8 - Luka Lama

9 1 0
                                    

"Veeeeer ayo buruan ke kantin! Laper banget gue aslii!!!" Rengek Jena tidak sabaran.

"Aduh bentar-bentar! Sabar yaa ini bentar lagi gue selesai nyatet kok! Tuh udah
tinggal rumus yang itu!" Ujar Vere sambil menunjuk papan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menulis.

"Ah lama lo Ver! Gue duluan yaa! Daaaahhh! Muah!" Ucap Jena sambil lalu.

"Iya deh sana sana!" Teriak Vere sambil memonyongkan bibirnya.

Ketika Vere telah selesai mencatat, ia buru-buru mengambil dompet dan berlari keluar kelas.

BUG!

Vere menabrak seseorang. Ia lalu meminta maaf sambil menunduk.
"Eh maaf-maaf! Sorry banget gue buru-buru ga liat jalan!"

"Dompet lo naksir gue ya?"

Vere mengerutkan keningnya dan perlahan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah orang yang baru saja ditabraknya itu.
"Eh.... Rei....."

"Dari kemaren dompet lo deket-deket gue mulu, jaga nih," Ucap Rei sambil memungut dompet Vere yang terjatuh dan mengembalikannya pada Vere.

"Thanks! Gue duluan ya, dah!" Ucap Vere.

Ia lalu berjalan terburu-buru ke kantin. Ia sungguh malu telah bertingkah ceroboh sebanyak dua kali, di depan Rei pula. Ia merutuki dirinya sendiri dan menepuk-nepuk kepalanya.

"Kenapa lo? Kayak abis liat setan aja," Ucap Audy ketika Vere duduk di meja kantin.

"Abis nabrak orang. Lo sih Jen pake ninggalin gue segala!"

"Hah? kok gue sih? Lagian lo lama banget!" Protes Jena sambil meletakkan mangkok baksonya di atas meja dan mengambil posisi duduk di hadapan Vere.

"Udah-udah! Lagipula lo nabrak siapa sih? Kok keliatannya panik banget," Tanya Renata to the point.

"Rei," Jawabnya ragu-ragu.

"YAELAH PANTESAN AJA!" Ucap Audy, Renata, dan Jena bersamaan.

"Duh udah ah! Gue laper," Ucap Vere sambil berdiri, berjalan menuju pedagang ketoprak di kantin.

Di sekolah manapun, mengantri di kantin adalah mitos belaka. Maka dari itu, Vere agak sedikit kesusahan saat ingin memesan ketoprak. Ia harus memanggil penjual berkali-kali agar ia dilayani.

"Ketoprak dua porsi, cabenya dua aja, pake lontong, kerupuknya banyakkin ya mas," Ucap seseorang yang tiba-tiba berada di belakang Vere.

Kok pesenannya persis yang mau gue pesen sih......

Saat penjual ketoprak memberikan dua piring tersebut kepada orang itu, Vere mencoba mendongak, mencari tahu siapa pemilik suara berat itu.

Lagi dan lagi, ia adalah Rei.

"Nih mas," Ucapnya sembari menyerahkan beberapa lembar uang sebelum menerima kedua piring tersebut.

"Nih Ver," ucap Rei sambil memberikan satu piring ketoprak pada Vere.

Vere tercengang melihat ketoprak yang ada di hadapannya.
"Hah? Kok kasih ke gue?"

"Badan lo kekecilan, mau berdiri disitu tiga semester juga dia gabakal layanin Ver," Ledeknya disusul dengan tawa.

"Udah, ambil aja, gue tau lo laper," Ucap Rei lagi.

"Makasih ya," Kata Vere sambil cemberut.

"Duluan ya Ver," Rei berjalan ke meja kantin paling ujung, bergabung dengan teman-temannya.

Vere lalu berjalan ke mejanya, meletakkan piringnya, lalu duduk.

"Aw ketoprak cinta tuh," Ledek Audy sambil menyenggol Vere.

"Diem deh! Laper gue!"

"Senyum mah senyum aja kali Ver gausah ditahan-tahan gitu," Ucap Jena sambil tertawa.

