"Cepat sekarang kamu talak anak saya!" seru Alina
"Kenapa ibu tega sama kami, aku dan Eliza sudah punya dua anak. Bagaimana Nasib mereka nanti, aku nggak mau mereka kekurangan kasih sayang dari ibu nya," ujar Doni.
"Kamu harus ngaca. Siapa diri kamu? Apa pekerjaan kamu sekarang? Berapa uang yang kamu miliki untuk membiayai anak saya?"
"Eliza itu bodoh karena memilih menikahi kamu yang kere, padahal dia sudah saya jodohkan dengan seorang pengusaha yang kaya raya,"
Mereka yang sedang bertengkar itu adalah seorang mertua dan menantu, Alina ibu dari Eliza alias isterinya Doni. Menginginkan agar anak nya segera diceraikan oleh lelaki itu, bukan tanpa alasan Alina dan suamia nya sangat tidak menyukai Doni. Karena lelaki itu anak kebanggaan mereka satu-satunya rela mengorbankan karir dia sebagai politikus dan hidup kekurangan dengan dua anak kembar mereka di Indonesia.
"Keluarga kami adalah keluarga pejabat di kepemerintahan pusat Rusia, Eliza masih pantas mendapatkan sosok suami yang jauh lebih baik daripada kamu,"
Alina bahkan sudah menyiapkan calon pengganti untuk anaknya, pokoknya hari ini dia harusbisa menyeret Eliza kembali ke Rusia. Karena dia harus mengikuti pendaftaran untuk pengurus kursi kepemerintahan pusat, hal itu tentu menjadi sebuah kesempatan besar. Jika Eliza berhasil menduduki kursi badan kepemerintahan maka kehidupan dia akan sangat enak dengan berbagai privilege yang diberikan negara, tapi pada kenyataannya Eliza justru malah memilih hidup bersama seorang petani miskin.
"Aku gak akan pernah menceraikan Eliza, kami sudah berjanji untuk sehidup semati. Kalian tidak bisa memaksa aku," ujar Doni.
"Tentu saya bisa melakukan nya!"
Setelah mengatakan itu Alina kemudian memanggil para bodyguard yang sebelumnya sudah dia siapkan, Doni yang pada saat itu berjuang sendiri tentunya kalah jumlah dan tenaga dari mereka, alhasil Eliza yang sedang bersembunyi didalam kamar bersama kedua anaknya bisa ditangkap dengan mudah.
"Lepaskan aku!"
"Aku tidak mau pergi bersama kalian!"
Eliza terus memberontak, tapi usahanya berakhir sia-sia karena tubuh rampingnya dicekal oleh dua orang berbadan kekar. Arkana dan Askana yang pada saat itu masih berusia enam tahun, tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menangis.
"Kamu harus pulang sekarang," ujar Alina dengan nada tegas.
"Aku tidak mau ibu, jangan paksa aku,"
Karena Eliza terus memberontak dan bersikap keras kepala, membuat Alina kesal dan tidak bisa menggunakan cara lain selain dengan mengancam anaknya itu agar dia mau menuruti semua permintaannya.
Sret!
Alina mengeluarkan sebuah pistol dari tasnya, dan mengarahkan bend aitu pada sikembar.
"Ibu tahu ini salah dan melanggar hukum, tapi lebih baik kalian semua mati jika kamu tidak mau mendengarkan ucapan ibu,"
Doni dan Eliza semakin memberikan perlawanan ketika melihat senjata berwarna hitam itu, mereka harus melindungi kedua anaknya dari Alina yang sudah nekat.
"Cepat kamu pilih, kita kembali ke Rusia atau suami dan dua anakmu mati,"
"Stop!"
"Baik aku memilih pulang bersama ibu, tapi tolong jangan sakiti suami dan anak-anakku,"
"Ibu jahat, Arkana dan Askana adalah cucu kalian!" ujar Doni dengan nada marah.
"Aku bisa mendapatkan cucu baru nanti, lagi pula aku tidak bangga mempunyai penerus dari keturunanmu,"
"Aku minta maaf mas, aku bawa Arkana supaya adil kita ngurus anak satu-satu," ujar Eliza dengan bercucuran air mata.
Sret!
Sebuah bingkai figura berisi foto pasangan suami isteri dan dua anak kembar, tampak diletakkan kembali kedalam lemari setelah beberapa menit dipandangi oleh sipemilik dalam lamunannya.
