. Wonderful.

"Sekarang, silahkan berkumpul dengan kelompok kalian untuk berdiskusi," suruh Pak Minho.

Okay, setidaknya ada Jaea. Harus positif thinking kayak kata Hana.

"Bikin grup Jae," kata Daehwi.

"Ngapa gak lo yang bikin?" tanya gue dengas nada jutek.

"Ya kan biasanya Jaea yang bikin,"

"Emangnya lo siapanya Jaea sampe nyuruh-nyuruh gitu?"

"Emangnya lo siapanya Daehwi sampe ngelarang-larang gitu? Pacar? Bukan kan?"

Dasar si Jeon Somi ikut-ikutan.

"Kalau lo? Siapanya Daehwi sampe ngebela dia? Gue ngomong ke Daehwi ya bukan ke lo," bales gue. Ngeselin banget dah si Somi ini.

"Apaan sih Ran?" tanya Daehwi sambil ngangkat salah satu alisnya.

"Gue rasa gue lebih deket sama Daehwi daripada lo deh," kata Somi lagi.

Denger itu? Ada yang pecah tapi bukan gelas. Itu suara hati gue.

"Gue.. ke toilet dulu. Bye!" kata gue sambil lari ke arah Pak Minho.

"Pak, saya ke toilet ya!"

-

"Bodo. Bodo! BODO!" teriak gue waktu sedang di dalem toilet.

Lee Daehwi itu adalah manusia paling bodoh yang pernah gue temuin! Gue benci banget sama dia! Ya.. sebenernya sih Daehwi gak gini dulu. Dia berubah sejak temenan sama Somi.

Inikah maksud kak Jinyoung dari kata 'she can be a real bitch'? Perasaan kemaren-kemaren Somi baik-baik aja sama gue. Kenapa tadi malah jadi jahat gitu?

"Jiran?" gue denger suara seseorang dari luar toilet.

"Kak Mark?" kata gue saat keluar dari toilet. Kok pas banget sih dia dateng pas gue lagi butuh gini?

"Lo kenapa? Kok teriak-teriak sendiri sih?"

"Ah gak apa kok kak. Lagi um.. PMS.." jawab gue bohong.

"Oh.. eh tapi inget ya kata gue, kalo ada masalah jangan dipendem sendiri."

"Ok kak.. gue ke kelas dulu ya," kata gue buat ngehindar dari kak Mark.

-

Ternyata tadi gue di toilet lama banget. Pak Minho udah mau pergi dari kelas. Bersyukur aja sih gue.

Sekarang, Miss Jessica masuk kelas kami. Mukanya sumringah banget dah.

Lee Daehwi: HonestlyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang