Hati-hati sama Jeon Somi.
Don't get on her bad side.
She can be a real bitch.
Kata-kata kak Jinyoung masih terngiang di otak gue, ya walaupun dia cuma ngomong lewat dm sih. Sampe sekarang gue masih belom paham sama maksud dari kata-katanya itu.
Seberapa jauh kak Jinyoung kenal sama Somi sampe dia tau sifat Somi? Apa yang sebenernya terjadi diantara dia dan Haesa?
"Park Jiran! Jangan melamun di pelajaran saya!" teriak Pak Jiyong ke gue. Gila suaranya menggelegar banget, terkejut gue. Suaranya berhasil meleburkan pikiran gue.
"Ah maaf pak."
-
"Seriusan Ji? Kok lo bisa tau sih?" tanya Hana setelah gue ngejelasin semuanya tentang Somi yang gue tau dari kak Baejin.
"Ya jelas dia nanya kak Baejin lah. Eh tapi gimana kak Baejin mau cerita ke lo?" Jaea ikut nanya.
"Gue juga gak tau. Gue rasa dia emang mau ngeluarin semua itu dari dada dia biar lapang. Tapi mungkin dia lagi nyari waktu yang pas aja. Dan bisa jadi kemaren itu waktu yang pas," jelas gue sambil gebuk-gebuk meja pelan.
"Tuh kan bener. Gue emang udah ada firasat buruk gitu pas dia dateng," kata Shia.
"Ya gue tau. Gue juga ngerasa gitu. Rasanya kayak.. dia mau ngehancurin hidup kita semua. Gue tau Daehwi bukan siapa-siapa gue. Tapi tetep aja.."
"Gue tau. Bahkan gue yang udah pasti bakal nikah sama Guanlin aja ngerasa gak tenang,"
"Apa lagi gue yang sedang ambang-ambang putus sama cowo gue!" sahut Jaea.
"Ya kalian gak salah sih. Gue juga, walaupun pacaran sama Woojin pun khawatir," Eunji juga ikut bicara.
"Udah ah guys! Jangan negatif gitu!" Hana nyemangatin kami. "Gue mungkin gak tau perasaan kalian, tapi coba buat positif thinking deh!"
-
"Hari ini kalian akan kembali berkumpul dengan kelompok kalian," kata Miss Jessica waktu ngajar di kelas kami.
Hari ini rasanya gue gak mau ke kelompok gue. Ya tau lah kenapa. Ada Somi.
"Jiran, sini dong jangan melamun!" teriak Anyoung yang sudah kumpul dengan Daehwi dan Somi.
Beberapa menit setelah kumpul dalem kelompok, gue akhirnya bicara, "Bosen gak sih, kelompok bahasa Inggris kita itu-itu terus?" Gak penting banget sumpah gue ngomong gitu.
"Ran, perasaan gue waktu itu lo yang nyaranin untuk gak gonta ganti kelompok deh," jawab Daehwi.
"Gak ah, bukan gue," bales gue.
"It's you," katanya lagi.
"Definitely not me," bantah gue. Pokoknya gue gak mau kalah dari dia, sekalipun emang dia bener.
"It is you, stop denying."
"I told you, it's not me."
"Just admit it."
"It's not me idiot!"
"I'm not an idiot."
"Well then shut up!"
"Oke, kalian berdua stop! Ini gak penting," teriak Anyoung untuk bikin gue dan Daehwi berhenti berantem.
"Emang sering berantem gini ya?" tanya Somi.
"Eeehh.. Nggak kok. Ini.. baru pertama kali mereka berantem gini."
-
Setelah itu gue cerita sama mama gue- Eunji. Nggak bukan mama gue beneran kok, tapi dia emang jadi tempat gue curhat.
"Lo tadi berantem dengan Daehwi?"
"Ya gitu lah," jawab gue.
"Dah sabar lah Ji. Inget kalo jodoh pasti bakal bersatu juga di akhirnya," balesnya.
"Susah Eun! Capek gue, Daehwi kan tau kalo gue suka sama dia! Kenapa dia malah kayak gitu sama gue? Kayak gak ada apa-apa."
"Sabar Ji, liat tuh, muka lo merah lagi."
"Huuh! Capek gue.."
"Jiran!" tiba-tiba ada seseorang yang berteriak, "Park Jiran!" orang tersebut manggil gue.
"E-eh..?"
Mark Lee, kelas XII IPA-2. Ya gue jujur aja nih, dia emang ganteng. Katanya sih, dia dulu pernah suka sama gue. Sayangnya hati gue milik Daehwi seorang.
"Gue.. pergi dulu ya," Eunji berdiri dari kursi yang awalnya kami dudukin. "Hwaiting!" bisik Eunji sambil dia pergi.
"Um.. Boleh gue duduk sebelah lo?" tanyanya dengan ramah dan sambil senyum.
Kalau gue disuruh deskripsiin malaikat, gue bakal sebut nama kak Mark.
"Boleh kak. Memangnya kenapa ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lee Daehwi: Honestly
Fanfikce(Editing Process) Jadi, setahun yang lalu, waktu kelas 1 SMA, gue sekelas sama Lee Daehwi. Dan ke ajaibannya, kelas dua ini, gue juga sekelas sama dia. Gue tu udah suka sama dia sejak awal kelas 1. Bahkan dia tau kalo gue suka sama dia. Kenapa? Kar...
