Happy reading ya...
***
Melihat senyummu adalah nafas bagiku_ Arka Pradikta
Jam pelajaran kosong merupakan surga dunia bagi murid. Keriuhan tercipta di kelas. Ada yang menyibukkan diri dengan mambaca, ada yang duduk bergerombol bergosip ria, ada yang memilih menghabiskan waktu di kantin, ada pula yang duduk berdiam dengan gadgetnya.
"Ar... Emang lo serius suka sama anak baru itu?" tanya Bima yang fokus melihat kearah sahabatnya itu.
Arka, Bima, dan Roni duduk di pojok kelas barisan belakang. Memainkan game yang sedang hits akhir-akhir ini.
"Serius lah. Kapan gue main-main?" jawab Arka enteng dan tetap sibuk menatap game di gadget miliknya.
"Kenapa lo Bim? Lo juga suka sama tu anak baru?" Roni memandang curiga.
Melihat kecurigaan dari sahabatnya, Bima dengan cepat menjawab "Denger ya.. Gue bukan kalian, ABG labil bergaya cinta-cintaan!" cibir Bima.
"Alah mulut lo Bim.. Bilang aja gak ada yang mau sama lo!" ejek Roni.
Plak
Pukulan melayang di kepala Roni.
"Aduh! Sakit dedek bang!" Roni meringis mengusap kepalanya.
"Ish jijik gue sama lo!" Bima bergidik dan menjauhkan tubuhnya dari Roni.
"Lo bilang jijik, kemarin sayang-sayang dedek bang!" Roni terkekeh.
"Heran gue, kenapa Tisa mau sama lo,!" Bima menggelengkan kepala sebagai tanda tak mengerti.
"Gue ganteng kali, Bim!" Roni membenarkan letak kerah kemejanya dengan angkuh.
"Woi udah, kemana Rasya sama Edo?" Arka celingukan mencari sosok dua sahabatnya yang tak terlihat di hadapannya.
"Biasalah, palingan ngrokok di rooftop."
"Belum juga tobat tu bocah." Arka menggelengkan kepala. Dari lima sahabat ini, hanya Arka yang nyaris tak tersentuh rokok. Walau tingkahnya sering konyol, slengekan, semau sendiri, namun Arka tidak menyukai barang tersebut. Baginya, kesehatan sesuatu yang paling berharga yang harus dan wajib dijaga. Like ya buat abang Arka.
"Ar... Lo ngrasa nggak sih? ada yang aneh sama anak baru itu." Bima kembali serius menatap sahabatnya yang duduk tepat di bangku sebelahnya.
"Maksud lo?" tanya Arka santai tanpa menatap Bima.
"Kayak misterius gitu. Kita udah kelas 12, bentar lagi lulus, ngapain dia pindah. Alasan kepindahan dia tu gak jelas tau gak."
"Sok tai lo..! Dia pindah tu karena cari suasana baru."
"Sok TAU Ar...!" Roni menekankan kata 'tau'.
"Tapi, gue tetep ngrasa ada yang aneh sama tu bocah." Bima tetap kekeh dengan feeliing nya.
"Sok misterius lo,!" Roni melayangkan jitakan tepat di kepala Bima.
"Njirr...sakit nyet.!" Bima meringis kesakitan. Roni hanya tertawa ringan.
"Woi denger ya... Lo tau kenapa dia bisa pindah?" kini Arka memasang muka serius.
"Kenapa??" tanya Bima dan Roni bersamaan.
"Karena dia..." Arka menjeda ucapannya. Melirik Roni dan Bima bergantian. "Jodoh gue!!" Arka tertawa lebar, membuat dua sahabatnya kesal. Untung Arka sahabatnya, kalo bukan, mungkin sudah ditendang ke antartika.
"Eek lo Ar!" umpat dua sahabatnya.
"Hahaha... Ah udah, gue cabut dulu. Gue mo ketemu my angel.. !" Arka menyimpan handphone nya ke dalam saku dan meninggalkan dua sahabatnya yang masih menatap kesal kearahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE
Novela Juvenil"Maaf jika cinta ini menyakitimu" _ Alleta Angelika "Kamu tak kan pernah mengerti rasanya berjuang dan bertahan namun terkhianati" _ Arka Pradikta "Tinggalkan aku jika aku tak lagi di hatimu" _ Devano Mahendra ***** Bukan cerita tentang cowok most w...
