Aku berjalan menyusuri rak-rak buku yang menempel di dinding ruangan ini. Sepi, lengang. Aku menaiki anak tangga, mencoba mencari-cari buku yang ku maksud.
"Ah, ini dia!" Aku mengambil buku yang sudah berdebu. Meniupnya lalu, meletakkan pada mejaku, mengambil sebuah buku catatan pada tasku.
Kertasnya sudah menguning. Frasa-frasa yang tertulis di dalamnya terasa asing bagiku.
Aku menjatuhkan sesuatu dari buku catatanku, sebuah foto seorang gadis dengan wajah murungnya, yang mengingatkanku pada sesuatu.
"Dia.." Aku berkata pada hatiku.
"Apa yang telah terjadi padamu, Tari?" aku bergumam lirih.
"Aku membencimu, tapi aku juga menyayangimu." Aku mulai merasakan amarah dalam jiwaku.
Aku membanting buku-buku yang ada di mejaku.
"Tari, kau selalu saja membuatku terluka!" aku berteriak, hingga aku tergugu.
"Aku terlambat, Tari!" aku semakin tergugu.
"Aku benar-benar terlambat, Tari!"
"Tari, maafkan aku." Air mataku tak berhenti menetes.
Aku tidak pernah merasa se emosional ini.
"Tari kau dimana?"
"Tari kau sedang apa?"
"Tari apa kau berbahagia?"
"Tari, maafkan aku."
"Tari, aku sudah berbahagia dengannya, tapi separuh hatiku mencemaskanmu."
"Tari, apa karena aku kau merasakan luka emosional?"
Namaku Ari, sedang hidup berbahagia bersama perempuan lain, tapi separuh jiwaku menangis pilu, mencemaskan Tari.
Kau boleh menjulukiku sebagai pecundang, atau semacamnya, aku memang seperti itu. Tapi ada satu hal yang kau lewatkan, aku melakukan semuanya karena aku juga terluka, dan aku tidak ingin membuat siapapun bersedih.
"Aku pernah menginginkan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Tanpa aku sadar orang yang paling ku cinta terluka karena diriku."
~Tarisa Salsabilah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Epiphany
Fantasy"Ya, aku mengalami epiphany, dimana aku menyadari sesuatu teramat penting bagiku, sayangnya aku terlambat."