Nyinyir angin seolah mengiringi tiap khayalanku. Terpejam mataku membawa ku pada fatamorgana kenyamanan. Indraku menyesakkan aroma kopi yang sedari tadi tersaji di depanku. Tertancap tenang wajahku meredam bisingnya sorak sorai aktivitas di waktu istirahat. Ketika kelopakku terbuka diam mematung tubuhku menyaksikan tawanya disertai canda yang terlontar dari lisannya. Berdesir hangat hatiku memandangkan sambil menyesap kopi yang mulai mendingin termakan kagumku yang mengulur waktu.
Langkah beratku terasa seiring mataku yang masih tertuju kepadanya hingga membuat diriku tak sadar terhuyung hingga terjatuh ketika kerumunan para fens sang idola datang mengekor sang idolanya yang mendorong ku dengan keras membuat luka robek di lututku karena tergesek tajamnya kerikil disekitarku. Mata ku mulai terasa memanas, ku tiup beberapa kali luka ku lalu mencoba berdiri tanpa uluran tangan yang tertuju kepadaku malah beberapa murid yang melihat ku hanya memandang heran dan tanpa bersalah tak seorang yang enggan menolong ku.
Azka tiba-tiba berteriak " Kalau tidak tahu menolong jangan hanya pandangin orang yang mengalami musibah dasar tidak punya empati!" Tanpa memberiku kesempatan berbicara dia langsung menggiring ku ke UKS. Aku hanya pasrah mengimbangi langkahnya hitung-hitung biar tidak dihukum guru killer mengingat tugasku yang belum sepenuhnya selesai. Baru saja kudaratkan diriku di brangkar UKS Azka langsung berkata, " Lain kali kalau jatuh trus lukanya kayak gini dibersihin pake air biar ngk infeksi trus nihh pake antiseptik biar cepat sembuh" sambil menyodorkan antiseptik. Aku hanya memandangnya dengan senyum sambil berujar " Makasih".
Saat tengah memberikan antiseptik ke luka ku secara perlahan dia menyodorkan tangannya dan dengan senyuman ku balas hangat tangannya. Sejak saat itu kami berteman dan segala tentang ku dia ketahui begitupun dengannya, dia sering sekali mengejekku ketika berpapasan dengan Altha membuat ku selalu berpura-pura tak mengenalnya atau aku bakalan tambah malu karna sorak-sorainya kepadaku.
_Keesokannya_
Pagi hari ini aku telah bersiap didepan cermin, mengenakan pakaian sport ku dipadukan dengan sepatu nike kesayangan ku serta gelang yang senantiasa bertengger di lengan ku jaket yang bertengger di salah satu tali tasku berwarna hitam berpadukan warna abu-abu.
Gebrakan pintu yang sangat kencang disertai teriakan yang menggema di kamarku membuatku terpental kaget dengan gerakan refleks menoleh ke sumber suara. " YUHUUUUUUUUUU Aldy Adiyana Bramasta Datanggggg, wetssss ade dah bangun aja lu gue kira masih keboo hihihihi" " Bisa ngak sehari aja lu kagak bikin gue kaget? Mau jantungan nih gue" balasku. Dengan gaya santainya yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya itu disertai dengan cengingirannya yang membuatku geleng-geleng.
Teriknya mentari tersuguhkan seolah tak kunjung berkesudahan. Ekor mataku memandang lekat sosoknya yang tengah melesatkan kaki menuju kelas tak. Tak sadar diriku tersentak sekali tepukan di bahuku. Dia Chalistha Ardiana sahabatku biasa di panggil itha boleh di bilang orangnya ramah, baik, kutu buku, dan pintar dia juga orang yang bisa jaga rahasia. Satunya lagi bernama Geyrland Ferlanda biasa di panggil Arland. Orangnya baik, hiperaktif, heboh, pede tingkat tinggi. "DOR!" Teriak mereka bersamaan. Ini lah salah satu yang membuat ku sebal bisa-bisa aku dapat penyakit jantung gara-gara mereka. Ku pelototi mereka lalu berdecak sebal tanpa rasa bersalah mereka hanya cengir lalu Arland berkata " Ohh gini kerjaan lu sekarang? Yang pagi-pagi sudah liat doi noh. Kita yang jomblo bisa apa yah tha" sambil menyonggol itha yang tengah asik dengan bukunya. Dengan wajah bersemu lalu aku menjawab "Apaan sih... gue ngk punya doi kali land. Makanya jadi jomblo tuh jangan ngenes"
Tanpa sepengetahuanku bola basket mengenai kepalaku, Arland yang melihatnya langsung menertawai ku yang mengaduh kesakitan lalu ku pelototi dengan tangan ku yg sudah terkepal di depannya seketika dia langsung diam begitu saja. Saat ku berbalik belum ku langkahkan kakiku aku dikejutkan oleh Rian beberapa detik aku memandangnya sedang dia memandang heran lalu berujar " bolanya" dengan gagap dan kaku ku sodorkan bolanya ketika ku tersadar dari tatap menatap itu.
Ketika dia sudah berbalik bermain basket dengan temannya lagi aku melangkahkan kakiku begitu cepat hingga tak sadar menabrak salah satu tiang bangunan sekolah dengan kesal ku pukul tiang itu lalu berujar "Yang mindahin tiang ini kesini syp sih" lalu kutepuk keningku " Anjir, gilakan gue" sambungku. Untung keadaan di koridor lagi sepi jadi aku tidak merasa begitu malu dan gelagapan.
_________________________________
Oke guys maaf byk typo... akoh cumalah manusia biasa macam cute girl yg penuh dosa.... maaf kalo kalian kurang terhibur dengan ceritaku😊
#someone

KAMU SEDANG MEMBACA
IRIDESCENT
Teen FictionBukan sinar yang tak memihak tapi tujuan yang memihakkan sinar. Bukan hujan yang memisahkan terik namun asumsi yang membuatnya tak mampu disandingkan. Tanah dan daun berbeda namun ketika kepercayaan yang membuatnya sama apalah daya sebatas omongan y...