-Pict: Fania Kalista Amalia
Hari ini adalah hari yang cerah, terdengar suara indah burung berkicauan, tak lupa udara yang cukup segar menandakan pagi hari di akhir pekan
"Kakak katanya mau lari pagi tapi malah tidur," teriak Anissa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Fania, "Kakak ohh ayolah, keburu siang ini," lanjutnya dan pergi
Fania membuka matanya dan melihat adiknya yang sedang di kamarnya membawa ember kecil dari kamar mandi, "Yaampun Anissa, kamu bawa ember buat apa? Huaaa," ucap Fania meregangkan tubuhnya
Anissa menatap kakaknya dari kejauhan, "Rasakan ini HAHAHA," Anissa membasahi tubuh Fania dengan air dari ember yang ia bawa, "Katanya mau jogging tapi malah tidur mulu," teriak Anissa
Fania memandang seluruh tubuhnya yang sudah basah kuyup, "Ohh yaampun, ANISSA!," teriak Fania dan menatap Anisaa, "Ayolah Kak, kutunggu dibawah yaa, byee," ucap Anissa takut dimarahi dan secepat kilat keluar dari kamar kakaknya
"Oh my god, Mami lihatlah kelakuan anakmu yang bungsu ini," ucap Fania membersihkan semuanya, "Aku rindu Mami," lanjut Fania dan menahan semua rasa rindu itu, semua selesai, Fania pergi ke kamar mandi
15 menit sudah, ia sedang memakai lip ice karena ia tak mau terlihat bibirnya terlalu kering, ia memakai jaket berwarna putih garis-garis dan memakai hadset di telinganya, ia menuju ke bawah
Anissa yang sedang memainkan handphonenya dan bernyanyi lagu Kpop kesukaannya melongo saat melihat kakaknya yang sedikit berpenampilan berbeda, "Kau kakak ku kan? Ada apa dengan penampilanmu? Tapi itu nampak tak terlalu buruk untukmu," ucap Anissa meledek Fania, tapi Fania tidak mengubris kata-katanya
"Kau akan terus memujiku atau jongging?," tanya Fania jutek, "Yaa jogging lah, untuk apa terus memujimu, itu tidak ada gunanya bagiku haha," ledek Anissa lagi, "Dasar menyebalkan," ucap Fania dan langsung jogging menuju taman, dan diikuti Anissa
"Lihatlah itu kak, kesana yuk, aku ingin berfoto dengan patung itu," ucap Anissa menunjuk patung yang terlihat sangat elegant namun indah, "Oh baiklah," jawab Fania dan berlari menyusul adiknya, namun...
Brukk
"Aww," Fania meringis kesakitan pada kakinya, "Nona tidak apa-apa? Apa ada yang sakit, oh my god maafkan saya," ucap Pria yang menabraknya
"Tidak apa-apa, kakiku hanya sedikit terkilir mungkin," ucap Fania memegang kakinya, pria itu mengangkat tubuh Fania ke kursi di taman itu, "Aaaa, apa-apaan kamu ini! Turunkan aku," ucap Fania berteriak ingin diturunkan
Pria itu mendudukan Fania di kursi taman, lalu membuka sepatu yang Fania pakai, ia memijat kaki Fania yang terkilir dan Fania merasa kesakitan, "Aww, jangan terlalu keras," ucap Fania sedikit meringis
"Bagaimana sekarang? Apa masih terasa sakit?," tanya pria tersebut menatap Fania, "Manis sekali kau ini," batin Pria itu memandang wajah Fania, Fania menatap pria tersebut, "Agak baikan, terimakasih," ucap Fania dan hendak berdiri
Fania terjatuh tak jauh dari kursi itu, dan pria tadi membantunya berdiri, "Yaampun, jika kamu tidak kuat berdiri, bicaralah padaku, aku akan membantumu," ucap pria itu merangkul pundak Fania dan membuat Fania malu, "Tidak usah terimakasih," ucap Fania jutek lalu melepaskan rangkulannya
"Kenapa dia sangat jutek?," batin pria tersebut, "Bahkan aku belum tahu namanya," lanjutnya dan mengejar Fania
"Heii, kau tak kuat berjalan, biarkan aku membantumu," teriak pria tersebut mengejar Fania, Fania melirik ke belakang, melihat pria itu seperti memanggilnya, "Eoh, ada apa dengan pria itu," ucap Fania pelan
"Biar ku antarkan kamu, kamu tak kuat berjalan, kakimu sangat terkilir," ucap pria itu kembali merangkul Fania, "Kamu bisa melihat gadis itu? Tolong antarkan aku padanya," ucap Fania menunjuk seseorang, "Dengan senang hati Nona," ucap pria tersebut tersenyum
Suasana hening saat merangkulnya, "Bolehkah kita berkenalan? Namaku Giovano Abraham," ucap pria itu memecah keheningan, "Boleh, namaku Fania Kalista Amalia," ucap Fania sambil berjalan
