Chapter 5

6.9K 369 29
                                        

Mentari pagi membangunkan Anya dari tidur nyenyaknya. Masuk menembus jendela dan mengenai matanya. Perlahan Anya bangun dan merenggangkan sedikit tubuhnya untuk bisa kembali beraktifitas.

Dia bangkit dan masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, tidak lupa juga menggosok gigi. Setelah itu turun kelantai bawah untuk memasak sarapan dan bekal yang akan dibawanya kerja nanti.

Tidak lama seseorang yang begitu dekat dengannya beberapa tahun ini, yang menjadi sandaran keluh kesahnya dan juga teman sukacitanya juga turun kebawah. Terlihat sekali dia baru bangun tidur, dan langsung turun kebawah untuk minum air dingin. Itu sudah kebiasaan nya.

Tidak ada suara dari antara mereka berdua. Fio asik dengan minuman dingin dan ponselnya. Sementara Anya mencari kata yang tepat sambil memasak untuk membuka pembicaraan.

Ia berpikir Fio memusuhinya karena percakapan semalam, dan dia tidak ingin itu. Fio itu segalanya buat dirinya, dia sudah seperti kakak buat dirinya, kadang juga seperti orangtuanya. Karena Anya sendiri jauh dari orangtuanya dan juga kebetulan anak tunggal. Jadi sebelum bertemu dengan Fio beberapa tahun lalu, hidupnya hanya dihabiskan bermain dengan orangtuanya kalau sedang tidak sibuk.

"Fi." Anya mencoba menghancurkan keheningan yang terjadi diantara mereka.

Fio tidak menyahut, ia masih asik dengan ponsel dan air putihnya.

"Fi." Anya mencoba lagi.

Namun tetap tidak dibalas juga oleh Fio.

"Fio!!" Anya menggeram sambil merampas ponsel milik Fio. Matanya menatap nyalang Fio yang ada didepannya.

"Apasih?!" Fio tak mau kalah, dia juga menatap tajam orang yang ada didepannya itu.

"Aku mau bicara sama kamu." ujarnya dengan serius sambil menaruh kembali ponsel Fio diatas meja pantri.

"Mau bicara apa?" jawab Fio ketus dan malas.

"Soal semalam itu." ucap Anya, Fio hanya menggumam sebagai jawaban nya.

"Soal apa? Aku lupa." Fio mencoba memancing emosi Anya, dia paling suka kalau sudah melihat wajah Anya memerah, bukan karena tersipu, tapi karena emosi.

Dia tau seluk beluk sifat Anya, dan hanya dia yang tau. Orangtuanya saja bahkan tidak tau, padahal mereka orangtuanya.

Anya tau dia dikerjai oleh Fio, tapi sebisa mungkin ia mencoba bersabar, masalah ini harus sudah kelar dulu baru mereka bisa berantam lagi.

"Soal semalam. Semalam aku yang marah-marah tidak jelas sama kamu sehabis pulang dari rumah kakak perempuannya CEO baru kita itu."

"Oh."

'Hanya oh?!.' Anya membatin menahan kesal menatap nyalang orang yang didepannya.

Dia mengalah, sebisa mungkin menahan kekesalan nya. Dan akhirnya Anya menceritakan semua alasan kekesalanya kepada Fio, Fio hanya membalas ucapannya dengan anggukan pertanda ia mengerti dengan semua perkataannya.

"Jadi seperti itu ceritanya. Aku kesal saja dia mengacuhkan ucapan terima kasih ku, kalau saja dia bukan atasan kita, sudah kupastikan dia akan mendekam di ruangan putih untuk beberapa hari kedepan." kekesalan Anya kembali setelah mengingat bagaimana semalam cueknya boss baru nya itu.

Ingin rasanya ia menonjok wajah tampan Boss baru nya itu kalau saja dia bukan atasannya.

'Tampan? Hell no!! Muka dia jelek.' pikir Anya.

Karena memikirkan kekesalannya dengan Boss baru nya itu, Anya sampai tidak sadar kalau Fio sudah naik keatas untuk segera bersiap-siap berangkat kerja.

Anya yang melihat kalau Fio sudah tidak ada lagi disamping nya semakin dibuat kesal.

"Ya Tuhan. FIO...!!!" dia berteriak menahan kekesalan nya. Sementara diatas, Fio cekikikan mendengar teriakan sahabat nya tersebut, dia paling suka kalau mengerjai sahabatnya itu.

*****

250 vote untuk lanjut, bisa?

Btw, maafkan aku yang baru bisa update cerita ini, sedikit ada urusan didunia nyata. Semoga kalian gak bosan menunggu :) 

Dan mohon maaf lahir batin buat yg merayakan, maaf terlambat ngucapin nya, GBU :)

Don't forget to vote and comment, love all :*

The Billionaire BastardTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang