14.30
"Siapa pemberani yang berani menunjukkan bakatnya hari ini?" Pria itu berdiri bersama beberapa alat musik-yang sebenarnya juga enggan mendampinginya-menunggu mahasiswanya bangkit untuk menjemput rasa bangganya.
Setelah beberapa saat, tak ada yang bangkit dari nyamannya kursi penonton, membuatku mau tak mau bangkit agar sang dosen tak membuat hukuman ngaco karna membuatnya kecewa.
Aku maju di tengah-tengah mahasiswa yang menatap dengan lega karna sudah ada tumbal untuk membubungkam hukuman pak Udin-dosen yang tak akan keluar dari kelas sebelum ada korban.
"Saya kira kalian akan mengecewakan saya, padahal saya sudah menyiapkan tugas lain jika tak ada yang maju ke depan" pak Udin menatap senang saat aku sudah berdiri disampingnya.
"Kamu mau nampilin apa?" Tanya pak Udin senang.
"Nyanyi saja pak" jawabku.
"Jika begitu anak burungpun bisa" terdengar nada remeh dalam kalimat itu.
"Jadi pak?" Tanyaku.
"Kamu nyuruh saya yang mikir?"
"Hahaha" ruangan riuh dengan suara gelak tawa dari mahasiswa.
"Hmm, saya mau main gitar sambil nyanyi aja pak" jawabku setelah melihat gitar dibelakang pak Udin.
"Bagus kalau begitu, silahkan" kata pak Udin, setelah itu ia memeberikan kesempatan kepadaku untuk menguasai kelas sejenak.
Jari-jari ku mulai memetik senar gitar sambil mengingat not nadanya, jujur saja aku juga tak begitu ahli dalam bermain alat musik, satu-satunya alat musik yang lumayan aku ahli hanya gitar, dulu papahku sering bermain gitar sambil berkomat-kamit menjelaskan kepadaku, tetap saja hasilnya nihil, karna aku tak begitu peduli saat itu.
Cukup menyesal.
Alunan nada gitar memenuhi ruangan yang sepi, mulut para mahasiswa terbungkam, namun hatinya sedang mendoakanku agar aku selamat dari keusilan pak Udin.
Aku mulai larut dalam alunan musik bersamaan dengan emosiku layaknya bayangku yang terus mengikuti.
denting piano
kala -jemari menari
nada merambat pelan
di kesunyian malam
saat datang rintik hujan
bersama setiap bayang
yang pernah terlupakan
hati kecil berbisik
untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda
seribu sesal di depan mata
seperti menjelma
saat aku tertawa
kala memberimu dosa
ooo...maafkanlah
ooo...maafkanlah
reff: rasa sesal di dasar hati
diam tak mau pergi
haruskah aku lari dari
kenyataan ini
pernah kumencoba tuk sembunyi
namun senyummu
tetap mengikuti.
Layaknya matahari yang sering mengalah dengan awan disiang hari, emosikupun terus berusaha menguasai diriku. Ingin ku ikuti bisikannya hingga aku puas, namun, aku tak ingin penyesalan kembali mampir dalam hidupku.
"Bagus sekali, hannah" pak Udin menghampiri sambil bertepuk tangan, diikuti para mahasiswa yang puas dengan penampilanku.
"Terima kasih pak" aku tersenyum sambil bangkit dari tempat duduk ku, tentu saja aku tak sabar untuk pergi dari ruangan kelas ini.
"Tapi kamu masih ada sedikit kekurangan pada petikan gitarnya, jadi kamu tetap harus rajin berlatih sama bapak, agar kamu bisa sehebat bapak" kata pak Udin sambil menepuk pundak ku beberapa kali.
Mendengar kalimat pak Udin, membuat mahasiswa membalasnya dengan tatapan sinis dan tentu saja mahasiswa sudah menebak pak Udin akan berkata seperti itu.
Merasa diri paling hebat dan benar adalah bagian dari hidup pak Udin, tak ada nilai AB dalam kelas pak Udin-apalagi nilai A.
Pak Udin adalah salah satu dosen di kampusku yang mengajari kelas musik, kelas ini hanya kelas tambahan bagi mahasiswa yang tak ingin mengambil kelas sastra.
Bersambung...
—————
Update: every Sunday
Sausan butuh kritik dan saran readers ni, bisa comment apa yang kurang atau ada opini yang membangun yaa ><
Jangan lupa tap ⭐️ kalau kalian menyukai cerita ini, dan share ke teman-teman kalian yaaa 🥰
-sausan-
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Up Happiness
Non-FictionBukan kita yang tak bisa disatukan karena perbedaan yang kita miliki, namun kamu yang tak ingin berjuang untuk mempersatukan. Sesulit itukah? Jangan banyak tingkah. Tanyakan pada hatimu, Apakah kau sedang memperjuangkannya atau kau sedang membu...
