Semua chara bukan milik saya, tapi dengan berat hati. Mereka semua milik King Record *digebuk massal*
*pingsan*Oke ini masih bagian awal UwU...
.. Happy reading~
.
.
"Ichiro-kun... Bisa kita bicara sebentar.." panggil salah satu paman dari trio Yamada, yang mengatakan akan mengadopsi si sulung. Merasa ia harus bersikap dewasa dan menolak bila memang benar bila ketiganya itu akan dipisah, Ichiro menyerahkan Saburo pada Jiro.
Soal biaya hidup, bisa Ichiro pikirkan dilain waktu, yang penting adalah mereka tetap bersama.
"Tunggu Niichan disini.. jangan pergi kemana-mana... nanti niichan buat kare untuk makan malam..." Jiro menerima Saburo, sesekali menepuk punggung adiknya.
Lalu berjalan meninggalkan keduanya, menghampiri kerumunan paman dan bibinya. Yang kebanyakan, Tidak Ichiro kenal.
.
"Jilo... tulun... Sabu mau tulun..." tubuh balita itu memberontak dalam gendongan Jiro, yang pada akhirnya Jiro menurunkannya. Dengan menggengam sebelah tangan Saburo.
"Niichan bilang, kita harus menunggu di sini... Sabu-chan jangan bandel..." seru Jiro menahan adiknya itu yang sendari tadi ingin melepaskan genggaman tangan Jiro.
"Sabu mau liat foto itu..." Saburo menunjuk kedua bingkai foto yang terletak pada makan milik kedua orang tuanya.
"Baiklah... jangan memanjat nisan, hanya melihat.." Saburo menggangguk dan menatap kedua foto tersebut.
"Ibu,.. cantik.." puji si bungsu dan di setujui Jiro.
"Ayah kelen... sabu mau sepelti ayah nanti..."
"Jiro juga mau seperti ayah..."
"Jilo sudah kelen... Ichi-nii juga sudah kelen... Sabu belum..." balita itu menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya. Sedih memikirkan bila ia belum bisa sekeren ketiga orang yang ia sayangi.
"Sabu-chan sudah keren kok--"
.
.
"TIDAK. AKU MENOLAK DIPISAHKAN DARI JIRO DAN SABURO!" teriakan penuh penekanan dari Ichiro mengalihkan perhatian kedua adiknya itu. Mengabaikan para paman dan bibi mereka yang menahannya, agar mendengar penjelasan mereka. Ichiro tidak peduli, dengan langkah besar, berjalan mendekati Jiro dan Saburo.
"Jiro, Saburo... ayo, kita pulang!" langsung saja mengendong Saburo dan menarik tangan Jiro meninggalkan area pemakaman.
.
Tidak menyadari akan sosok bersurai perak yang berdiri tak jauh dari gerbang pemakaman, menatap ketiga bocah yang berjalan meninggalkan area pemakaman dengan pandangan datar.
"Kau yakin? akan mengunjungi rumah mereka?" sosok lain berbicara.
"Huh, tentu saja. Aku gak mungkin jadi pengecut."
"Tapi kau sendiri saja tidak mungkin cukup umur untuk mengadopsi mereka bertiga. Ditambah dengan adikmu--"
"Berisik, sialan! Aku gak butuh pendapat dari polisi gadungan... Kau sendiri tau aku bisa membiayai adikku sendiri. Tanpa si tua sampah itu!" sosok perak itu berjalan meninggalkan sang polisi yang hanya bisa menghela napas.
Sering kali ia berpikir, kenapa dan kapan ia kenal dengan sosok perak itu. Dan kembali berjalan melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Tbc~ (^^♪Ku tau ini sangat pendek sekali, karena berbagai hal... Ku tak bisa mengetik panjang-panjang, ini pun di bantu sosok nista yang dengan senang hati mau membagi ide dan membantuku mengetik.. Terima kasih bebs :* :*

KAMU SEDANG MEMBACA
[HIATUS] Hypnosis Microphone #AU [YAOI]
Fiksi Penggemar⛔DALAM PERBAIKAN ALUR JADI HIATUS DULU⛔