"Aduh yang lagi jatuh cinta mah beda yaaaaaa!" Ledek Renata, menirukan suara ibu-ibu yang serang bergosip.

Tak kuasa menahan tawa, Vere pun tertawa. Ia kemudian melahap ketopraknya sampai habis tak bersisa.

Lalu, hari itu berjalan seperti biasa. Jam-jam pelajaran yang membosankan, dan peristiwa normal lainnya sampai jam 14.30, waktu dimana kegiatan belajar mengajar berakhir. Berhubung kantin buka sampai pukul 16.00, Vere dan ketiga temannya berjalan menuju ke kantin untuk duduk-duduk, ngemil, dan sekedar ngobrol-ngobrol.

"Ver apaan sih senyum aja terus!" Protes Renata yang tak tahan melihat Vere yang daritadi mengunyah camilannya sambil terus tersenyum.

"Udaah, biarin aja. Jarang dia kayak gitu," bela Jena.

"Iya, kangen deh Ver liat lo jatuh cinta ama cowo. Biasanya galau mulu! Hehehehe....." Ucap Audy yang dibalas pelototan Vere.

Namun, senyum di wajah Vere mendadak hilang entah kemana. Keempat orang itu tiba-tiba terdiam ketika mendengar suara berat seseorang yang tentunya sangat familiar. Vere menunduk, entah sejak kapan matanya sudah berair.

"Ver, ke depan aja yok, gue lagi pengen sate yang di depan gerbang sekolah," Ucap Jena, mencoba mengajak Vere keluar dari tempat itu.

Namun, Vere tidak bergerak sama sekali. Bukannya tidak mau, tapi ia tidak bisa. Tubuhnya seakan membeku dan telapak tangannya berkeringat. Ia terus menunduk dalam diam sampai suara berat itu semakin dekat.

"Mas, ketopraknya satu, ga pedes, ga pake toge, kerupuknya banyakkin ya!" Ucap seorang pria sambil lalu menuju meja paling ujung. Pria itu duduk bersama teman-temannya.

"EH BEDE! Gila apa kabar lo?"

"Baik lah selalu. Gimana kabar lo semua?" Tanya laki-laki yang akrab disapa Bede kepada gerombolan teman-teman lamanya.

Bede, singkatan nama milik Bertrand Darielle Pradipta. Nama yang selalu Vere coba untuk lupakan, namun juga selalu gagal.

Vere perlahan mengangkat wajahnya, mencoba untuk tidak menengokkan kepalanya ke arah gerombolan itu. Ia lalu mengisyaratkan teman-temannya agar mereka segera beranjak dari situ. Namun, saat mereka sudah berada di luar kantin, terdengar suara langkah kaki tepat di belakang Vere.

"Ver......" Ucap seseorang sambil menepuk pundak Vere.

Vere menghela nafas dan menengokkan kepalanya. Ia menemukan Bertrand dengan ekspresi yang tak terbaca.

"Kenapa Bee?" Jawab Vere. Aneh rasanya Vere memanggilnya dengan sebutan itu. Sebutan lama yang diciptakan Vere untuk lelaki yang pernah dicintainya itu.

"Eh maksud gue Bertrand," koreksi Vere, mencoba terlihat formal.

"Lo....... apa kabar?" Tanya Bertrand hati-hati, seolah takut menyakiti perasaan Vere hanya dengan kata-kata itu.

"Gue baik. Selalu baik. Lo?" Jawab Vere canggung.

"Baik juga. Lo belum pulang?"

"Lagi mau."

"Hati-hati Vee. Take care," Ucap Bertrand.

Vee, sebutan Bertrand untuk Vere dulu. Kata-kata yang baru saja dilontarkan Bertrand bahkan sama persis dengan yang dilontarkannya tahun lalu, saat mereka berpisah, mengubah status menjadi teman.

Atau bahkan menjadi orang asing lagi.

Vere hanya tersenyum singkat, membalik badan, kembali bergabung dengan teman-temannya.

"Ver........" Belum sempat Jena menyelesaikan kalimatnya, Vere memotong.

"Gue balik duluan ya," Ucapnya sambil lalu.

Maaf.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang