#9: Malam yang Mencekam

30 2 0
                                    

Tempat: Masih di hutan
Waktu: Malam hari, tanggal 26
Suasana: Mulai bete

***

3 hari 3 malam sudah, para member Geledek Squad + Enzy tinggal di hutan tak bernama ini. Terlihat mereka mulai bosan, bete, capek, kesel, kangen rumah dan pengen buang air.

"PAAAAAK!! PENGEN PULAAAANG!!" teriak Desta memecah kesunyian.

"Berisik! Mobilnya aja masih rusak! Gimana kita bisa pulang?!" ujar Andre kesal.

"Tau gini mending gue ke pantai sendirian aja, dah!" gumam Sule.

"Udah nape, sih? Namanya juga musibah, ya harus kita hadapi" kata Danang.

Tumben bijak.

"Bentar. Mobil mogok di hutan itu termasuk musibah, ya?" tanya Vincent pada diri sendiri sambil garuk-garuk kuping.

Di sisi lain, Darto dan Enzy sedang mengobrol tentang kehidupannya masing-masing. Anggaplah mereka sudah berkenalan sejak kemarin siang.

"Mas, kata Pak Andre, mas punya usaha sarung, ya?" tanya Enzy.

"Iya. Brand sendiri. Namanya 'Semut Nungging'" jawab Darto.

Enzy mendadak bingung.

"Lho, kok sarung namanya 'Semut Nungging' sih, mas?" tanyanya lagi.

"Entah. Pak Haji Andre sih yang ngasih nama itu"

"Ooh. Sejak kapan mas mulai usaha sarung?"

"Sebulan setelah bulan puasa. Awalnya sih, pas puasa jualan takjil secara online. Abis itu nggak dilanjut lagi"

"Takjil online? Baru denger"

"Hehe. Oh iya, kamu kuliah apa kerja?"

"Kuliah, mas. S1 jurusan DKV"

"Ooh. Kuliah di mana?"

"Universitas Pancaroba, deket komplek.. apa tuh namanya.. komplek Wakandah!"

"Universitas Pancaroba? Lah sama kayak adek saya dong. Satu jurusan, pula"

Lagi asyik ngobrol, tiba-tiba mereka mendangar teriakan dari salah satu warga suku.

"KEPALAAAA!! KEPALAAAA!! KEPALA SUKUUUU!!" begitulah teriakannya.

Penasaran, merekapun langsung mengikuti warga tersebut sampai ke rumah Kepala Suku.

"Ada apa kamu teriak-teriak malem-malem begini?!" tanya sang Kepala Suku.

"Laper, Kepala..." jawab warga itu.

"Oalaah, makan dong kalo lapar"

"Eh, maksudnya, lapor, Kepala. Maaf, tadi salah sebut. Tadi saya melihat sepuluh rusa sudah jadi bangke. Kemungkinan, mereka dibunuh"

Yang lain pun terkejut.

"APA?! DIBUNUH?!" teriak Andre terkejut ala sinetron.

"Tau dari mana kalo rusa-rusa itu abis dibunuh?" tanya Kepala Suku lagi.

"Saya melihatnya sendiri. Ada luka bekas tembakan di masing-masing leher mereka" jawab warga tadi.

Kepala Suku dan warga kemudian pergi menuju tempat kejadian perkara alias TKP. Tapi sebelum itu, sang Kepala Suku berpesan kepada Enzy dan para member Geledek Squad.

"Kalian tunggu di sini saja. Jangan ikut! Terlalu berbahaya" begitulah pesannya.

Setelah Kepala Suku pergi, merekapun kembali ke perkampungan.

***

Suasana semakin mencekam. Mereka terlihat was-was menunggu hasil penelusuran sang Kepala Suku perihal kasus tewasnya sepuluh rusa yang diduga dibunuh oleh oknum tak bertanggungjawab. Ada yang sambil gigit-gigit jari hingga mondar-mandir sendirian layaknya setrikaan.

"Aku kasihan lho sama rusa-rusa itu. Tega bener tuh, yang nembakin. Kan aku jadi sedih" gumam Enzy.

"Sama, Zy. Gue juga" sahut Vincent.

Vincent sedari tadi pengen meluk Enzy, tapu nggak jadi karena udah keburu dipelototin sama Darto. Enzy mulai kelihatan risih sama sikapnya.

"Jangan-jangan, yang nembak itu rusa... yang pernah kita temuin dua hari yang lalu, lagi!" kata Andre.

"Hah? Serius? Lu ketemu pemburu?" tanya Sule.

"Iya. Pas gue sama Darto disuruh nyari kayu bakar. Lu inget kan, To?" tanya Andre kepada Darto.

Diapun mengangguk-anggukkan kepala.

"Kalo yang bunuh rusa itu beneran dia... wah, bener-bener tuh, orang" kata Andre lagi.

Semenit kemudian, akhirnya mereka bisa bernapas lega, lantaran sang Kepala Suku telah kembali dari lokasi kejadian. Darto pun menghampirinya.

"Jadi bagaimana, Tuan?" tanyanya.

"Saya sudah melihatnya. Ada sepuluh bangkai rusa yang telah mati, dan terdapat luka bekas tembakan di lehernya, persis seperti yang diterangkan oleh warga kami tadi. Dan saya juga menemukan benda ini" jawab Kepala Suku panjang lebar.

Dia menunjukkan sebuah senapan laras panjang, lengkap dengan pelurunya.

"Tuh kan, To?! Ini pasti ulah pemburu yang gue ceritain tadi!" seru Andre sambil nabok bahu Darto.

"Sebenarnya, kejadian ini sudah sering kami temui. Kami sudah membuat peraturan agar mereka tidak membunuh hewan lagi. Tapi apa daya, mereka masih aja bandel" ujar Kepala Suku.

"Sepertinya ini sudah saatnya kita berperang.." lanjutnya.

Yang lain kaget.

"Hah?! Berperang?!" seru mereka.

***

"Heh, maen peluk-peluk aje, lu! Gue juga mau, keles!"
- Darto (dalam hati)















Maaf ya, baru dilanjutin hari ini. Besok ku lanjut lagi, deh :)
Enjoy :)

Geledek Squad 2.0: Jungle AdventureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang