1 - Awal Mula

35 4 0
                                    

Masa MPLS. Masa dimana aku belum mengenal siapapun di sekolah ini. Teman di sekolah menengah pertama pun tidak ada. Karena aku pindah ke luar kota, jadi aku tak punya kenalan.

Saat itu. Jam istirahat. Semua anak baru kelas 10 berhambur pergi ke kantin bersama temannya. Ada yang makan bersama atau hanya sekedar berbincang-bincang.

Sedangkan aku —duduk sendiri menyantap bekalku di pojok kantin, tanpa teman satu pun. Menyedihkan. Tapi aku suka. Rasanya lebih damai jika sendiri. Itu pikirku.

Tapi, seseorang datang. Menarik kursi di depanku.

"Hai", katanya sambil menarik sudut bibir nya keatas, tersenyum.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dia lanjut bertanya, "sendiri aja? teman kamu mana?"

Aku kembali tersenyum. Tapi kali ini senyuman sedikit miris.

"Iya sendiri lebih nyaman."

"Yasudah sama aku saja. Lebih nyaman kalau ada teman, tau." Dia tersenyum lagi. Sepertinya dia orang yang baik, ramah, mudah berteman. Dan juga —cantik.

"Oh iya. Aku Reyna. Kamu?"

"Ranaya. Panggil saja Naya."

"Mulai sekarang kamu temenan sama aku ya. Jangan sendiri terus. Maaf kalau lancang, tapi dari awal aku perhatiin kamu menyendiri terus. Kenapa tidak coba bergaul saja? Teman-teman gak galak kok. Kamu gak bakal di gigit."

Benar juga. Tapi aku memang begini. Aku kurang bisa bergaul. Aku hanya agak malu, dan —takut? Takut mereka hanya mempermainkanku saja. Mereka yang bersikap baik di depanku, tetapi membicarakanku yang tidak-tidak di belakang. Seperti mereka dulu. Ya temanku dulu. Bisa dibilang aku agak takut untuk mulai berteman lagi.

"Hey, kamu dengar aku tidak?"

Ah, iya hampir saja aku melupakan Reyna. Aku pasti terlalu lama melamun.

"Ah, maaf. Ya kita teman sekarang."

Dan pada akhirnya kami pun berteman. Ya aku mencoba menghilangkan pemikiran burukku tentang 'teman'. Aku akan mulai terbuka saat ini. Mencoba mengurangi rasa malu dan takutku. Terimakasih kepada Reyna.

Dan di hari-hari berikutnya, aku sudah tidak sendiri lagi. Selalu ada Reyna disampingku. Menemaniku makan, menunggu jemputan. Bahkan saat akan ke lapangan Reyna selalu menungguku.

Berkat Reyna juga, aku sudah berkenalan dengan beberapa teman.

Oh iya. Aku dan Reyna sekarang berada di kelas yang sama. Aku sangat bersyukur. Bahkan kami pun duduk satu bangku.

Hari ini, hari pertama kami belajar di kelas yang baru. Masih terasa asing bagiku. Suasana kelas yang ricuh, teman yang banyak.

Sebenernya aku kurang nyaman. Aku lebih suka kesunyian. Rasanya damai. Tapi aku harus terbiasa dengan suasana ini selama 3 tahun.

Pelajaran pertama dimulai. Belum belajar efektif sebenarnya, mengingat kami baru hari pertama. Otomatis guru-guru akan memperkenalkan diri dan juga kami yang memperkenalkan diri kepada guru.

Saat memperkenalkan diri, tiba giliran seorang lelaki yang duduk di depanku. Pandanganku terpusat padanya, entah mengapa aku seperti —tertarik padanya? Ah entahlah.

Aku mendengarkan dengan seksama saat dia memperkenalkan diri. Namanya Adrian Dhika Putra. Katanya panggil saja Drian atau Dhika. Tapi sepertinya aku lebih tertarik memanggilnya Drian.

Saat dia akan duduk kembali ke tempatnya, pandangan kami tak sengaja bertemu. Dan dia tersenyum... padaku?

Dari sana. Aku memantapkan hatiku. Sepertinya aku tertarik padanya—



—Adrian Dhika Putra.

When I love someone.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang