4. namanya Alda

2.3K 199 7
                                        

Wanita itu menatap penuh harap pada wanita lain yang ada di dalam ruangan bersamanya. Harapannya hidup bahagia begitu membuatnya terobsesi. Dia ingin bahagia. Cantik, banyak uang dan banyak lelaki yang menginginkannya. Karena itu dia rela bersekutu dengan setan dan iblis. Mendaftarkan diri menjadi penghuni neraka yang abadi.

"Bagaimana, mbok?" Tanyanya tak sabar.

Wanita paruh baya yang bersamanya masih memejamkan mata. Mencari wangsit.

Perlahan mata tua itu terbuka, dan nampak bersinar. "Ada jalan keluar lainnya selain mengorbankan bayi setiap bulannya."

"Apa itu?" Wanita itu sangat penasaran. Selama hampir dua tahun dia selalu datang ke tempat si mbok dengan membawa bayi setiap bulan purnama untuk dia persembahkan sebagai tumbal. Selama ini dia mencari bayi- bayi itu dengan cara memesan dari para penjual anak dan membayar mahal. Namun akhir - akhir ini dia kesulitan mendapatkan bayi akibat tertangkapnya jaringan penjual anak- anak yang dia kenal. Saat seperti ini, dia akhirnya meminta petunjuk dari si Mbok dukun ini.

Dukun inilah yang membedah wajahnya dua tahun lalu. Ketakutannya pada prosesi bedah plastik gagal yang sepupunya alami membuat dia mendatangi seorang dukun sakti di pelosok desa.

"Aku merasakannya. Ada seorang yang bisa membuat kamu cantik selamanya. Satu tumbal yang sangat langka."

"Apa itu?"

"Janda perawan."

"Hah? Janda perawan?"

"Iya."

"Tapi bagaimana saya tahu jika dia masih perawan? Sepertinya hal itu mustahil."

"Aku mendengar bisikan (setan) kalau janda perawan itu ada di dekatmu. Datang sendiri ke kehidupanmu."

"Benar kah, mbok?"

Si dukun mengangguk yakin.

Wanita itu berpikir sejenak sebelum mengangguk. Dia harus mencari janda perawan itu.

***

Alda pikir hidupnya akan damai seperti sebelum dia menikah. Tapi kini dia merasa status jandanya mulai membuatnya tidak nyaman. Ada rasa takut berlebih yang hadir setiap harinya. Takut di olok- olok. Kelemahannya selama ini adalah dia akan selalu memikirkan masalahnya hingga dia sakit dan berakhir dimarahi mamanya.

"Assalamualaikum, cantik."

Seorang lelaki yang berwajah enak dipandang, menyapa Alda di koridor kampus. Dia hanya tertegun. Apa kini cobaan sudah mulai menghampiri?

"Kamu Alda, kan? Anak pindahan dari Surabaya?" Tanya lelaki itu.

Alda hanya mengangguk dan melarikan pandangannya ke segala arah dengan gelisah.

Dia ingin lewat, tetapi lelaki itu dan dua temannya menghalangi jalan.

"Gue Reno. Gue denger lo lagi jomblo. Boleh dong kita-kita kenalan."

"Maaf, saya ada kelas. Permisi." Alda ingin mencari celah, namun dia tetap tidak menemukan jalan.

"Ayolah. Nggak usah sok polos." Ucap lelaki itu. "Gue udah denger kalau lo itu janda. Gue nggak keberatan kok jadi pengalihan cinta lo. Mau di apartemen gue atau... di hotel, gue oke aja sih," bisik Reno.

Wajah Alda memerah. Dia marah jika ada orang yang tidak tahu sopan santun. Bukannya dia gila hormat, tapi ini sudah termasuk pelecehan. Bagian mana dari penampilannya yang mengundang pelecehan? Dia menutup aurotnya dan pakainya juga longgar. Tidak press body. Apa salah jika dia tersinggung?

"Apa maksud kamu. Kamu seenaknya saja menilai orang padahal kalu tidak kenal dengan saya. Wanita itu, ada untuk dihormati. Kamu pikir kamu lahir dari batu? Kamu suka kalau ibu kamu dilecehkan dan dihina? Saya memang janda, tapi saya bukan perempuan murahan. Kalau kamu mau mencari perempuan murahan, silahkan. Tapi itu bukan saya."

Reno merasa tersinggung karena Alda menyebut- nyebut ibunya. Tapi semua yang di katakan Alda memang benar. Dia tidak kenal Alda dan seenaknya saja menilai hanya karena beberapa janda yang dia kenal sangat genit dan agresif.

Sepasang mata yang memperhatikan sejak tadi kini menyipit karena senyum di bibirnya. Dia lega karena wanita ini bukan wanita murahan. Wanita murahan yang membuat citra janda menjadi buruk di mata masyarakat.

"Lo..,"

"Ada apa ini?"

Ketiga lelaki yang berstatus mahasiswa itu segera tersadar. Merasa segan dan terintimidasi oleh sikap lelaki yang mendatangi mereka, mereka saling bisik untuk segera kabur. Sementara Alda masih diam dengan kemarahan siap menyembur sewaktu- waktu.

"Ada apa kalian ribut dijalan seperti ini? Mengganggu orang yang mau lewat sini."

"Maaf, pak. Kami sudah selesai." Roni menunduk sopan kemudian tergesa berpamitan pada dosennya.

"Anda tidak apa- apa?" Tanya Aldev pada mahasiswi itu. Ternyata benar kata para dosen yang beberapa hari lalu katakan. Mahasiswi ini cantik. Pantas saja banyak yang merasa tertarik untuk mendekati. Tanpa sadar dia menelan ludahnya saat matanya menatap wajah itu terlalu lama. Panah setan bekerja.

"Saya baik- baik saja. Terimakasih, pak. Saya permisi karena saya ada kelas sebentar lagi."

"Ya. Hati- hati." Entah karena apa lidah Aldev terasa sangat ringan. Biasanya dia sangat sulit menjawab sapaan orang. Dia hanya akan mengangguk atau berdehem.

Matanya masih memperhatikan sosok cantik itu hingga hilang tertutup tembok.

Alda.

Namanya Alda.

Aldev diam- diam menyimpan nama itu di sudut hatinya yang belum pernah berpenghuni. Setelah itu biarkan takdir menjalankan ceritanya.

Tbc



Tumbal Janda Perawan!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang