|•|•|•|•|•|
Apa katamu?
Teman? Sahabat?
Memangnya masih ada di dunia ini?|•|•|•|•|•|
Jaehyun menyampirkan jasnya di singgasananya. Tumpukkan dokumen untuk keberangkatannya nanti sudah tersusun rapih di atas meja kayu itu. Ia menghela nafas pelan, menggulung lengannya, lalu menyelesaikan semua tugasnya.
Jam menunjukkan pukul 10:00, yang artinya masih ada sekitar 4 jam lagi sebelum akhirnya ia harus mendarat di Bandara Changi, Singapura nanti.
Dering telpon menggema di seluruh ruangan laki-laki itu. Atensinya yang semula fokus dengan dokumen-dokumen selanjutnya, langsung menyambar gagang telpon itu.
"Oh, Minhyun Hyung, ada apa?"
"Bagaimana dengan rencanaku kemarin, Jaehyun-ah?"
"Maksudmu dengan penembakkan Daerim dan Deoram kemarin?"
"Mereka sudah tewas, kemarin sore. Chan yang mengurusnya.""Bagus. Langkah kita untuk mendapatkan posisi tertinggi di keluarga Master sudah tinggal sedikit lagi. Hanya perlu menyingkirkan beberapa orang lagi-- dan BOOM! Semua perusahaan di tangan si kakek tua itu menjadi milik kita."
"Ah, kau benar Hyung."
"Keluarga Shon di Thailand, sudah mengalami penurunan saham. Ten yang mengurusnya. Keluarga Wong juga sudah mengalami kemunduran, dimana Haknyeon sendiri malah berpihak kepada kita. Dasar bodoh."
"Dan kau, urus keluarga Nyo. Aku akan pergi ke China, mengurus keluarga Huang disana.""Keluarga Nyo?"
"Ne. Tidak susah menyingkirkan mereka. Kau hanya perlu menyingkirkan sang main worker disana. Sang pewaris bukanlah tandinganmu."
"Aku sangat percaya diri bahwa kau akan menyingkirkannya hanya dengan menutup mata.
Dan --phiiw! Keluarga Nyo dengan sangat mudah mundur dari eksistensinya di perusahaan terbesar di Asia."
"Bukankah ini permainan yang sangat mudah? Bukan begitu, Jaehyun-ah?""Ah, ne Hyung. Geundae, siapa yang akan kubunuh?"
"Doyoung, Kim Doyoung. Sang main worker Lion Company."
"NDE?!" Pekik Jaehyun. Alisnya tertaut bingung.
"Ck, kau tak mendadak tuli kan?"
"Eh, tapi bukankah itu sahabat lama kita Hyung?"
"Teman? Sahabat? Memangnya masih berlaku di dunia ini? Hey, Jaehyun-ah, Kau mau mendapatkan apa yang kau mau, bukan? Dan itu adalah caranya. "
"Tapi Hyung, membunuh Doyoung?"
"Ck, aku tidak bilang untuk membunuhnya. Kau sendiri yang mengatakannya. Aku hanya bilang untuk menyingkirkannya."
"Lagipula, sampai kapan kau akan terus menganggapnya teman setelah dia merebut apa yang kau mau?"
Jaehyun terdiam. Mencerna kalimat Minhyun sebentar dan memutuskan panggilan secara sepihak. Omongan Minhyun --sang atasannya memang ada benarnya. Tapi, oh ayolah, itu sudah bertahun-tahun lamanya. Jaehyun juga sudah merelakan Chaeyeon untuk bersama Doyoung. Walaupun ia juga kadang sakit mengingat kejadian itu.
Tapi beberapa detik selanjutnya, Jaehyun bangkit dari tempat duduknya dan menyambar ponselnya. Mengetik beberapa huruf dan berjalan keluar ruangannya.
Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Jangan salahkan Jaehyun atas tindakkannya nanti.
•Mafia In Love•
Euncha menatap kearah luar jendela mobil. Melihat pemandangan Seoul yang sudah 3 hari berturut-turut terguyur hujan. Walaupun matahari sudah menunjukkan sinar kebanggaannya, tak dipungkiri similir udara dingin masih berhembus kesana kemari meninggalkan rasa dingin di kulit.
"Kau yakin kita akan pergi kesana?" Tanya Doyoung.
Euncha mengangguk, "Kita bisa memilih permainan di dalam ruangan, oppa. Kau tak perlu khawatir jika kita kehujanan nanti." Doyoung mengangguk sebagai jawaban, tersenyum sekilas dan kembali fokus pada jalanan.
Namun, baru saja Doyoung menginjak pedal gas, suara tembakan berhasil membuat kaca mobil Doyoung retak. Tak ingin ada kejadian yang tidak mengenakkan, laki-laki itu menarik gasnya.
Doypung mencengkram tangan Euncha kuat. "Kau tak apa-apa?" Tanya Doyoung yang hanya dibalas anggukan lemah oleh Euncha.
Doyoung menggeram dalam hatinya. Memaki siapapun yang berani membuat hari indahnya ini menjadi kacau.
Oh ayolah, dia hanya ingin bersantai dengan pujaan hatinya yang sudah lama tak pernah ia jumpai itu. Tapi ada saja keparat yang mengganggu hari bahagianya.
Doyoung menarik gasnya dalam-dalam. Mengendarai mobilnya dengan lihai menghindari tembakkan peluru dari belakang mobilnya.
Laki-laki itu meraih handphonenya, membuat pesan singkat kepada Eunwoo --Jenderal yang merangkap sebagai dokter umum itu agar cepat menurunkan bantuan kepadanya.
Peluh membasahi dahi Euncha. Wanita itu lebih memilih memejamkan matanya sekarang sambil menahan rasa sakit yang menyerang perutnya sekarang.
Selang beberapa menit, dibelakang mereka terjejer rapih 6 mobil polisi. Menghalau jalan sedan hitam yang mengikuti mereka sejak tadi.
Dengan tergesa-gesa, Doyoung langsung membelokkan mobilnya kearah gedung bercat hijau lumut itu. Memberhentikan mobilnya di depan dan menggendong Euncha kearah klinik umum didekat sana.
Sedangkan wanita bermarga Yoon itu, telah tak sadarkan diri sejak beberapa menit lalu.
Mengingat kejadian tadi yang membuat harinya berubah menjadi hari terburuknya serta keadaan Euncha yang melemah, membuat Dotoung geram. Siapapun pelakunya nanti, Doyoung benar-benar akan meminta Eunwoo menjatuhkan hukuman yang setimpal nanti.
•Mafia In Love•
N; Bahasaku terlalu berbelit-belit gak sih? =(

KAMU SEDANG MEMBACA
Mafia In Love.
Fanfiction---;;🌙 Bagaimana jadinya jika Yoon Euncha (as You) yang sudah menjadi istri kontrak dari Jung Jaehyun --sang pewaris tahta Lion Company, ini bertemu kembali dengan cinta pertamanya --Kim Doyoung?.