08 ✔️

223 32 0
                                        

Kenapa gue kesel waktu Somi ngomong "cuma minus satu"? Nggak kok, bukan cuma karena dia Somi.. tapi ada alasan lain..

Sekitar 4 atau 3 tahun yang lalu waktu gue baru masuk SMP, waktu semua kekacauan ini terjadi.

"Anya!"

"Iya, kenapa Bun?"

"Oh nggak apa, Bunda kira kamu belom bangun. Ayo, siap-siap sekolah!"

"Ok Bun,"

Bunda? Itu adalah yang ngurus gue sebelum gue di adopsi oleh mama papa gue yang sekarang.

Dari dulu gue harusnya pake kacamata. Minus gue waktu itu sekitar 3, mungkin lebih. Sayangnya, ibu maupun bunda nggak bisa beliin gue kacamata.

Pertanyaan yang sering ditanya orang. Kenapa gue bisa ada di sini?

Jawabannya mudah. Ibu dan kakak.

Waktu itu ayah udah nggak ada. Ayah meninggal waktu umur gue beranjak 1 tahun. Gue belum pernah bener-bener lihat wajah beliau.

Ibu dan kakak, kemana mereka sekarang?

Mereka nyusul ayah. Mereka meninggal di kecelakaan mobil waktu mereka mau jemput gue dari sekolah. Bukan cuma ibu dan kakak, pacar kakak juga meninggal di kecelakaan tersebut. Sejak kejadian itu, hidup gue kacau balau. Buktinya? Ya perilaku orang-orang waktu tau kalau gue udah gak punya siapa-siapa.

"Anak-anak, perkenalkan, nama saya Choi Jiwoo, saya adalah wali kelas kalian tahun ini. Saya mengajar pelajaran bahasa Indonesia," jelas Bu Jiwoo "Sekarang, perkenalan dulu ya!"

"Nama saya Yoon Anya," ucap gue saat sudah waktunya untuk gue memperkenalkan diri.

"Eh? Yoon Anya? Kok sepertinya saya kenal dengan kamu? Kamu punya kakak ya?"

Kakak gue dulu juga sekolah di sini dan semua orang kenal sama dia.

"Yoon Anhwa," jawab gue dengan pelan.

Satu kelas itu terdiam. Anhwa, rising star di Bandung, satu-satunya sumber uang di rumah kami. Semua orang udah tau kalau kak Anhwa sudah berada di sisi-Nya.

"O-oh.. maaf kan saya Anya,"

Sejak kejadian itu, nggak ada satu pun orang yang mau berteman dengan gue. Sejak saat itu juga gue benci dengan nama gue, Yoon Anya. Setiap malam, gue selalu berdoa agar ada keluarga yang mau ngadopsi gue, supaya nama gue bukan Yoon Anya lagi. Kim Anya, Oh Anya, Hong Anya, Lee Anya, Park Anya, masih banyak lagi.. apapun asal bukan Yoon Anya.

Hari yang selama ini gue tunggu-tunggu pun tiba.

Hari itu sewaktu gue baru pulang dari sekolah, ada sepasang suami istri yang kelihatan seperti sedang nunggu gue. Mereka tersenyum dengan bahagia waktu ngeliat gue.

"Jadi ini yang namanya Yoon Anya? Wah, cantik sekali ya!" ujar sang wanita.

"Iya, saya semakin ingin mengadopsinya," sang lelaki ikut bicara.

"Anya.." bunda tersenyum sedih. Gue merasa bersalah, tapi ini lah yang selalu gue harapin.

"Ok, kami mau mengadopsi Anya!" kata wanita itu sambil sedikit berteriak.

"Baiklah, tunggu sebentar. Anya, ayo ikut bunda,"

Gue jalan ke dapur bareng bunda.

"Nya.. Bunda bakal kangen sama kamu. Tapi bunda tau kalau ini adalah apa yang selama ini kamu inginkan.."

"Bun.. I'll miss you," lirih gue.

"Go and live the life you've always wanted, nak."

Hari itu, gue bertekad untuk memulai kehidupan baru. Dengan nama yang juga baru.

"Park Jiran. Bagaimana?" tanya mama sambil tersenyum.

"Kalo kamu kurang seneng namanya diganti, gimana kalau, Park Jiranya? Masih ada kata Anya di namamu tapi panggilannya tetep Jiran," papa ikut bertanya.

Gue sih mau aja namanya diganti. Gak usah ada Anya di nama itu pun gapapa. Gue bahkan udah gak mau lagi dipanggil dengan nama itu.

"Jiran seneng kok, ma, pa."

Bukan cuma nama gue yang berubah. My whole life changed.

Gue pindah dari Bandung ke Jakarta dan sekarang gue tinggal di rumah yang besar. Gue juga dapet beberapa check up setiap minggunya dan gue sudah pakai kacamata. Hidup gue sudah menjadi lebih baik.

Itu menurut pandangan gue saat itu sih.

Sekarang, temen-temen gak ada yang tau tentang masa lalu gue. Nggak ada yang kenal gue sebagai adiknya Yoon Anhwa. Gue dikenal sebagai Park Jiranya, anak dari CEO Park Jiseok dan istrinya, Jang Jinhee.

"Panggilan kepada Park Jiran, Jeon Somi, Song Nayeon, Seo Herin, Lee Minhyung, Liu Yangyang, Choi Hayoung, Lee Daehwi, Bong Jaehyun, dan Lee Felix. Diharapkan segera mungkin untuk berkumpul di ruang C1."

Well this is it I guess.

Lee Daehwi: HonestlyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang