follow the rest of the story
Sebelum baca part ini kalian udah vote part sebelumnya gak?
semoga aja udah yah.
Aku berharap semoga pembaca gelap segera di beri hidayah agar segera sadar bahwa pembuat karya butuh dihargai. Karna satu votemment sangat berarti untukku, eaaa.
Thanks, buat yang udah votemment part aku yg sebelumnya.
Love readers..😘💕
Oke, lanjut baca!!!
*
*
*
"dan lo Nathan, awas aja lo nanti. Lo udah berani ganggu bidadari gua, dan gue gak segan segan bunuh orang yg berani ganggu bidadari gue" batin alex mengepalkan tangannya kuat.
-------------------- next----------------------
Pukul 14.59
Ulan pulang lebih lama dari biasanya, karena tadinya ulan membantu bu illy merapikan perpustakaan dan memakan waktu satu jam lima puluh sembilan menit.
Ulan berjalan di pinggir jalan, ia terdiam menatap langit yg terlihat gelap. Namun, itu tak membuat senyum itu luntur dari wajah cantiknya. Ia bahagia, bahkan sangat bahagia.
Baru kali ini, ulan dapat pulang sendiri tanpa Alex di sampingnya. Biasanya Alex selalu di sampingnya, memantau pergerakan ulan kemudian melarangnya untuk melakukan ini ataupun itu. Entahlah, anak posesip dan egois itu tak menampakkan batang hidungnya sama sekali semenjak ia bolos di pelajaran akhir.
Ulan terus berjalan dengan senyum yang selalu setia di wajahnya. Namun, sepertinya hari ini tak mendukung ulan karena cuaca yang terlihat begitu buruk.
Siang ini terligat gelap, karena matahari bersembunyi di balik awan yg hitam. Udara dingin menyeruak, hujan pun mengguyur perlahan lahan dengan lembut namun semakin lama hujan itu mengguyur semakin deras, membuat ulan berjalan sambil memeluk dirinya sindiri karena merasa dingin menusuk tulang belulang.
Tiba tiba langkah ulan terhenti saat melihat Nathan sedang menuju ke arahnya sembari tersenyum tulus. Saat melihat senyum itu, ulan merasa perasaan yang tidak enak. Entah apakah yang akan terjadi berikutnya.
Wajah dipenuhi dengan memar, bibir pucat pasi dan darah segar terlihat di sudut bibir Nathan.
Melihat itu, membuat ulan menatap kosong seseorang dihadapannya. Nathan melangkah maju, mencoba mendekati ulan.
"Ulan, sorry. Maafin gue, maaf gue yang selalu ganggu lo dan buat lo sering nangis di kelas. Gue yang setiap hari bully lo, dan gue yang udah nyebarin gosip bahwa lo itu gadis misterius di sekolah. Sekali lagi maaf, gue lakuin itu karena gue suka sama lo. Bahkan gue cinta sama lo si gadis misterius bin aneh, cwe aneh yang cerdas selalu juara di kelas. Itu buat gue semakin tambah suka sama lo, tapi gue cowo yang payah karena gak bisa ngungkapin semua itu. Gue sengaja ganggu dan bully lo, karena gue butuh perhatian lo. Gue harap, lo bisa maafin gue" ucap Nathan panjang lebar dengan nada suara yg terdengar lirih.
Nathan menatap ulan sayu, tangannya terulur hendak menyentuh pipi chubby ulan, namun dengan cepat ia tarik kembali kemudian menundukkan kepala.
"Maaf ulan" ucap nathan lagi, dan kali ini suara itu terdengar putus asa.
Dengan perasaan tak tega ulan memegang dagu milik nathan, namun anehnya saat ulan memegangnya dagu itu terasa begitu dingin. Dan seketika perasaan takut menjalar ditubuh ulan, namun perasaan itu segera ia tepis.
Nathan yang menunduk, kini bertatapan dengan wajah cantik ulan.