"Senang bertemu denganmu Fania," ucap Vano tersenyum, "Juga," balas Fania, suasana hening kembali hingga Vano memecahkan keheningan lagi, "Fania, kamu sekolah dimana?," tanya Vano sambil sesekali melirik Fania, "Di Smp Inha, kamu dimana Vano?," ucap Fania lalu bertanya balik, "Oh begitu ya, aku bersekolah di Smp High School, tapi rasanya aku ingin pindah ke Smp Inha," ucap Vano dan berfikir sejenak
Fania mencerna kata-kata Vano, High School adalah Sekolah terbaik sebelum Smp Inha, namun kenapa Vano ingin pindah ke Inha?, "Tapi kenapa kamu ingin pindah ke Inha?," tanya Fania bingung, "Karena ak," ucap Vano terpotong saat Anissa memanggil Fania dan mendekati Fania
"Yaampun, baru saja aku akan mengatakannya," batin Vano dan tersenyum melihat gadis yang dituju Fania telah datang, "Anissa kenalkan kakak ini namanya Kak Vano, dia membantu kakak saat tadi kaki kakak terkilir," ucap Fania pada adiknya yang sedari tadi terdiam
"Oh yaampun ini adikmu Fania? Lucu sekali, hai nama kakak Giovano Abraham, namamu siapa?," ucap Vano memperkenalkan diri pada Anissa, "Hai juga kakak Vano, namaku Anissa Davinia Tita," ucap Anissa tersenyum, "Kakak sangat tampan, kakak juga terlihat baik," goda Anissa yang membuat Fania dan Vano malu, "Ahh, bisa saja kamu Anissa," ucap Vano
"Kalo begitu kami lanjutkan joging kami dulu ya kak, terimakasih sudah membantu Kakakku yang jelek ini," ucap Anissa meledek Fania, "Baiklah, Kakakmu tidak jelek kok, dia cantik dan Manis," jawab Vano menggoda Fania, Fania hanya tersenyum sedikit malu, tak biasanya dia tersenyum, biasanya jutek dan dingin
"Aku ingin kakak ipar sepertimu," ucap Anissa yang membuat Fania berkata "Oh yaampun, kamu memang sangat menyebalkan Anissa," ucap Fania geram, Vano tertawa sedikit melihat Fania geram terhadap adiknya, "Kapan-kapan mampir ke rumahku kak, kami hanya tinggal berdua dan 3 orang pembantu," ucap Anissa
Vano berfikir sejenak, "Apakah Fania dan Anissa tidak mempunyai orang tua? Atau bagaimana?," batin Vano, "Ahh iya baiklah, dengan senang hati Kakak akan sering ke rumahmu Anissa," ucap Vano tersenyum
"Kita pergi dulu ya, terimakasih tadi telah menolongku, dan maafkan perlakuan adikku yang menyebalkan ini," ucap Fania pada Vano, "Tidak usah berterimakasih, tadi kan aku yang menabrakmu, jika berani berbuat harus berani juga bertanggung jawab," ucap Vano tegas, "Baguslah" ucap Fania, "Jangan bosan bertemu denganku, karena kemungkinan besar aku akan bertemu denganmu setiap hari," ucap Vano pada Fania, Anissa hanya terdiam mendengar Kakaknya dan Vano, "Terserah kamu saja, bye ucap Fania lalu pergi, "Dadah kak Vano," ucap Anissa sambil melambaikan tangannya dan dibalas oleh Vano
VANO POV
"Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa Fania selalu ada dalam fikiranku? Ada apa ini, tidak biasanya aku memikirkan seorang perempuan," ucapku saat melihat punggung Fania dan Anissa sudah menjauh
"Pokoknya aku harus bilang pada papa, agar aku pindah ke Smp Inha, tempatnya bersekolah. Keputusanku sudah bulat," ucapku dan pergi dari taman
VANO POV END
Fania dan Anissa berjonging kembali, tapi Fania banyak duduk karena ia masih sedikit merasakan sakit pada kakinya, ia memikirkan hal yang tadi ia alami bersama Vano, sesekali ia tersenyum sendiri, Anissa yang sedari tadi mengajak kakaknya mengobrol, Anissa berhenti saat kakaknya tidak menjawab kata-katanya dan menatap kakaknya
"Oh my god, Kakak Faniakuuu, kau sedang memikirkan kak Vano ya?!," ucap Anissa kesal, dan Fania menatap Anissa, "ahh apa Vano?," ucap Fania salah tak sadar dari lamunannya
"Sudah kuduga, Kak Vano yang ada difikiranmu sekarang ini kan," ucap Anissa, "Akupun menyukainya," goda Anissa pada kakaknya, "Menyebalkan," ucap Fania ketus
"Haha lucunya kakakku, aku baru melihat kakakku menyukai seseorang sampai tersenyum sendiri seperti ini," ucap Anissa dan melanjutkan joggingnya, "Ada apa denganku," ucap Fania pada dirinya
=============
-Nadya Amalia F.

KAMU SEDANG MEMBACA
Musuh Jadi Cinta.
Teen FictionMusuh? udah biasa, tapi ini gak biasa. -ANISSA DAVINIA TITA(tokoh utama) -FEBRIAN ADIRA PRATAMA -ZIA ANGELIA ANATASHA -ZIEN ALDRIK WILIAM'S -FANIA KALISTA AMALIA -GIOVANO ABRAHAM -CLARA AMELIA -RENALD PRASETYA