Doni sedang menyendiri di diruang kerjanya, dan tidak sengaja dia menemukan foto keluarga kecilnya dulu. Lalu setelah itu ingatan masa lalunya kembali berputar didalam kepala seperti dalam bioskop, hari dimana dirinya dihina karena tidak punya apa-apa, hari dimana isteri dan salah satu anaknya pergi meninggalkan negara ini, dan hari dimana rumah tangganya hancur. Adalah satu-satunya episode kehidupan yang sudah Doni lalui dan paling membuatnya terluka.
Diusia nya yang sudah menginjak kepala lima ini, keadaan Doni sudah banyak berubah. Sekarang dia adalah seorang pengusaha ternama dikota tempatnya tinggal, dan hidup menginspirasi banyak orang dengan statusnya sebagai single parent yang dianggap berhasil mendidik anak laki-lakinya tanpa bantuan orang lain.
Askana yang dulu ditinggalkan saat masih kecil, kini sudah berubah wujud menjadi sosok anak muda yang tampan dengan segudang pencapaian nya yang luar biasa. Tahun ini menjadi tahun terakhir bagi dia untuk menyelesaikan sekolah nya sebagai anak SMA kelas tiga, lelaki itu berhasil mengisi perjalanan karir sekolahnya dengan segudang keahlian dan prestasi.
Askana adalah mantan ketua OSIS terbaik, anggota ekstrakulikuler basket yang paling jago, masuk tiga besar peringkat akademik sekolah, jago matematika dan pernah mewakili sekolah dalam lomba sain tingkat nasional. Askana adalah selebriti papan atas di sekolahnya, yang mempunyai banyak penggemar terutama siswa perempuan.
Brak!
Ditengah lamunannya itu pintu ruang kerja Doni tiba-tiba dibuka dengan kasar, sosok Aska yang tadi sedang dinarasikan muncul dengan ekspresi wajah yang marah. Masih menggunakan pakaian sekolah dan menggandong tas, dia tidak memberikan salam terlebih dahulu pada sang ayah.
"Aku gak mau Arkana tinggal sama kita,"
Anak itu menjadi sangat marah ketika sang ayah memberitahu dirinya jika saudara kembar dia akan kembali tinggal di Indonesia, Aska sampai meninggalkan teman-temannya yang sedang kerja kelompok karena kabar buruk ini.
"Kenapa? Harusnya kamu seneng dong bisa balikan lagi sama kembaran kamu,"
"Semenjak bunda tinggalin kita, aku gak pernah ngerasa seneng punya saudara apalagi kembaran. Bahkan kalau papah ijinin, aku mau oplas biar wajah kita beda,"
"Boleh, tapi pake uang kamu sendiri,"
Aska kehabisan kata-kata untuk menjawab ucapan sang ayah, tapi ekspresi marah dan kesal yang terpancar diwajahnya tidak hilang sedikit pun. Masih dengan tangan terkepal, dia tetap memberikan penolakan terkait permasalah saudaranya.
"Lagian gaya banget pengen oplas, dan yaudah sih biarin aja saudara kamu tinggal disini sama kita. Arkana adalah anak papah, dia tanggung jawab papah termasuk kamu juga," ujar Doni.
"Dia bukan saudara aku lagi,"
"Terserah, mau ribuan kali kamu ngomong kaya gitu orang-orang tetap akan anggap kalian saudara. Wajah kalian yang identik adalah fakta yang harus kamu terima,"
"Mau kamu setuju atau nggak, papah akan tetap biarin Arkana tinggal disini. Bunda sudah meninggal nak, saudara kamu udah gak punya tempat untuk berlindung lagi. Dan di dunia ini gak ada sebutan bekas anak, mau kita kepisah puluhan tahun pun kalian tetap anak-anak papah,"
Aska akui jika apa yang dikatakan ayahnya tidaklah salah, ternyata benar mau sekeras apapun dirinya menolak hubungan dengan Arkana, dia tetap menjadi saudara kembarnya. Tapi sungguh Aska tidak mampu menerima hubungan itu setelah trauma dan luka dalam yang ditinggalkan oleh orang-orang tersayangnya dahulu.
"Papah ngerti perasaan kamu, semuanya cuma masalah waktu. Dan papah juga yakin lama-kelamaan kamu bisa menerima dia kembali,"
"Tolong jangan menolak kesempatan, untuk sesuatu yang jauh lebih baik dimasa depan,"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote, komentar, dan share cerita ini sebanyak-banyaknya.
Salam hangat,
Resa Novia.

KAMU SEDANG MEMBACA
ARKASA
Teen FictionArkana Gema Wijaya, dan Askana Putra Wijaya, mereka adalah saudara kembar yang identik dari pasangan lelaki pribumi dan Perempuan bule berdarah Rusia. Sejak kecil kedua orang tua mereka bercerai, Arkana sang kakak pergi mengikuti ibu nya dan tinggal...