Walau, wajah nathan tidak seseram wajah hantu yang selalu di lihatnya. Tapi, wajah pucat pasi nathan sukses membuat ulan bergidik ngeri.
Dari tatapan Nathan, ulan melihat jelas kepedihan yang begitu dalam.
"Ulan, please help me. Tolong bantu gue, sebelum gue benar benar pergi selamanya"
"What!!!" batin ulan.
Ulan begitu kaget mendengar ucapan Nathan
"Apa maksudnya bilang benar benar pergi?" batin ulan lagi.
Jujur ulan merasa bahagia karena tidak ada lagi orang yang suka menganggunya, namun disisi lain ia merasa takut kehilangan Nathan karena rasa sayang pertemanan.
"Ikutin gue ya" ucap Nathan.
Dengan rasa takut, ulan hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Nathan.
Skip
Di depan sebuah bangunan tua, berada tepat beberapa langkah dihadapan ulan langkah nathan berhenti. Ulan yang mengikutinya juga ikut berhenti.
Ulan pun memilih diam ditempat, ia penasaran mengapa langkah nathan berhenti di depan sebuah bangunan tua yang gelap.
"lo masuk aja duluan kedalam, gue ngikutin lo dari belakang" ucap nathan sambil menunjuk bangunan tua yg sepertinya bekas kebakaran beberapa tahun yang lalu.
Wajah ulan kini benar benar menyiratkan ke khawatiran saat nathan menyuruhnya terlebih dahulu masuk kedalam bangunan tua itu.
Dengan rasa takut yang luar biasa dan keberanian yg sedikit, ulan mengikuti perintah nathan. Ulan pun melangkahkan kakinya menuju bangunan tua itu.
Dengan kaki yg bergetar, ulan memasuki bangunan tersebut. Ia pun meremas kuat roknya sambil terus melangkah dengan tegang.
Mata ulan menelusuri ruangan gelap dan berdebu itu dengan perlahan, namun pandanganya terhenti pada tubuh yg terbujur kaku tergeletak tak berdaya dilantai. Ia terdiam menatap lurus pada sosok tubuh yg terbujur kaku itu.
Melihat itu membuat ulan merasakan tubuhnya mati rasa.
Ia hanya menelan ludah yg terasa tercekat di tenggorokannya. Dengan perasaan takut yg luar biasa menyelimutinya dan tubuh yg gemetar ketakutan, ia kembali melangkahkan kakinya mendekati tubuh yg terbujur kaku beberapa senti dari tempatnya berdiri sekarang.
Mata ulan berkedip beberapa kali, ia tak percaya bahkan sangat tak percaya.
"Nath..nath..nathan" ucap ulan tergagap, lalu menggigit bibir bawahnya.
Ulan tak mendapat jawaban ataupun respon dari seorang di hadapanya, tentu saja orang yg di ajak bicara olehnya sudah terbujur kaku dengan mata yang tertutup rapat.
Ulan membeku beberapa detik ia mengangkat alisnya saat mengingat sesuatu. Sesuatu itu membuat nafasnya tertahan dan terbelalak kaget dengan tubuh yang masih bergetar dengan gerakan cepat ia menengok kebelakang.
DAMMM...!!!
Hai readers qu tercinta,💕😘
Thanks udah baca. Maaf author baru nulis, salam dari author buat Alexa Aurora Ulandary semoga sehat selalu. Huaaaa😭😭😭 Author rindu sekolah lama banget libutnya dua minggu bete nh diam dirumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Hate you, psychopath.!
Bí ẩn / Giật gânSiapakah yang tahu tentangku? Aku hanya mempunyai kenangan buruk di masalaluku yang kelam. Hidupku hampa dan kosong tanpa tujuan, itu membuatku seperti mayat hidup. Aku ingin bangun dari jiwa penuh luka, dan melarikan diri dari sakit yang menjeratk...
