Rencana untuk ajak taehyung berangkat bareng gagal total.
Kemarin setelah antar taehyung pulang, mobil jimin macet. Jimin jarang pakai mobil dan suka lupa untuk service mobilnya. Tunggu temannya hampir satu jam untuk jemput dia, mobilnya emang sialan, saat macet lokasi jimin sudah jauh dari kediaman taehyung. Bodohnya, lupa bawa jaket, jimin sebenarnya lemah sama cuaca dingin, cuman gitu dirinya ngeyel dan tetep lebih pilih naik motor.
Sekarang cuman bisa tergeletak lemah di atas kasurnya. Hela nafas setelah kabari taehyung kalau dirinya tak bisa ajak taehyung berangkat bareng. Iya, jimin sakit. Setelah semalam diomeli oleh mamanya, mood jimin makin buruk setelah sadar rencananya dengan taehyung jadi gagal.
Jimin ambil kata-katanya, mood nya tidak jadi buruk setelah dapat balasan dari taehyung berupa ucapan lekas sembuh dan soal taehyung yang akan menjenguknya setelah pulang sekolah. Jimin tersenyum lebar, tak sabar menanti taehyung untuk datang.
Berbeda dengan taehyung yang sekali lagi di rooftop sekolah, tempat favoritnya.
Taehyung cukup semangat untuk kesekolah sebelum jimin memberinya kabar tak bisa mengantarnya karena tubuhnya sedang tidak fit. Khawatir sebenarnya, taehyung pikir jimin sakit mungkin juga karenanya. Oleh karena itu, ia berniat untuk menjenguknya.
.
.
.
Taehyung benci sekolah, dipikir lagi hampir semua beban yang dialami taehyung disebabkan karena sekolah. Berada didekat jimin membuat taehyung lupa sejenak akan masalah yang dia alami. Dan sekarang jimin tak disini, taehyung seperti ditampar oleh realita sesaat setelah lian menghampirinya dan menyeretnya.
Taehyung benci semua tentang sekolah entah sudah berapa kali ia mengatakan hal tersebut. Pelajaranya, gurunya, temanya, semuanya menyebalkan. Tapi dibandingkan semuanya, taehyung lebih benci dirinya sendiri. Jimin benar soal taehyung pecundang, ia direndahkan dan dihina tapi taehyung tak bisa melawan atau berusaha untuk mengubah semua itu. Taehyung menyerah, entah apa yang akan lian dan antek-anteknya lakukan padanya. Ia sudah tidak peduli.
Taehyung pulang dengan keadaan berantakan, tubuhnya sakit. Dari apa yang telah dilakukan lian dan teman-temanya selama ini, menurutnya ini adalah yang terparah. Kabar baik orang yang membenci taehyung kini makin banyak. Hahahaha. Taehyung memang pantas dibenci.
Berita tentang jimin yang dekat dengan taehyung menyebar. Taehyung sudah pernah bilang kan, jimin itu famous banyak perempuan maupun laki-laki yang ingin bersamanya. Dan jelas banyak yang iri dengan taehyung. Bukan, bukan lian yang tadi membully nya, tapi kumpulan para perempuan yang rela berebut demi jimin. Tak heran sih, jimin memang tampan.
Taehyung memutuskan untuk pulang dulu, ia tidak akan menjenguk jimin dengan keadaan seperti ini. Wajahnya untung baik-baik saja. Hanya tubuhnya saja yang memar-memar, setidaknya taehyung dapat menutupnya. Ia awalnya ingin membatalkan niat untuk menjenguk jimin bahkan sempat berpikir untuk menjauhi jimin, tapi dipikir lagi, jimin sumber kebahagianya sekarang, dengan menjauhi jimin, toh tidak akan membuat kekerasan yang diterima taehyung selama ini berhenti.
Taehyung segera bergegas mengganti pakaian lebih santai, sweater yang dipadukan dengan celana jeans sudah cukup untuk membuat taehyung menawan.
.
.
.
.
.
Taehyung sudah membunyikan bell apartemen jimin sekitar lima kali tapi tetap tidak ada sahutan. Apa mungkin jimin sedang tidur? Taehyung takut menggangu jimin. Baru saja dia akan beranjak pergi, pintu apartemen jimin sudah terbuka. Terlihat wanita cantik keluar. Taehyung cukup kaget ia pikir ia salah menekan bell apartemen orang lain, tapi tidak kok ia benar. Apa mungkin wanita ini pacar jimin?
" eh, siapa? Maaf saya sedang didapur sehingga tidak mendengar suara bell" sapaan pertama wanita itu dibarengi senyum yang terpatri diwajahnya. Taehyung terpesona, wanita didepanya terlihat sangat anggun dan senyuman nya benar-benar mengingatkan taehyung pada jimin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Namby- pamby (MinV)
FanfictionI said I'd catch you if you fall And if they laugh, then fuck 'em all Minv bxb
