[13+] [Slice of life, fantasy, drama]
Katanya punya darah penyihir itu menyenangkan. Tapi kenapa aku merasa sangat kesepian?
Sampai akhirnya, nenek ku mengirimku ke masa dimana dia masih duduk di bangku SMA. Dengan kata lain, perjalanan hidupk...
"Bang, gila pacar lo cakep banget" ucap Rei memecahkan lamunan Dion.
"Ha? Pacar? Siapa?" tanya Dion yang tak mengerti apa yang di ucapkan Rei barusan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Nih, gue lihat dia keluar dari jendela kamar lo. Airin kan namanya?" terang Rei seraya menunjukkan foto yang berhasil dia dapat kala itu.
"Sorry, gue gak kenal" tolak Dion mentah.
"Lah trus siapa dong?"
"Mana gue tau. Tanya saja sendiri"
"Katanya pendatang baru, tapi dia gak cerita asalnya darimana." terang Rei seolah mengerti.
"Emang lo tau darimana?" tanya Rei penasaran.
"Kemarin gue sempet anterin dia ke Toko Sihir. Kayaknya dia masih punya hubungan darah sama Rui" ternagnya lagi.
"Udah bahasnya? Gue mau kerja dulu." kata Dion mengakhiri percakapannya dengan Rei.
Dion dan Rei bekerja di tempat yang sama. Mereka masih memiliki hubungan darah. Ayah Rei adalah pemilik restoran ini dan Rei bekerja disini atas kemauan Ayahnya agar dia tidak jadi anak manja. Sedangkan Ibu Dion adalah adik dari ayahnya Rei. Dion bekerja paruh waktu di restoran ini membantu Ibunya karena ayah Dion sudah lama meninggal. Dion dan Rei selisih satu tahun lebih tua Dion. Dion duduk di kelas 11 sedangkan Rei masih kelas 10.
••
Hari ini aku pergi ke dermaga bersama Tante Renata. Kami menjemput Rui yang pulang dari perjalanannya mempelajari ilmu sihir.
Aku melihat sesosok wanita enerjik turun dari Kapal.
"Mama, Rui pulang" kata wanita itu sembari memeluk tante Renata.
"Nenek" ucapku senang.
"O, jadi kamu cucuku. Aku tidak percaya, kalau aku akan menjadi penyihir yang hebat di masa depan. Penyihir yang bisa mengirimmu kesini" ucap Rui senang seraya memelukku.
"Nenek cantik"
"Jangan panggil aku nenek Airin. Panggil aku Rui. Ok"
"Iya, Rui"
••
"Ayah, bagaimana kalau Airin sekolah dengan ku juga." usul Rui ketika seluruh keluarga sedang berkumpul. Dimana ada aku, Om Herman, Tante Renata dan nenek Viona.
"Aku juga berfikir demikian. Bagaimana dengan Airin sendiri?" tanya Om Herman padaku.
"Iya Om. Airin mau" ucapku.
"Baiklah, Tolong urus semuanya ya Renata."
"Iya sayang" jawab Renata.
"Jadi, biar gak ada yang curiga, Airin pura-pura jadi sepupu Rui ya." ucap Rui padaku.
"Tentu"
••
Memang sekolahnya sama dengan sekolah Airin dari asalnya. Hanya zamannya aja yang berbeda.
"Ternyata Nenek juga bersekolah disini?"
"Santai aja kali Rin. Anggap aja ague itu temen lo. Kan kita disini sepupuan."
"Iya iya"
Seperti anak baru biasanya, aku memperkenalkan diriku. Semua menerimaku dengan hangat. Memperlakukanku layaknya manusia yang normal. Bukan seorang penyihir. Memang tidak semua orang dilahirkan sebagai seorang penyihir, hanya mereka yang beruntung yang memiliki keturunan darah penyihir. Tapi aku merasa tidak beruntung. Gara-gara sihir duniaku sama sekali tidak memiliki warna.
"teman-teman! Karena gue baru pulang dari luar kota buat mempelajari ilmu sihir, gue mau nunjukin sihir baru gue ke kalian." teriak Rui menghebohkan seluruh kelas.
"Gue gak mau ya kalau lo ngehancurin kelas kita lagi" kata salah seorang siswa lain.
"Gue mau ngajak kalian jalan-jalan." terang Rui percaya diri. Masa muda nenek memang luar biasa. Aku baru mengerti kalau nenek punya semangat 45 seperti ini.
"Paris!"
"Gue kabulin"
Rui mengeluarkan beberapa foto. Dimana yang diambil adalah foto menara Eiffel yang berada di Paris.
"Nah, Airin bantu gue ya. Lo pegangin foto itu. Gue akan merapalkan mantranya." perintah Rui padaku.
"Baiklah" jawabku.
Disamping itu, foto-foto yang lain nya jatuh berserakan di lantai. Tanpa ku sadari aku menginjak salah satu foto tersebut.
Blarr
Seketika kelas ini berubah menjadi Paris. Sihir Rui mengeluarkan dunia yang ada di Foto tersebut ke dunia nyata. Seolah kita memang berada di Paris sungguhan.
Semua menikmati indahnya Kota Paris. Tiba-tiba, ditengah keramaian ada kereta besar yang lewat begitu saja. Itu membuat sihir Rui tak terkendali dan kembali seperti semula dengam suasan kelas yang agak kacau.
"Apa yang terjadi?" tanyaku heran.
"Ada sihir lain yang lebih kuat dari sihirku Airin"
"Rui memang penyihir amatiran!" teriak salah seorang siswa lain.
"Siapa yang memiliki sihir sekuat ini?" Batin Rui.