[2]

4.9K 532 27
                                    

Han Yeji berdiri di depan teras sebuah toko kelontong yang berada di pinggir jalan.

Irisnya menatap ribuan titik air yang jatuh dari langit. Ujung sepatunya kini telah basah terkena percikan air yang menetes dari sudut atap toko.

Gadis itu mengeratkan pegangan pada blazer seragam miliknya. Hari ini hujan datang tiba-tiba. Niatnya tadi selepas pulang sekolah ia ingin pergi ke perpustakaan kota. Mencari buku yang dijadikan bahan untuk tugas sekolah esok hari.

Namun sialnya di pertengahan jalan menuju kesana hujan turun begitu derasnya. Membuatnya mau tak mau harus mencari tempat guna berlindung. Terjebak di teras toko bersama rintikan hujan sembari menunggu partikel air itu berhenti jatuh membasahi bumi.

Terhitung sudah lima belas menit berlalu. Intensitas air hujan perlahan mulai berubah menjadi gerimis halus. Aroma hujan bercampur tanah menyeruak masuk melalui indera penciumannya. Kepalanya mengadah menatap langit yang masih tampak mendung di atas sana.

Salah satu tangannya ia julurkan ke depan, Membuka telapak tangannya. Tidak ada lagi setetespun air yang jatuh mengenai permukaan kulit tersebut. Hujan benar-benar telah reda sepenuhnya meskipun langit disana masih sedikit menggelap.

Kedua tungkainya bergerak melangkah pergi dari tempat persinggahan itu agak sedikit berlari. Ingin segera menuntaskan apa yang seharusnya memang ia niatkan sedari awal. Pergi ke perpustakaan kota mencari buku.

Netranya melirik arlojinya sekilas. Pukul 6 sore. Masih ada waktu.

------------

Buku yang dicarinya sudah berhasil Yeji dapatkan dan berada dalam genggamannya sekarang. Namun raganya masih enggan pergi dari sana.

Tungkai dan netranya menjelajah ke barisan rak-rak tinggi menjulang yang berisi buku-buku besar dan terlihat kuno di sudut ruangan. Ditilik dari keadaannya tampaknya lorong yang satu ini jarang dikunjungi.

Irisnya memindai jajaran buku-buku tebal dengan cover berwarna hitam yang tersusun rapi di dalamnya.

Yeji suka menjelajah perpustakaan, mencari buku yang menurutnya menarik. Ia bisa menghabiskan waktu seharian hanya dengan membaca buku.

Pada jam-jam seperti ini perpustakaan kota memang sepi pemgunjung, hanya segelintir orang saja dan bisa dihitung menggunakan jari.

Namun entah karena kebetulan atau apa, hari ini tampak berbeda. Jauh lebih sepi karena hanya dia yang menjadi satu-satunya pengunjung yang tersisa hari ini. Padahal hari juga belum terlalu larut.

Segala sudut penjuru perpustakaan tampak kian hening. Benar-benar hening sampai langkah kakinya sendiri terdengar menggema memenuhi lorong.

Dduk!

Suara sebuah benda yang jatuh beradu dengan lantai di belakangnya membuatnya menghentikan langkah. Lalu berbalik menuju asal suara.

Kedua irisnya menjatuhkan pandangan pada sebuah buku yang tergeletak tak berdaya diatas lantai yang dingin. Tangan kanannya terjulur meraih buku tersebut. Membolak-balikan sampul depan dan belakangnya secara bergantian. Sebelah alisnya terangkat bingung. Hanya sebuah buku yang tak terlalu tebal dengan bagian sampul depan berwarna hitam pudar dan sedikit kecokelatan.

Ada sebuah lambang aneh yang terukir tepat pada bagian atas sampul depan buku tersebut. Tidak ada judul, nama penerbit maupun nama pengarangnya sama sekali. Tangannya bergerak membuka dan membalik halaman demi halaman buku usang tersebut. Lembaran kertasnya bahkan telah kusam dan menguning.

Kedua alis Yeji bertaut, dengan dahi yang mulai berkerut bingung, menatap deret demi deret huruf pudar yang tertera disana. Bahasanya jelas tidak ia mengerti sama sekali. Baru kali pertama ia menjumpai huruf dengan bentuk aneh seperti itu.

Dan tepat pada lembar terakhir, deret demi deret huruf disana berubah. Tidak lagi tulisan aneh seperti di halaman sebelumnya. Melainkan sederet huruf alphabet dengan susunan tidak beraturan.

Ini jelas bukan bahasa inggris, bukan juga bahasa dari negara lain yang juga mengunakan huruf alphabet.

Bibirnya bergerak menggumamkan kata demi kata yang tertulis disana. Berusaha membaca dan memahaminya.

Wuss..

Angin berhembus pelan. Lembaran demi lembaran dalam buku yang berada dalam genggamannya menutup sempurna secara tiba-tiba. Disusul dengan lampu di lorong perpustakaan yang juga ikut berkedip.

Yeji tersentak, bergidik merasakan angin yang baru saja berhembus menerpanya. Netranya segera bergerak acak memindai ke sekeliling. Tidak ada siapapun yang berhasil ia dapati disana. Tidak ada jendela maupun ventilasi yang bisa menjelaskan darimana angin tadi berasal.

Seluruh tubuhnya meremang seketika, cepat-cepat ia meletakan kembali buku yang digenggamnya ke salah satu rak yang terjangkau secara asal. Lalu melangkah pergi menjauh dari sana.

Yeji hanya tidak menyadari. Ada sosok tubuh bertudung hitam yang sedari tadi setia berdiri mengawasi dalam diam di salah satu sudut sana. Kedua manik kelam itu terus menyorotnya lurus penuh kuasa dengan pandangan datar nan menusuk. menyorotnya lurus dengan pandangan datar nan menusuk.

Maniknya masih belum lepas dari objek yang tengah ia awasi, setia memandang lekat hingga siluet tubuh sang gadis menjauh pergi dari jangkauannya, menghilang dibalik salah satu rak.

"Aku menemukanmu," bisik sosok tersebut dengan senyum miring, diikuti seringai penuh kemenangan.
.
.
.
.
.[]

Fyi, ini bukan cerita horror kok, *kayaknya

Devil Beside MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang