Setelah malam demi malam kamu menahan perih akibat peninggalanku, kamu tetap saja ada di sampingku. Mungkin karena itulah aku tidak bisa jauh darimu meskipun pada kenyataannya ada hati yang harus aku jaga.
Tapi, dengan kejamnya aku malah menjadikanmu seperti buku diary yang selalu aku isi hanya dengan keluh kesahku tanpa sedikitpun aku tanyakan bagaimana perasaanmu.
Kejam memang. Sangat kejam. Tapi bolehkah hari ini aku jujur tentang perasaanku padamu? Sebelumnya aku tidak pernah berani. Namun usahamu menyediakan pundak di saat aku butuh sandaran membuatku sadar bahwa kamulah seseorang yang harusnya aku perjuangkan.
Di tengah malam yang sepi menuju pagi hari, justru kamu menyatakan perasaanmu. Ah sial, aku kalah dalam hal menyatakan.
Ku kira semuanya adalah awal baik untuk memperbaiki. Aku sudah siap melepaskan seseorang yang kini bersamaku. Demi kamu. Demi mengulang semuanya bersamamu. Ternyata, inilah suatu perpisahan. Jika kamu akan pergi, mengapa harus membuat aku menaruh hati kembali? Jika kamu akan menghilang mengapa kamu harus berkata sayang. Untuk apa?
Sebelum akhirnya kisah kita benar-benar berhenti sampai di sini. Biarkan aku menatapmu sekali lagi.
Aku sadar bahwa aku sangat mencintaimu. Tapi tidak ada yang perlu di sesali. Bahagia ataupun sedih aku bersyukur telah berdiri di atas keputusanku sendiri, meskipun pada akhirnya aku harus kehilanganmu.
Semoga kamu bahagia, dengan dia sang ratu hati yang baru.
semoga kalian suka ya❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Coretan Tanpa Tinta
RomanceSebuah coretan semata dari seorang wanita sederhana dengan cinta yang sangat luar biasa untuk laki-laki paling istimewa🍃
