Muhammad Farhat (1)

12 6 1
                                        

13.09 a.m
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullah
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullah

Disini, tempat dimana aku selalu menonjolkan sifat manjaku, sifat lemah tak berdaya, sifat yang orang bahkan tak tau bahwa aku mempunyai sifat itu. Tempat ini selalu menjadi pilihan terbaikku saat aku merasa sedih, merasa bahagia, dan merasa hampa, aku selalu puas mengadu kepada sang Penguasa alam tentang bagaimana hariku, tentang caraku bersikap, juga caraku memandang.

Setelah aku meluapkan semua emosiku dengan mengadu kepada-Nya, aku bangun dari duduk dan menuju bibir pintu masjid, memakai sandal sederhana dan mengambil langkah jalan pulang.

"Mas, Mas Farhat!" Suara panggilan membuatku menunda langkah pulangku, aku mencari sosok tersangka. Tatapanku menuju ke tengah lapangan hijau berdiri sosok pria yang memakai baju kaos bola sambil melambaikan tangan.

"Gabung yuk mas" lanjutnya lagi sambil berlari kecil mendekat kearahku.

"Hm sibuk nii" tolak ku.

"Ahh sebentar saja mas" kerasnya.

"Baik, sebelum ashar aku balik, walaupun kalian belum siap" tegasku.

"Hahaha baik mas, santai aja" gelaknya.

Kami berjalan menuju lapangan berbarengan, aku meminjam pakaian Ali, si tersangka dan juga teman kampus ku.

Sudah lama aku tidak meluangkan waktu untuk bermain seperti ini, menendang bola, mengejar bola, tertawa karna tingkah konyol diri sendiri dan teman-teman ku. Aku terlalu sibuk dengan skripsi yang tak kunjung usai.

"Yah, Mas Farhat melamun nih" tegur Ammar teman satu kelompok ku dalam permainan bola ini.

Tanpa ku sadari aku termenung di pinggir lapangan, membuat operan bola dari Ammar menjadi sia-sia.

"Ahh maaf, maaf Mar, biar aku aja deh yang ambil" aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal, aku berlari ke arah bola yang terus menggelinding ke seorang gadis yang berdiri di dekat pohon besar dipinggir lapangan.

"Maaf maaf" langsung ku lontarkan kata ajaib penenang ketika aku melihat bola itu dengan seenaknya menegur sang gadis yang terlihat tak mood itu.

"Kamu gapapa?" Tanyaku memastikan.

"Gapapa" jawab gadis itu pelan sambil mengambil bola yang berada tepat di kakinya dan memberikannya kepadaku.

"Hm yaudah, sekali lagi maaf ya... dan makasih" aku memutuskan kembali ke teman-temanku agar mereka tak tambah protes dengan tingkahku, walaupun aku merasa kurang enak meninggalkannya karna sepertinya gadis itu sedang merasa kesal bercampur sedih.

Ketika aku sudah kembali dalam permainan, aku menoleh lagi ke pohon besar itu penasaran dengan si gadis yang tadi ku temui, ternyata dia sudah tidak ada lagi disana.

Mungkin dia merasa terganggu. Batinku

Aku melirik ke arah jam hitam yang melingkar dipergelangan tanganku.

"Aah sudah mau ashar, aku balik yaa" izinku saat semua pemain sudah tepar, terduduk diatas rumput hijau dilapangan.

"Mas buru-buru amat sih" protes Ali.

"Deadline" singkatku.

"Deadline" ulang mereka kompak dengan nada mengejek.

Aku hanya cengir sambil berjalan menjauh lapangan, melanjutkan langkah pulang yang sempat tertunda tadi.

———

Setibanya dirumah, aku langsung membersihkan tubuhku dan bersiap untuk kembali mengadu kepada sang penguasa alam. Aku berdiri diatas bentangan sajadah merah gelap bersiap untuk shalat.

Buk!

Suara bantingan pintu membuatku terpaksa menghentikan niat shalatku. Berdiri seorang pria gagah dengan pakaian yang lusuh di bibir pintu kamarku.

"Loe ada masalah apa sama gue, hah?!" Suara tinggi menguasai ruangan kamarku. Yusri, Abangku.

Yusri, Abangku. Dirumah yang cukup luas ini, aku tinggal dengan seorang Abang yang selalu berbeda pendapat denganku, kami selalu beradu pendapat dalam masalah kecil sampai masalah besar. Sulit bagi kami untuk menyatukan pikiran kami yang jelas berbeda, layaknya bumi dan langit yang tak akan bisa bersatu.

"Kenapa sih loe gak bisa biarin gue dapat apa yang gue mau?! Kenapa loe selalu ikut campur di setiap urusan gue?! Emang loe siapa, hah?!" Sambungnya lagi.

Tubuhku terdiam kaku, tak mengerti maksud dari bang Yusri yang terus mengeluarkan kata yang tak dapat ku mengerti.

Bersambung...

—————
Kira-kira ada masalah apa ya bang Yusri sampai segitu marahnya dengan Farhat?
Apa yang dilakukan Farhat?

Terus baca cerita Pick Up Happiness untuk menegetahui jawabannya yaa ><

Update: every Sunday

Sausan butuh kritik dan saran readers ni, bisa comment apa yang kurang atau ada opini yang membangun yaa ><

-sausan-

Pick Up HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang