Ting Tong!
Bel pintu rumah berbunyi menandakan ada tamu yang hendak berkunjung, mengalihkan perhatianku.
"Biar Hannah aja yang buka" aku bangun dari kursi penonton dan berjalan cepat kearah pintu depan. Dengan sigap aku membuka pintu dan melihat seorang pria yang tentu saja aku kenali berdiri di ambang pintu.
"Hannah" panggilnya lembut.
"Kenapa? Kenapa kau kesini lagi" getirku, melihat sosok pria ini lagi, membuatku kembali muak dan emosi yang baru saja pulang kembali datang dengan cepat seperti ada tombol otomatis dalam diriku.
"Biarkan aku menjelaskan semuanya" mohonnya.
"Untuk apa?" Tatapanku beralih ke bola matanya yang coklat terang berusaha mencari sebuah jawaban.
"Kamu salah paham, aku.."
"Tidak masalah, aku tidak salah paham, tak ada yang perlu dijelaskan lagi, kalau memang kalian sudah merasa cocok dan ingin berkomitmen, ya sudah, lanjutkan saja" potongku sambil melipat tangan didepan dada.
"Kita bagaimana?" Nada polos meluncur bebas, membuatku semakin geram.
"Hah? Kamu masih mikirin hubungan kita? Kenapa baru sekarang kamu mikir tentang hubungan kita? Sudah terlambat!" Nada suaraku semakin tinggi seiringan dengan emosiku.
"Hannah, aku khilaf"
"Sudah malam, kamu harus pulang" mataku sudah membendung air mata, tanganku tergenggam erat, dan keningku berkeringat dingin.
- - -
Sudah ku rancang dengan matang,
Sudah ku ukur dengan tepat,
Namun, tetap saja tak seperti yang diharapkan.
Sesulit inikah menjahit hubungan dengan sempurna?
Aku berbaring diatas kasur empuk di kamarku. Mataku menatap kosong ke langit-langit kamar, menatap kelap-kelip bintang yang sengaja di taruh di langit kamarku sebagai hiasan.
Indah, namun sulit digapai.
Pria itu bernama Zulfan, seorang pria yang membuatku mengenal akan hubungan cinta yang selalu membuat orang tersenyum mengingatnya, membuat rasa dingin berubah menjadi hangat, namun kisah cintaku tak seindah kisah omongan orang. Zulfan memilih untuk berselingkuh, akupun tak tau alasannya. Tentu saja aku ingin menanyakannya, namun aku takut aku tak siap untuk mendengar sederet kalimat yang akan menusukku dengan tepat sasaran.
Perlahan mataku mulai terpejam, menutup semua prasangka yang terus bertanding untuk menemukan kemungkinan yang paling sesuai.
- - -
18 Agustus 2000
15.02 a.m
Zulfan❤️
Maaf ya hannah, tiba-tiba aku harus rapat buat acara pelantikan himpunan.
Aku terus memandangi tulisan yang tertera di layar handphone ku. Zulfan membatalkan acara makan malam untuk merayakan ulang tahun ku yang ke-18. Belakangan ini Zulfan terus saja membatalkan janji pertemuan kami dengan alasan yang kadang tak ku memgerti, membuatku terus saja mengeluarkan prasangka yang buruk terhadapnya.
Aku bangkit dari meja rias ku, melepaskan gaun berwarna baby pink yang terkesan feminine, menggantinya dengan pakaian casual, Menghapus makeup ku yang tipis, aku memutuskan untuk pergi ke tempat buku untuk mengalihkan perhatianku dari prasangka buruk yang ada. Entah apa yang merasuki ku, aku merasa ada yang janggal dengan sikap Zulfan belakangan ini.
Aku berjalan di trotoar dengan keramaian orang yang tak kenal waktu, toko buku yang biasanya aku datangi memang tak jauh dari rumahku, sehingga aku berani mengunjungi toko itu kapan aja. Aku terus saja menyebarkan pandangan ku ke sekeliling sudut jalan. Mataku terhenti ke satu cafe yang memiliki jendela besar menghadap ke jalan raya.
"Zulfan? Dan ituu?.." tanyaku pada diri sendiri.
Langkahku otomatis melangkah masuk ke dalam cafe itu, tentu saja saat ini aku sedang berusaha keras menghentikan pikiran burukku yang sedang merajalela.
Tepat dibelakang kursi Zulfan langkahku terhenti saat mata wanita itu menangkap basah diriku, aku melemparkan senyuman bulan sabitku kearahnya.
"Sayang, mau sampai kapan kamu bersabar terhadap Hannah?" Wanita itu tak memperdulikan aku dan malah mengganti arah tatapannya ke Zulfan yang duduk tepat di depannya.
"Sebenarnya aku sudah tak sayang lagi padanya, dan sepertinya perasaanku padanya berubah jadi rasa kasihan yang besar, kamu tau sendiri seperti apa dia" jawaban Zulfan sukses membuatku berubah menjadi gunung api aktif yang siap meledak.
"Sudah jelas bukan?" Kini tatapan wanita itu beralih padaku, membuat Zulfan mengikuti arah pandangan wanita itu dan menemukanku berdiri kaku dibelakangnya.
Sulit untuk berdiri tegak dan tetap pada sikap rasional untuk keadaan yang seperti ini. Aku memutuskan berlari menjauh dari tempat itu.
"Hannah" panggilan Zulfan kali ini tentu saja gagal menghentikan langkah ku.
Bersambung...
—————
Siapa wanita yang bersama Zulfan ya?
Terus baca cerita Pick Up Happiness untuk menegetahui jawabannya yaa ><
Update: every Sunday
Sausan butuh kritik dan saran readers ni, bisa comment apa yang kurang atau ada opini yang membangun yaa ><
-sausan-
KAMU SEDANG MEMBACA
Pick Up Happiness
NonfiksiBukan kita yang tak bisa disatukan karena perbedaan yang kita miliki, namun kamu yang tak ingin berjuang untuk mempersatukan. Sesulit itukah? Jangan banyak tingkah. Tanyakan pada hatimu, Apakah kau sedang memperjuangkannya atau kau sedang membu...
