⚝ pls 。 / OO
❝ persahabatan itu, bukan
sekedar pembaitan.
maknanya memang
sesempit rakit di lautan.
tapi kalau untuk sekedar
diucapkan dengan lisan,
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Temannya Sajakyata 'kan?" Heru yang tengah asik duduk termangu di kursi bambu itu kian diam membisu.
Pemudi di hadapannya, memang rupanya tak begitu asing kata netra. Habisnya, kadang Heru jua bersua dengannya ketika menunggu Sajakyata.
Dirasa pemuda itu tak membalas tanya, pemudi itu langsung meneriaki asma Sajakyata. Hanya saja naas, piguranya langsung tersumbat oleh hasta sang pemuda. Lalu dengan sengaja, menyeret raganya menjauh dari jangkauan Sajakyata yang tengah mencari dirinya.
"Lo apa-apaan sih!" omelnya setelah Heru menyingkirkan lima jemari dari piguranya.
"Ya habisnya, lo ngapain teriak-teriak? Gue nggak cari Sajak. Cuma lagi lihat-lihat."
"Tumben," gumamnya.
Ya habis bagaimana? Saptapana sudah terlanjur dikenal satu semesta Tritamapa. Mereka tak pernah alpa untuk selalu bersama. Wajar saja kalau pemudi itu salah mengira.
"Ekhm, gue belum tau nama lo," sebuah pernyataan dari Heru terlontarkan. Sebenarnya, ini lebih mirip sebuah pertanyaan.
Lantas pemudi itu menyingit, sedikit memandang sengit dan netranya kian menyipit. "Tapi gue udah tau nama lo," jawabnya.