3.Marah

32 7 0
                                    

-Pict: Giovano Abraham

"Ehh Zien mana ya?," ucap Fania mencari Zien ke kanan ke kiri, "...Vano," ucap Fania saat melihat Zien menghampirinya bersama Vano

"Kakak," ucap Rian. Fania, Anissa dan Zien menatap Rian dan Vano dengan tatapan tidak mengerti

Vano tersenyum kepada Fania, "Emm, Fania apa aku boleh ikut bersamamu ke kantin?," ucap Vano pada Fania

"Boleh Vano, ayo kita ke kantin bersama," jawab Fania sambil tersenyum pada Vano. Zien, Anissa hanya diam, sementara Zien tersenyum senang jika mereka sudah saling mengenal, mereka semua pergi menuju kantin

"Kalian mau pesan apa?," tanya Vano pada Fania, Anissa, Rian, Zien saat mereka duduk di satu meja dan lima kursi

"Tidak usah, aku pesan sendiri aja Vano," ucap Fania dan hendak berdiri

"Biarin sama aku aja kak Fani," ucap Anissa menahan Fania

"Tidak Anissa, biar Rian aja," ucap Rian menahan Anissa

"Apaan sih! Megang-megang tangan Anissa," ucap Anissa pada Rian

Zien dan Vano hanya terdiam melihat itu semua, "Hahaha kalo begitu kalian semua pergi pesan makanannya aja," tawa Zien pecah saat Anissa, Fania dan Rian berebut ingin memesan makanan

Fania, Anissa dan Rian menatap Zien dengan tatapan ingin memukulnya, "Biarin aku aja yang pesan, kalian mau apa?," tanya Vano dan semua melirik padanya

"Umm baiklah, samain aja sama Vano," ucap Fania, "Aku juga kak," ucap Anissa, "Aku juga samain sama kakak aja," ucap Rian, "Ngikut ajalah, samain Van," ucap Zien pasrah

Vano mengangguk dan tertawa sedikit karena kata-kata Zien tadi, "Ohh oke kalo gitu, haha," ucap Vano lalu pergi

Hening. "Rian, kok kamu manggil kakak sih ke Vano?," tanya Fania membuka suara di keheningan

"Emm, sebenarnya kak Vano itu kakak aku," ucap Rian pada Fania, Zien dan Anissa mendengarkan saja

"Ohh kamu adiknya Vano ya, tapi kok kalian beda sihh hehe," ucap Fania pada Rian

"Karena kak Vano dan aku kakak dan adik jauh, kami berbeda Ibu," ucap Rian pada kakaknya Anissa

"Tenang aja Anissa, kamu dan aku masih bisa bersama kok," ucap Rian menatap Anissa, membuat Anissa mendengus kesal

"Hemehh, jangan memanggil namaku di mulutmu!," ucap Anissa pada Rian yang sedari tadi menatapnya

"Vano lama amat dah," ucap Zien karena perutnya sudah keroncongan lapar

"Memang kenapa jika aku memanggil namamu? Anissa my dear," ucap Rian menggoda Anissa, Fania dan Zien hanya tertawa kecil

"Nanti juga sampai kok Zien, yaampun Zien udah laper banget haha," ucap Fania pada Zien yang sedari tadi keroncongan

Vano kembali dengan tangan kosong, "Lahh, mana makanannya?," tanya Zien pada Vano

"Ini pesanannya," ucap seorang penjual di kantin tersebut, Kantin di Inha cukup besar dan makanannya pun tidak hanya seperti biasanya

Fania, Anissa, Zien hanya melongo melihat makanannya yang sangat banyak, "Kenapa hanya dilihat? Ayo kita makan," ucap Vano dan mengambil sendoknya dan Rian juga

"Vano, kamu memesannya terlalu banyak," ucap Fania pada Vano

"Iya kak ini kebanyakan, nanti kalo aku buncit gimana? Tapi terimakasih," tanya Anissa dan yang lain tertawa kecil

"Tidak apa Fania, aku pengen kamu gak sakit," ucap Vino pada Fania, "Haha ada-ada aja kamu Anissa," ucap Vano tertawa kecil

Zien sudah menyantapnya sedari tadi, Vano memesan Mie Spagetti (5), Bubur ayam (5), es green tea (5), ice cream 4 variasi (5), bakso jumbo (5), Batagor (5), Siomay (5), ice jelly taro (5)

Musuh Jadi Cinta.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang